Setiap Ramadan, bangsa ini seperti menemukan kembali wajah religiusnya. Masjid penuh, kajian ramai, doa-doa mengalir deras di media sosial. Orang-orang berbicara tentang sabar, ikhlas, dan menahan diri. Seolah-olah dalam satu bulan, kesadaran spiritual kolektif bangkit dan menguasai ruang publik.
Namun di saat yang sama, berita tentang korupsi tetap hadir, transaksi kekuasaan terus berlangsung, hukum terasa lentur bagi sebagian orang, dan ketidakadilan sosial belum benar-benar surut. Di sinilah kegelisahan itu muncul: mengapa bangsa yang rajin berpuasa belum juga menjadi bangsa yang tertib dan bersih dari korupsi?
Puasa: Latihan yang Tidak Otomatis
Puasa adalah latihan. Ia melatih manusia menahan lapar dan haus, mengendalikan dorongan dasar, menunda kepuasan. Tetapi puasa bukan tombol otomatis yang mengubah karakter. Ia membuka kemungkinan, bukan menjamin hasil.
Seseorang bisa berpuasa lima puluh kali Ramadan, tetapi tidak pernah benar-benar mengalahkan dirinya sendiri. Karena menahan makan itu relatif mudah; menahan kesempatan menyalahgunakan kekuasaan ketika tidak ada yang melihat jauh lebih sulit.
Di titik ini, kita mulai menyadari bahwa persoalannya bukan sekadar kurangnya nilai. Indonesia tidak miskin ajaran moral. Kita dibesarkan dalam tradisi keagamaan yang kuat, dengan etika yang diajarkan sejak kecil. Ruang publik dipenuhi simbol kesalehan.
Namun nilai tidak otomatis menjelma menjadi sistem. Nilai adalah potensi; institusi adalah mekanisme. Banyak bangsa memiliki nilai baik. Yang membedakan adalah siapa yang serius mengubah nilai menjadi prosedur, dan prosedur menjadi budaya.
Ada kenyataan yang mungkin pahit, tetapi perlu diakui: manusia lebih cepat merespons sanksi nyata daripada ancaman metafisik yang tak kasat mata. Orang berhenti di lampu merah bukan semata karena takut dosa, tetapi karena ada kamera dan denda.
Negara-negara yang tertib tidak selalu lebih religius, tetapi mereka serius membangun sistem yang membatasi diskresi, menghukum tanpa pandang bulu, transparan dalam anggaran, dan tegas terhadap konflik kepentingan. Mereka tidak mengandalkan manusia sempurna; mereka mengantisipasi manusia yang bisa menyimpang. Sementara itu, kita sering berharap kesalehan pribadi cukup untuk menjaga integritas publik.
Kekuasaan selalu menguji sisi terdalam manusia. Ia ibarat senjata: bisa melindungi atau melukai, tergantung siapa yang memegangnya. Dalam kondisi institusi yang belum sepenuhnya matang, figur memang sangat menentukan. Satu orang yang tegas, bersih, dan berani bisa mengubah arah kebijakan secara nyata.
Namun jika perubahan hanya bertumpu pada figur, maka setiap pergantian kepemimpinan berisiko mengulang siklus yang sama. Orang baik diperlukan untuk membangun sistem, tetapi orang baik yang tidak membangun mekanisme hanya akan menjadi episode.
Puasa menyimpan pelajaran yang lebih dalam daripada sekadar menahan lapar. Ia mengajarkan pembatasan diri. Masalahnya, yang paling berbahaya bukanlah lapar perut, melainkan lapar kuasa.
Lapar perut selesai ketika berbuka; lapar kuasa tidak pernah kenyang. Korupsi dan penyalahgunaan jabatan bukan lahir dari kurangnya ritual, melainkan dari ambisi yang tidak pernah dibatasi. Jika puasa hanya berhenti pada rasa haus, ia tidak pernah menyentuh akar persoalan peradaban.
Lalu muncul pertanyaan yang lebih besar: apakah bangsa ini harus hancur dulu untuk berubah? Sejarah memang menunjukkan banyak negara berubah setelah krisis besar. Tetapi kehancuran bukan syarat mutlak perbaikan. Yang menentukan bukan krisisnya, melainkan keberanian memperbaiki setelahnya.
Indonesia tidak kekurangan nilai. Yang masih kita perjuangkan adalah konsistensi: penegakan hukum tanpa pandang bulu, mengganti orang-orang yang jelas koruptif, transparansi yang tidak bisa dinegosiasi, dan sistem yang tidak bergantung pada kedekatan personal.
Ramadan sebagai Cermin Peradaban
Perubahan tidak selalu lahir dari ledakan. Sering kali ia tumbuh dari kesadaran yang terus dirawat, dari tulisan-tulisan yang mengganggu kenyamanan, dari orang-orang yang tetap menjaga jarak kritis dari kekuasaan, dari mereka yang berjuang dari dalam tanpa kehilangan nurani.
Ramadan seharusnya menjadi cermin, bukan sekadar perayaan. Ia mengajak kita bertanya dengan jujur: apakah puasa kita sudah menyentuh cara kita memandang kekuasaan? Apakah ia sudah masuk ke ruang kebijakan dan tata kelola? Ataukah ia berhenti pada ritual yang indah tetapi terpisah dari sistem?
Bangsa ini tidak kekurangan orang yang berpuasa. Yang masih kita cari adalah orang-orang yang mampu berkata “cukup” ketika memiliki kesempatan untuk mengambil lebih.
Pada akhirnya, peradaban tidak dibangun oleh banyaknya simbol kesalehan, tetapi oleh integrasi antara kesadaran batin dan keberanian menata sistem. Puasa tidak akan otomatis menjadikan para pemegang kuasa baik dan bisa membersihkan negara. Namun ia bisa menjadi titik awal jika benar-benar dimaknai sebagai latihan menundukkan ego.
Dan mungkin, di tengah paradoks yang terasa aneh dan melelahkan ini, perubahan tetap mungkin—selama masih ada kegelisahan yang jujur, keberanian yang konsisten, dan kesediaan untuk menaklukkan diri sendiri sebelum menata negeri, sebagaimana pesan dan inti puasa ramadan :
QS. Al-Baqarah Ayat 183
یٰۤاَیُّهَا الَّذِیْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَیْكُمُ الصِّیَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَی الَّذِیْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ۙ
Yaitu, membentuk pribadi yang bertakwa, menjaga diri dari perbuatan yang dilarang Allah kapan pun dan di mana pun.