Setiap kali Ramadhan tiba, ruang publik kita seolah berubah menjadi etalase kesalehan. Jadwal kajian berseliweran, konten dakwah memenuhi linimasa media sosial, dan simbol-simbol religius tampil mencolok di berbagai ruang kehidupan. Namun, di balik semarak itu, tersimpan ironi yang jarang dibicarakan: semakin padat ritual keagamaan, semakin banyak orang justru merasa lelah secara batin. Ramadhan kerap tidak hadir sebagai ruang jeda eksistensial untuk menata ulang makna hidup dan pemulihan batin, melainkan hanya menjadi tambahan agenda dalam rutinitas yang sejak awal sudah melelahkan.
Pertanyaannya, mengapa Ramadhan sebagai bulan yang dalam ajaran Islam dimaknai sebagai ruang penyucian diri dan pendalaman iman justru kerap dijalani dengan cara yang melahirkan keletihan spiritual, bukan ketenangan dan kejernihan batin? Jawabannya tidak terletak pada hilangnya agama dari kehidupan modern, melainkan pada cara keberagamaan itu sendiri dijalani dan dimaknai dalam keseharian.
Keletihan spiritual ini bukan berarti manusia modern kehilangan agama. Sebaliknya, agama justru hadir secara masif. Masalahnya terletak pada cara keberagamaan dijalani. Spiritualitas direduksi menjadi aktivitas, bukan pengalaman batin. Puasa menjadi rutinitas biologis, ibadah menjadi target kuantitatif, dan kesalehan berubah menjadi citra sosial. Dalam situasi ini, Ramadhan berisiko kehilangan daya transformatifnya.
Fenomena tersebut dapat dibaca melalui kritik Byung-Chul Han, dalam The Burnout Society (2015), sebagai “krisis kelelahan spiritual”, di mana individu merasa kehilangan makna karena terus menerus mengejar performa tanpa refleksi. Menurut Han, masyarakat prestasi berubah menjadi masyarakat kelelahan; kita bekerja bukan karena dipaksa tetapi karena tidak mampu berhenti (Bambang Saras Yulistiawan dkk., 2025: 454-455).
Logika inilah yang, ketika merembes ke dalam praktik puasa Ramadhan, berpotensi menggeser ibadah menjadi ajang eksploitasi diri yang subtil. Puasa pun tidak lagi hadir sebagai sarana pembebasan dan pemulihan batin, melainkan berubah menjadi beban performatif yang menambah kelelahan.
Modernitas memang tidak serta-merta menyingkirkan agama, melainkan mentransformasikan cara manusia memaknainya. Max Weber dalam Science as a Vocation (1919), menyebut proses ini sebagai disenchantment of the world, yakni hilangnya pesona dunia akibat dominasi rasionalitas modern. Menurut Weber, modernitas ditandai oleh pergeseran dari rasionalitas nilai yang berakar pada keyakinan, etika, dan agama, menuju rasionalitas instrumental yang menekankan efisiensi, kalkulasi, dan fungsi (Solahuddin & Siti Nuri Nurhaidah, 2025: 4).
Dalam kerangka tersebut, agama sebenarnya tidak lenyap dari ruang sosial, tetapi kerap direduksi menjadi fungsi simbolik dan penanda identitas. Praktik keagamaan pun cenderung dijalankan secara prosedural dan administratif. Ramadhan, misalnya, sering dijalani sebatas pemenuhan ritus formal; sahur tepat waktu, berbuka sesuai jadwal, dan tarawih mengikuti agenda tanpa disertai ruang refleksi yang memadai untuk pendalaman makna spiritual dan etisnya.
Ironisnya, di tengah banjir ceramah dan nasihat keagamaan, manusia modern justru semakin kehilangan keheningan batin. Pengetahuan keagamaan berlimpah, tetapi pengalaman spiritual kian menipis. Kita mengetahui banyak hal tentang agama, namun jarang sungguh-sungguh menghayatinya. Media digital mempercepat konsumsi wacana keislaman melalui potongan ceramah, kutipan ayat, dan nasihat singkat, tetapi tidak selalu memperdalam kesadaran eksistensial yang menjadi inti spiritualitas.
Dalam situasi semacam ini, agama berisiko berhenti sebagai informasi, bukan transformasi. Spiritualitas dijalani secara kognitif dan simbolik, tanpa sungguh-sungguh mengubah diri. Di titik inilah kritik Soren Kierkegaard menjadi relevan. Ia mengingatkan bahwa praktik keagamaan kerap keliru dipahami seolah bertujuan memengaruhi Tuhan, padahal tidak menghadirkan perubahan batin. Dalam Upbuilding Discourses in Various Spirits (1847), Kierkegaard menegaskan bahwa doa bukan untuk mengubah Tuhan, melainkan mengubah mereka yang berdoa; the function of prayer is not to influence God, but rather to change the nature of the one who prays (Edy Suhardono & Audifax, 2023: 79).
Dalam terang kritik tersebut, Ramadhan yang kehilangan dimensi eksistensial berisiko tereduksi menjadi ritual yang repetitif dan formalistis. Ibadah dijalani tanpa refleksi mendalam, puasa dilaksanakan tanpa perubahan sikap hidup, dan kesalehan berhenti pada kepatuhan lahiriah. Akibatnya, Ramadhan tidak lagi hadir sebagai pengalaman pembebasan batin, melainkan justru menambah kelelahan spiritual: ritual dijalani secara disiplin, tetapi makna tidak sungguh-sungguh dihayati.
Keletihan spiritual modern juga tidak bisa dilepaskan dari struktur sosial-ekonomi. Ramadhan berlangsung dalam sistem kapitalisme yang nyaris tidak mengenal jeda. Jam kerja tetap panjang, target tetap tinggi, dan tekanan produktivitas tidak berkurang. Bahkan, pasar justru semakin agresif selama bulan Ramadhan. Diskon besar-besaran, konsumsi berlebih, dan gaya hidup serba instan sering berjalan beriringan dengan khutbah tentang kesederhanaan. Kontradiksi ini membuat Ramadhan terjebak dalam ambiguitas: antara ajakan pengendalian diri dan dorongan konsumsi yang masif.
Dalam kondisi seperti itu, Ramadhan diuji secara serius. Apakah ia mampu menjadi kritik terhadap sistem yang melelahkan manusia, atau justru terserap sepenuhnya ke dalam logika pasar dan citra? Ketika kesalehan diukur dari seberapa sibuk jadwal ibadah dan seberapa ramai aktivitas religius, Ramadhan berisiko kehilangan ruh pembebasannya.
Padahal, dalam tradisi Islam sendiri, problem spiritualitas semacam ini telah lama dikritik. Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din (489 H) menegaskan bahwa puasa tidak dapat direduksi sekadar sebagai praktik menahan lapar, dahaga, dan hal-hal yang membatalkan puasa secara lahiriah. Puasa adalah latihan batin untuk meneladani akhlak Tuhan sekaligus upaya mendekati sifat malaikat yang terbebas dari dominasi syahwat duniawi (Sahri dkk., 2019: 68). Dengan demikian, puasa bukan hanya soal kepatuhan ritual, melainkan proses pendisiplinan diri menuju kematangan spiritual.
Pesan Al-Ghazali justru kian relevan dalam keberagamaan manusia modern. Keletihan spiritual dewasa ini bukan disebabkan oleh kurangnya praktik keagamaan, melainkan oleh melimpahnya ritual yang kehilangan kedalaman makna. Puasa Ramadhan yang dijalani tanpa refleksi kritis pun mudah tereduksi menjadi rutinitas kosong: hadir sebagai kewajiban musiman yang berulang, alih-alih proses transformasi batin dan pembentukan kesadaran etis-spiritual.
Di titik inilah Ramadhan semestinya dipahami sebagai ruang kritik, bukan semata penanda dalam kalender ibadah. Puasa merupakan latihan perlambatan di tengah dunia modern yang terus memaksa manusia bergerak cepat dan produktif tanpa jeda. Menahan diri dalam puasa bukanlah ekspresi kelemahan, melainkan bentuk resistensi etis terhadap logika hidup yang eksploitatif dan serba instrumental. Dengan demikian, Ramadhan tidak berhenti sebagai praktik spiritual individual, tetapi mengandung dimensi sosial dan etis yang menuntut pembacaan kritis atas realitas kehidupan bersama.
Pemahaman ini sejalan dengan gagasan Paulo Freire tentang “kesadaran kritis” (Roem Topatimasang dkk., 2015: xvi). Dengan meminjam bahasa Freire, dalam Pedagogy of the Oppressed (1968), bahwa spiritualitas yang membebaskan bukanlah yang pasif dan eskapistik, melainkan yang mampu mengubah cara manusia memahami diri dan struktur sosial di sekitarnya. Karena itu, puasa Ramadhan yang dijalani secara reflektif semestinya menumbuhkan kepekaan terhadap ketimpangan, kemiskinan, dan ketidakadilan; sebuah realitas yang kerap tertutup oleh kemeriahan ritual dan formalitas keagamaan.
Keletihan spiritual manusia modern pada dasarnya mencerminkan kerinduan akan makna yang lebih dalam. Ia muncul bukan karena ketiadaan agama, melainkan karena agama kerap hadir tanpa daya transformatif yang menyentuh kesadaran dan laku hidup. Dalam konteks ini, puasa Ramadhan jika dijalani secara kritis dan reflektif dapat menjadi momen pemulihan makna spiritual. Pemulihan tersebut tidak ditempuh dengan menambah kuantitas ibadah, melainkan dengan mengembalikan kedalaman pengalaman batin, kesadaran etis, dan orientasi makna dari praktik keagamaan itu sendiri.
Ramadhan yang membebaskan bukan Ramadhan yang paling sibuk, tetapi yang paling jujur menghadirkan kesadaran. Ia mengajukan pertanyaan mendasar: untuk apa kita berpuasa, nilai apa yang sedang kita latih, dan sistem apa yang perlu kita kritik? Tanpa pertanyaan-pertanyaan ini, momentum bulan suci Ramadhan yang penuh berkah ini hanya akan berulang sebagai rutinitas tahunan, bukan peristiwa transformasi.
Pada akhirnya, bulan suci Ramadhan dapat dimaknai sebagai panggilan etis dan spiritual yang mengajak manusia modern keluar dari keletihan eksistensial menuju kesadaran dan ketenangan batin. Di tengah dunia yang terus menuntut “lebih”; lebih cepat, lebih produktif, dan lebih terlihat, bulan suci Ramadhan justru menawarkan keberanian yang kian langka: keberanian untuk berhenti sejenak. Melalui praktik menahan diri dan refleksi batin, puasa Ramadhan mengajak umat Muslim merawat kedalaman spiritualnya agar kembali hadir sebagai pribadi yang utuh, sadar, dan bermakna dalam kehidupan bersama.