Puasa menurut bahasa adalah mengekang atau menahan diri. Sedangkan dalam konteks menjaga lingkungan, apakah untuk puasa—menahan diri—dari mengotorinya dapat kita upayakan?
Makna puasa secara umum adalah menahan lapar dan dahaga hingga menjaga hati dan menundukkan hawa nafsu. Di sisi lain, menurut Imam Ghazali, puasa bukan sekadar yang disebutkan tadi, tetapi juga sebagai wasilah menuju kesempurnaan rohani. Bagaimana hubungannya dengan puasa sampah?
Puasa juga sebagai bentuk penyelerasan hablum minallah (hubungan dengan Allah) melalui berpuasa dan ibadah lainnya, hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia) melalui bersedekah, menahan hawa nafsu atau menyakiti orang lain, hingga kepedulian terhadap sesama. Pada akhirnya, output yang diharapkan adalah fitrah. Namun, ada satu hal lagi yang kita lupakan, yakni hablum minal alam (hubungan dengan alam).
Menjaga hubungan dengan alam bukan sekadar opsi, melainkan sudah bentuk tanggung jawab kita sebagai khalifah fil ardh. Salah satunya dengan memakmurkan bumi. Manusia sebagai makhluk yang diciptakan disertai dengan akal sudah seharusnya dapat berpikir kritis dalam menjaga bumi.
Selama ini kita menggunakan antroposentris menjadi tolok ukur kita, yakni manusia sebagai pusat sistem alam semesta. Di sisi lain, hanya menggunakan antroposentris kita masih belum kuat untuk dijadikan tolok ukur dalam konteks hablum minal alam, salah satunya dengan menjaga lingkungan.
Penulis setuju dengan konsep ekosentris deep ecology yang digagas oleh Arne Næss. Menurut Næss, manusia bukan menjadi pusatnya, melainkan kesetaraan posisi manusia dan melebur sejajar dengan alam yang memiliki nilai instrinsik. Ringkasnya, Næss mendorong manusia agar lebih menghormati alam dan menghindari kerusakan lingkungan yang dapat mengancam keberlangsungan ekosistem. Ia membuka pandangan manusia untuk melihat dirinya sebagai bagian dari alam, bukan sebagai penguasa atau pemilik alam.
Alasan sederhana yang bisa kita gunakan sebagai urgensi dalam pentingnya menjaga alam dan ekosistem di dalamnya adalah semakin merosot sumber dayanya hingga semoga kelak anak dan keturunan kita kedepan masih bisa merasakan keindahan alam ciptaan-Nya ini.
Memaknai Puasa Sampah
Dalam momen puasa Ramadan, umat Islam yang beriman diwajibkan untuk menahan makan dan dahaga saat waktu Subuh hingga azan Magrib. Durasi puasa per hari di Indonesia berkisar antara 13 hingga 14 jam. Namun, apakah produktivitas sampah turut menurun?
Sampah menjadi persoalan yang sangat urgen. Apalagi banyak data yang menyebutkan bahwa rata-rata setiap orang setidaknya menghasilkan sampah sebanyak 0,7 kg/hari. Di Indonesia sendiri, menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup, total timbulan sampah tahun 2025 sebanyak 25 juta ton. Masalah tidak berhenti di situ saja, tetapi terdapat masalah lain, yakni adanya sampah yang sulit terurai. Seperti sampah plastik.
Mirisnya lagi, terdapat sebuah data dari BPS mengenai indeks perilaku ketidakpedulian lingkungan hidup. Ketidakpedulian terhadap pengelolaan sampah menjadi yang pertama, dengan indeks 0.72, disusul dengan transportasi pribadi (0.71), penghematan air (0.44), dan pengelolaan energi (0.16).
Dari data lainnya, Indonesia juga menjadi negara penghasil sampah perkotaan nomor dua di Asean. Sedangkan secara komposisinya, sampah makanan dan organik yang tertinggi dengan persentase 60 persen.
Melihat mirisnya hal ini, sebagai salah satu cara kita meneladani hal lain dari puasa Ramadan adalah juga puasa sampah. Yakni menahan diri dari sifat konsumtif yang akhirnya akan menimbulkan sampah dan pada akhirnya akan mencemari lingkungan kita.
Yang dikhawatirkan, selama berpuasa kita hanya menahan lapar dan dahaga. Namun, di sisi lain sebenarnya kita hanya menunda timbulan sampah setelah berbuka puasa. Hal ini terjadi karena kita menahan diri di pagi hingga sore hari, tetapi meluapkannya di malam hari dengan cara belanja makanan dan minuman sebanyak-banyaknya dengan probabilitas terjadinya sisa yang terbuang dan menjadi sampah. Mulai dari sampah sisa takjil dan makanan, hingga wadah makan yang sekali pakai.
Seperti yang disebutkan tadi, sampah plastik merupakan persoalan yang rumit. Sampah plastik rata-rata dihasilkan dari wadah makanan yang sekali pakai. Memang harganya murah, tetapi kedepannya akan menjadi bom waktu karena sampah ini dapat terurai 10 hingga ratusan tahun—tergantung jenisnya.
Memang, kita tidak bisa menghilangkan sampah, tetapi setidaknya kita dapat berusaha untuk mengurangi sampah. Jika dalam momen berpuasa, implementasinya bisa dengan membeli dan mengkonsumsi makanan atau minuman secukupnya. Bahkan, bisa mengganti wadah sekali pakai dengan peralatan makan sendiri yang aman untuk digunakan kembali. Memang terasa sulit, tetapi inilah yang terasa sedikit realistis, solutif, dan aplikatif.
Jika konteks berpuasa bagi tingkatan kaum awam dalam berpuasa sekadar aspek fisik seperti menahan lapar atau dahaga hingga menjaga hati dan menundukkan hawa nafsu. Barangkali tingkatan kaum yang sangat khusus untuk tidak hanya menahan diri dari makanan dan dosa fisik, tetapi juga menjaga hati dari segala sesuatu selain Allah. Dan barangkali ditambah dengan puasa sampah sebagai penyempurnanya. Sehingga nantinya kita kembali ke fitrah dengan bekal pola pikir dan perilaku peduli terhadap lingkungan yang sudah kita upayakan selama momen Ramadan.