Islam mengajarkan untuk selalu menghargai waktu, mengisi waktu luang dengan hal- hal yang baik. Salah satunya mengisi waktu luang itu dengan memancing.
Meski sebagian menganggap kegiatan ini sebagai pemborosan dan buang-buang waktu, tetapi aktivitas memancing juga sebagai bentuk pengalaman yang bisa dijadikan sebuah pelajaran, ataupun latihan untuk diri kita sendiri.
Dengan kita melempar umpan sambil menunggu ikan, kita bisa memanfaatkan waktu itu dengan berinteraksi memahami keindahan alam sekitar, sebagai suatu bentuk perenungan akan ciptaan Allah Swt. Al-Qur'an mengatakan,
وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan Dia-lah, Allâh yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. (QS. An-Nahl: 16:14)
Sebab itu, memancing menjadi salah satu cara untuk mengatasi stres karena dengan memancing dapat menciptakan suasana damai dan bersantai agar bisa melupakan masalah hidup untuk sementara waktu.
Kearifan Lokal Memancing
Memancing memiliki budaya dan kearifan lokal, hal ini terlihat pada kepercayaan yang konon mengandung unsur kepercayaan terhadap ilmu supranatural dan sistem keagamaan yang berkembang di daerah setempat.
Beberapa legenda mengatakan ada sosok ikan besar yang jika dipancing akan menuai malapetaka, juga ada cara memilih batang bambu mana yang akan dikail menentukan keberuntungan memancing, kemudian di banyak komunitas nelayan tradisional, seperti di Indonesia, terdapat kearifan lokal dalam memancing.
Contohnya adalah penggunaan jaring tangkap yang disesuaikan dengan jenis ikan dan kondisi perairan tertentu. Para nelayan sering mengamati perilaku ikan dan cuaca secara cermat sebelum memutuskan waktu dan lokasi yang tepat untuk memancing. Selain itu, penggunaan umpan alami yang berasal dari lingkungan sekitar juga mencerminkan kearifan lokal. Nelayan lokal dapat mengetahui jenis umpan yang paling efektif untuk menarik ikan tertentu berdasarkan pengetahuan turun-temurun.
Teknik-teknik tertentu, seperti pancing tangan atau menggunakan perahu tradisional, juga menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Semua aspek ini tidak hanya berkontribusi pada kesuksesan memancing, tetapi juga memperkuat hubungan komunitas dengan lingkungan alam mereka. Hal itu merupakan warisan tradisi secara turun temurun dari nenek moyang mereka.
Alhasil, memancing memiliki nilai-nilai dan budaya serta kearifan lokal yang seharusnya kita pupuk kembali dan jaga. Seperti solidaritas sosial, kesabaran, rasa syukur, bermuhasabah, serta menjauhi diri dari persepsi buruk, menenangkan, melatih keterampilan, dan memahami lingkungan sekitar. Kembali lagi, aktivitas ini juga terkait nilai hubungan dengan Tuhan, alam, dan manusia.