Puasa Ramadan tahun ini terasa berat. Alih-alih sebatas menahan dahaga dan lapar, rakyat negeri ini kudu mengerem kemarahan atas polah serta kebijakan pemerintah yang menjengkelkan. Ditambah pula kudu menghadapi fenomena alam yang terus mengancam. Eksploitasi alam tanpa batas oleh pengusaha yang kawin-mawin dengan elite politik membuahkan bencana dasyat. Tengok saja, jutaan kayu hasil pembalakan ikut hanyut bersama banjir yang melumpuhkan daerah luar Jawa. Kini, banjir menjalar di wilayah Jawa akibat hujan menghebat.
Hutan digunduli demi keserakahan, imbasnya satwa yang berdiam dan beranak-pinak ikut tergusur. Di masa lalu, jika akan terjadi bencana alam, dapat dipastikan kawanan binatang itu menjadi kompas bagi warga sekitar untuk meningkatkan kewaspadaan. Meskipun bertubuh kecil, tapi kita berhutang budi dengan semut dan udang. Pasalnya, semut bergegas memindahkan seluruh telurnya dari sarang sebelum jagad cilik digoyang gempa. Demikian pula udang, merangkak ke tanah kering sebelum badai menggulung. Sementara itu, ubur-ubur menuju ke air yang dalam demi menyelamatkan diri dari amukan badai. Sebelum gunung berapi memuntahkan lahar, rombongan beruang menjauh dari lokasi. Begitu juga tatkala gempa menggetarkan tanah, sebelumnya sekawanan burung pegar berekor panjang “berdendang” seolah menyediakan sasmita (isyarat).
Fenomena unik ini sebetulnya tak hanya terjadi di Nusantara. Di Uzbekistan, misalnya, seorang perempuan dapat menyelamatkan hidupnya dari gempa besar tahun 1966 berkat anjingnya. Wanita tersebut ditarik oleh hewan piharaannya keluar pintu rumah sesaat sebelum bumi goncang. Dalam majalah Intisari, tersekam keterangan bahwa selama berbulan-bulan sebelum gempa bumi, kambing gunung bersama antelop di kebun binatang Taskent emoh masuk ke kandang. Harimau dan kucing besar lainnya memilih tidur di alam terbuka demi menyelamatkan diri dari bencana.
Tiada seekor beruang yang mati sewaktu gunung berapi Bezymyanny meletus dalam musim dingin 1955-1966. Sebab, satwa ini telah menyingkir dari tempat tersebut menuju ke lahan yang lebih tinggi dan aman. Padahal, mereka hidup di Djazirah Kamsjatka, yakni daerah yang paling banyak gunung api di dunia.
Dalam tradisi masyarakat Jawa klasik, persembahan sesaji ke pegunungan juga difungsikan untuk mengetahui kehidupan satwa yang berdiam di situ. Semata-mata sajen tidak dipersembahkan untuk “danyang”, namun dikonsumsi pula oleh makhluk hidup yang beranak-pinak di tempat tersebut. Maksudnya, manusia dianjurkan untuk berbagi dengan entitas lain demi menjaga keharmonisan. Tidak sedikit kera, ayam liar, dan binatang lainnya melahap persembahan yang sudah dirapalkan doakan itu. Apabila seongok sesaji masih utuh, justru menimbulkan kegelisahan. Berarti, satwa tidak lagi kerasan atau telah terjadi owah-owahan alam di daerah tersebut.
Banyak dijumpai pengisahan lama di pedesaan sisi selatan Jawa bahwa di malam hari harimau turun gunung menuju ke perkampungan dengan menyusuri aliran sungai sebagai tanda sedang terjadi kekeringan dan kelaparan (larang pangan). Tapak kaki harimau dilihat penduduk kala pagi di bibir sungai. Di mata wong ndesa, eksistensi harimau ini bukan menakuti, namun menjadi petunjuk berharga.
Di samping sebagai tetenger akan kehadiran bencana, hewan dipakai manusia untuk membaca perubahan musim. Teringat semasa kecil, simbah di telatah Wonogiri mengenalkan saya pada garengpung atau tonggeret. Ia “bernyanyi” di puncak pohon yang tinggi, tak ayal suaranya gandang dan merdu meninju langit. Garengpung di pohon kelapa atau randu seakan bercakap dengan masyarakat petani pedesaan bahwa musim hujan sudah habis ganti musim kemarau. Berkat petunjuk “nyanyian” hewan kecil ini, rakyat di desa bersiap diri memasuki pergantian musim. Aktivitas mereka akan berubah pula, misalnya sistem bercocok tanam. Jika mereka nekad menabrak panduan alamiah itu, berpotensi menelan kerugian dan kesia-siaan.
Pranata mangsa atau pengetahuan tentang iklim ala manusia Jawa sudah dibakukan oleh leluhur dengan bantuan isyarat dan tingkah hewan di sekitarnya. Sebagai contoh, mangsa kawoludigambarkan dengan ungkapan: anjrah jroning kayun (sesuatu sedang merebak di dalam kehendak). Manusia bakal mendapati kahanan sehari-hari hujan menerpa dan menyapu segala kekeringan yang melanda. Dalam kondisi tersebut, hujan yang turun menjadi cadangan air apabila jagad dilanda kekeringan di kemudian hari. Celakanya, persawahan, sungai, serta hutan yang digunakan untuk menabung air justru dirusak oleh tangan jahat. Ia ditanami beton dan dibabati untuk kepentingan cuan, sehingga hujan bersalin menjadi “moster” (banjir bandang).
Demikianlah, sejatinya satwa menjadi kompas alam bagi kita untuk menjauh serta waspada terhadap musibah dan perubahan alam. Ironisnya, binatang yang menjadi “dewa penolong” ini sekarang kian terusir dari habitat aslinya. Imbasnya, ulah manusia yang serakah ini malah memangsa dirinya sendiri.