Ada bagian dari tubuh kita yang nyaris tak pernah disebut dalam doa, tak pernah dipijat untuk kesehatan, dan jarang menjadi pusat perhatian ilmu pengetahuan. Ia kecil, tersembunyi di ujung tulang punggung, seperti rahasia yang sengaja disembunyikan Tuhan dari kesombongan manusia. Rasulullah SAW menyebutnya dengan satu nama yang lembut namun menentukan: ʿajbu at-thanab—tulang ekor (sulbi).
Dalam riwayat sahih Imam Muslim, Nabi Saw bersabda bahwa seluruh jasad anak Adam akan hancur dimakan tanah, kecuali ʿajbu at-thanab. Dari bagian itulah, manusia akan disusun kembali pada hari kebangkitan. Bukan dari hati yang pernah dipenuhi cinta dan dengki. Bukan dari kepala yang sarat pikiran dan tipu daya. Tetapi dari sesuatu yang nyaris tak dianggap—seolah Tuhan hendak berkata: awal dan akhir manusia tidak pernah berada di tempat yang ia banggakan.
Al-Qur’an mengabadikan keraguan manusia itu dalam Surah Yā Sīn ayat 78–79. Seorang pembantah menggenggam tulang rapuh, menghancurkannya di telapak tangannya, lalu bertanya dengan nada mengejek: “Siapakah yang mampu menghidupkan kembali tulang-belulang yang telah hancur ini?” Allah menjawab kesombongan itu dengan kalimat; “Dia yang menciptakannya pertama kali, Dialah yang akan menghidupkannya kembali.” Jawaban ini bukan sekadar logika, tetapi penegasan tentang ilmu Tuhan yang meliputi awal dan akhir segala sesuatu.
Namun Al-Qur’an tidak berhenti pada pernyataan tersebut. Ia juga menghadirkan pengalaman batiniah melalui kisah Nabi Uzair as. Dalam surah al-Baqarah ayat 259, Beliau melewati sebuah negeri yang hancur, sunyi, mati. Dari mulutnya terucap pertanyaan yang sangat manusiawi: “Bagaimana Allah kelak menghidupkan kembali negeri ini setelah matinya?” Maka Allah mematikannya seratus tahun, lalu menghidupkannya kembali. Nabi Uzair diperlihatkan bagaimana tulang-belulang keledainya disusun, dilapisi daging, dan kehidupan itu dikembalikan dalam satu penyaksian langsung (musyahadah).
Para mufasir menyebut bahwa Nabi Uzair tidak diajari Allah dengan tajrubah wujūdiyyah—pengalaman eksistensial. Ia melihat sendiri bahwa kebangkitan bukan mitos, bukan metafora. Ia nyata, detail, dan presisi. Tulang-belulang disusun kembali dari porosnya, dari sumbu terdalam tubuh—dari apa yang kelak dalam hadis Nabi disebut ʿajbu at-thanab.
Dalam bahasa dunia modern, para embriolog mencatat bahwa manusia memulai keberadaannya dari sebuah struktur awal yang sangat halus, untaian primer. Muncul sekitar hari ke-15 setelah pembuahan, menentukan arah tubuh, membentuk sumbu tulang belakang, dan menjadi pusat diferensiasi seluruh organ. Setelah tugasnya selesai, ia seakan menghilang—namun jejaknya tetap tertanam di wilayah tulang ekor.
Bagi kaum sufi, ini bukan sekadar fenomena biologis, melainkan isyarat kosmik. Bahwa Tuhan menciptakan manusia dari satu titik sunyi, dan kelak akan memanggilnya kembali dari titik sunyi yang sama. Awal dan akhir bertemu di satu simpul: kerendahan. Dari situlah jiwa mengenali asalnya.
Karena itu Nabi tidak mengatakan manusia dibangkitkan dari jantung atau otaknya, melainkan seperti tanaman yang tumbuh dari bijinya. Biji itu kecil, tak berharga di mata yang tergesa menilai. Ia bahkan bisa diinjak tanpa disadari. Tetapi di dalamnya tersimpan cetak biru kehidupan yang lengkap—menunggu air rahmat dan perintah Ilahi.
Dalam tasawuf, ʿajbu at-thanab dibaca sebagai simbol inti diri: sesuatu yang tak rusak oleh waktu, tak hangus oleh sejarah, tak musnah oleh kematian. Ia bukan keabadian materi, melainkan keabadian makna. Bahwa di dalam diri manusia ada satu titik yang selalu “ingat” pada panggilan Tuhan, meski seluruh tubuh kita telah menjadi tanah.
Maka kebangkitan bukan sekadar peristiwa eskatologis. Namun pesan spiritual yang hendak mengingatkan; jangan sombong pada apa yang tampak, karena yang menentukan justru yang tersembunyi. Jangan terlampau percaya pada kekuatanmu, karena kelak engkau dipanggil kembali bukan dari kejayaanmu, tetapi dari kerendahanmu.
Di ujung tulang yang tak diperhitungkan itulah, kita menunggu satu panggilan yang dahulu pernah kita dengar bersama:
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَاۛ اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ ١٧٢
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan para keturunan anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QS. Al-A‘rāf [7]: 172.
Manakala panggilan itu kembali terdengar, manusia pun bangkit—harusnya bukan dengan kebanggaan, tetapi dengan pengakuan.
Poros yang Terus berputar
Bagi Ibn ʿArabī, tubuh manusia bukan sekadar kumpulan daging dan tulang belaka. Ia adalah peta kosmik. Dalam al-Futūḥāt al-Makkiyyah, beliau berulangkali menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai al-ʿālam al-ṣaghīr—semesta kecil—yang memantulkan struktur semesta besar. Karena itu, setiap bagian tubuh kita memiliki makna ontologis. Ada pusat, ada poros, ada titik balik tempat ruh berputar.
Ruh, menurut Ibn ʿArabī, tidak turun ke tubuh secara acak. Ia masuk melalui sebuah taʿalluq—keterkaitan yang telah ditentukan sejak azali. Tubuh disiapkan lebih dahulu, disusun perlahan, hingga satu poros tercipta. Barulah ruh “berkenan” menetap. Dalam bahasa beliau: al-rūḥ lā tasrī illā fī ṣūrah muhayyaʾah—ruh tidak menyatu kecuali pada bentuk yang telah dipersiapkan.
Poros itu, yang dalam bahasa hadis dinamai ʿajbu at-thanab, disebut Ibn ʿArabī sebagai markaz al-taʿalluq—titik keterikatan ruh dengan jasad. Sebagaimana Ka’bah adalah poros tawaf bumi, demikian pula tulang ekor adalah poros eksistensi tubuh. Ia kecil, tetapi menjadi pusat keseimbangan. Ia tersembunyi, tetapi menentukan arah.
Ibn ʿArabī juga menautkan asal-usul manusia dengan dua unsur kosmik: sulb dan ṭīn. Sulb adalah prinsip vertikal—garis lurus dari langit ke bumi, simbol keturunan, cahaya, dan amanah. Sedangkan ṭīn adalah prinsip horizontal—tanah, kelembaban, kerendahan, dan penerimaan. Manusia lahir dari pertemuan keduanya: cahaya yang menurun dan tanah yang merunduk.
Dalam kosmologi ini, tubuh manusia tidak berdiri sendiri. Ia adalah hasil perjumpaan antara nafkh rūḥ (tiupan ruh Ilahi) dan qabḍ al-arḍ (segenggam tanah). Maka ketika Al-Qur’an menyebut penciptaan manusia dari tanah, dan pada saat lain dari sulbi ayah, itu bukan kontradiksi, melainkan dua sudut pandang dari satu realitas kosmik.
ʿAjbu at-thanab berada tepat di titik temu itu. Ia bersemayam di ujung tulang belakang—poros vertikal sulb—namun tertanam dalam materialitas ṭīn. Ia adalah simpul antara langit dan bumi dalam diri manusia. Karena itu ia tidak hancur secara maknawi, meski jasad luruh. Sebab yang hancur hanyalah bentuk, sementara poros tetap dikenali oleh ilmu Tuhan.
Ibn ʿArabī menyebut bahwa pada hari kebangkitan, Allah tidak “menciptakan ulang” manusia dari ketiadaan, tetapi menyempurnakan kembali keterkaitan antara ruh dan jasad. Maka kebangkitan bukan peristiwa mekanis, melainkan tajallī—penyingkapan kembali hubungan lama yang pernah ada. Seperti pantulan cahaya yang kembali ke cermin yang telah dibersihkan.
Di titik inilah kisah Nabi Uzair menemukan resonansinya. Uzair diperlihatkan bagaimana tulang disusun kembali, bukan dari bagian yang megah, melainkan dari struktur dasar. Ini sejalan dengan pandangan Ibn ʿArabī, bahwa Allah memulai dari poros, bukan dari permukaan. Dari inti, bukan dari hiasan.
Dalam bahasa tasawuf, inilah pelajaran paling sunyi—yang paling menentukan dalam diri manusia adalah yang paling tidak ia sadari. Ego tercitra di wajah, dan suara, tetapi ruh berdiam di poros. Kesombongan berdiri di dada, tetapi kebangkitan dimulai dari kerendahan.
Karena itu, ʿajbu at-thanab bukan hanya tulang; ia adalah alamat ingatan Tuhan dalam diri manusia. Tempat ruh pernah diikat, dan kelak akan dipanggil kembali. Dari sana manusia akan bangkit, sebagaimana benih tumbuh dari tanah—tidak dengan teriakan, tetapi dengan ketaatan dalam diam.
Barangkali itulah sebabnya manusia diajari sujud: menurunkan wajah—simbol kesadaran—ke tanah, mendekatkan diri pada asal ṭīn-nya, agar poros sulb-nya kembali lurus. Karena hanya mereka yang mengenal asal-usulnya, yang takkan tersesat ketika dipanggil pulang.
Di ujung tulang yang tak pernah dipamerkan itu, Allah menyimpan satu pesan, sesiapa mengenali porosnya, ia tak akan kehilangan arah—bahkan setelah mati. []