Terhitung sejak dua dasawarsa lalu, Bumi kita telah memasuki era baru: Antroposen. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh Paul J. Crutzen, seorang ahli kimia atmosfer dan penerima Nobel Kimia, bersama dengan Eugene F. Stoermer, seorang ahli biologi. Mereka mengusulkan Antroposen sebagai nama untuk era geologi baru yang ditandai dengan dampak signifikan aktivitas manusia terhadap lingkungan bumi, dalam sebuah artikel di Global Change Newsletter pada 2000.
Istilah tersebut memang lahir dari laboratorium geologi, tetapi sesungguhnya merupakan cerminan luka peradaban. Manusia, makhluk yang diciptakan Tuhan dengan akal dan amanah, telah menjelma menjadi kekuatan geologis yang menakutkan. Lapisan tanah, kadar karbon di udara, dan bahkan arus laut kini membawa sidik jari peradaban industrial. Inilah zaman ketika manusia tidak lagi sekadar penghuni Bumi, tetapi telah menjadi pengubah Bumi—yang cenderung menuju kehancuran.
Di tengah gejolak zaman halai-balai yang kian tak menentu, manusia modern menjalani kehidupannya sembari melampaui batas-batas alamiah, menandai Bumi dengan jejak karbon, beton, plastik, dan kepunahan. Jika abad sebelumnya dikenal sebagai zaman industri atau nuklir, maka kini manusia dipaksa mengakui, bahwa dia lah faktor geologis baru, sekaligus bencana bagi dirinya sendiri.
Namun, apa sesungguhnya makna dari Antroposen? Ia bukan hanya soal ilmu Bumi, melainkan juga soal filsafat hidup. Antroposen adalah buah dari pandangan dunia yang menempatkan manusia di pusat jagat raya, lalu menjadikan alam sebagai objek, sebagai barang dagangan. Pandangan dunia inilah yang oleh René Guénon (Syeikh Abdul Wahid Yahya) disebut sebagai wajah paling kelam modernitas—terputusnya manusia dari prinsip metafisis, dari asal-usul primordial yang sakral.
Dalam La Crise du Monde Moderne (1927), ia menegaskan bahwa dunia modern mengalami krisis bukan karena kekurangan teknologi, melainkan karena kehilangan tiik pusat (axis mundi). Modernitas, tulisnya, mengganti kualitas dengan kuantitas, mengganti simbol dengan angka, mengganti cahaya batin dengan kerlap-kerlip materi. Antroposen adalah bukti nyata dari krisis itu. Peradaban yang kian maju secara teknis, sekaligus kian rapuh secara spiritual.
Dalam pandangan Tradisional yang diusung Guénon, dunia bukanlah sekadar tumpukan benda. Dunia adalah jalinan tanda, ayat-ayat yang menghubungkan Bumi dengan langit. Setiap gunung, sungai, dan pepohonan, bukan sekadar lanskap geografi, melainkan lambang yang menyingkap kehadiran Hyang Maha Esa. Di sinilah bedanya Tradisi dan modernitas. Tradisi melihat kosmos sebagai kitab yang sakral, sedangkan modernitas melihatnya sebagai objek untuk dieksploitasi.
Era Antroposen sejatinya memperlihatkan kegagalan modernisme. Kini kita menyaksikan bagaimana kemajuan teknologi yang dipuja ternyata memunculkan krisis iklim, ketidaksetaraan ekologis, dan hilangnya ribuan spesies dari muka Bumi. Modernitas membanggakan pencapaian luar angkasa, tetapi gagal menjaga Bumi sebagai rumah bersama. Manusia bisa membelah atom, tetapi tak sanggup merawat pohon di depan rumahnya. Ironis sekali.
Tradisionalisme, sebagaimana dirumuskan Guénon dan dilanjutkan oleh Frithjof Schuon, Titus Burckhardt, dan Seyyed Hossein Nasr, hadir sebagai penanda jalan pulang. Ia tidak mengajak kita menolak sains, melainkan menempatkan sains dalam bingkai sakral. Ia tidak melarang teknologi, tetapi menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat, bukan tujuan. Ia mengingatkan bahwa di atas logika ada hikmah, di atas akal ada Wahyu, di atas dunia ada Hyang Maha.
Kosmologi Islam sejak awal telah mengajarkan keseimbangan itu. Dalam Al-Qur’an, langit dan Bumi diciptakan bi al-ḥaqq, dengan kebenaran yang terukur dan sarat makna. Manusia disebut khalifah, bukan penguasa. Artinya, kita adalah penjaga, bukan pemilik. Hubungan manusia dengan alam bukan seperti predator dengan mangsanya, melainkan pengemban amanah dengan titipan. Jika Antroposen adalah era kerusakan, maka sesungguhnya ia lahir dari pengkhianatan manusia terhadap mandat kekhalifahanya.
Guénon melihat modernitas sebagai dunia yang jungkir balik. Dunia yang sibuk dengan permukaan, tetapi melupakan kedalaman. Dunia modern, katanya, ibarat manusia yang hidup hanya dengan tubuh, tetapi kehilangan jiwa. Maka tak heran bila dalam modernitas, segala sesuatu diukur nilainya dengan berapa ton emas, berapa barel minyak, berapa hektar hutan. Kualitas batin, rasa syukur, atau keheningan spiritual dianggap tak punya nilai ekonomi samasekali.
Kritik Guénon ini berjalin kelindan dengan keadaan-kenyataan Antroposen. Ketika Bumi “menjerit” karena ulah manusia, kita sadar bahwa bukan hanya alam yang sakit, tetapi juga jiwa manusia yang tersakiti. Kerusakan lingkungan adalah refleksi dari kerusakan batin. Pepohonan yang ditebang tanpa jeda adalah tanda nafsu yang tak terjaga. Sungai yang tercemar adalah gambaran pikiran yang keruh. Krisis ekologi sesungguhnya adalah krisis spiritual manusia kiwari.
Semakin berkuasa manusia modern, maka semakin ia kehilangan dirinya. Manusia modern membangun menara-menara kaca yang menjulang ke langit, tetapi di dalamnya ia hidup dalam kehampaan. Ia menguasai mesin-mesin raksasa, tetapi tak mampu menguasai dirinya sendiri. Ia menjelajah antariksa, tetapi kehilangan arah pulang ke rumah jiwanya. Gambaran ini adalah wajah telanjang dari Antroposen yang kita alami bersama.
Kosmologi Islam memberi bahasa yang indah untuk itu. Alam disebut sebagai ayat-ayat kauniyah, tanda-tanda yang menunjuk kepada Allah. Maka menyakiti alam berarti menutup diri dari ayat, merobek halaman kitab kosmik. Sebaliknya, merawat alam berarti membaca Wahyu yang terhampar, memperdalam iman lewat dedaunan, bebatuan, dan aliran sungai. Di sinilah tradisi menemukan makna terdalamnya—menyatukan manusia dengan langit, melalui Bumi.
Era Antroposen adalah era pengakuan yang pahit, bahwa modernitas telah gagal menjaga kehidupan. Tetapi ia juga bisa menjadi era kebangkitan, jika manusia berani kembali ke akar. Guénon menyebut ini sebagai jalan kembali ke prinsip metafisis, jalan kembali ke pusat. Islam menyebutnya sebagai jalan tauhid: mengesakan Tuhan, dan dengan itu menyatukan seluruh ciptaan dalam harmoni.
Saat ini kita tak lagi membutuhkan jargon baru, tetapi keberanian untuk beralih pandangan. Seari melihat alam sebagai objek, menjadi melihatnya sebagai subjek. Sedari menjadikan Bumi sebagai pasar bebas, menjadi wahana beribadah yang sakral. Sedari memburu dunia, menjadi merawat amanah. Inilah yang diajarkan tradisi, dan yang dilupakan modernitas.
Maka, apa yang tersisa dari Antroposen adalah sebuah peringatan, bahwa ketika manusia lupa siapa dirinya, ia menghancurkan rumahnya sendiri. Tetapi juga sebuah peluang: bahwa dari reruntuhan modernitas, manusia bisa membangun kembali tatanan yang lebih adil, lebih sakral, lebih manusiawi. Tradisionalisme memberi kita peta jalan pulang, kosmologi Islam memberi kita suluh, dan kritik Guénon memberi kita cambuk agar kita tidak lagi terjebak dalam ilusi dunia modern.
Di hadapan krisis multidimensi yang kita hadapi saat ini, kita dipanggil untuk kembali menjadi khalifah di Bumi, yang sejati. Menjadi penjaga, bukan perusak. Menjadi penyeimbang, bukan pemangsa. Menjadi makhluk yang rendah hati di permukaan Bumi, dan sujud di hadapan Sang Pencipta. Di titik inilah para Antroposen bisa menemukan jawaban kegelisahan mereka. Bukan pada lebih banyak mesin, melainkan pada lebih dalam iman mengakar ke dalam hati.
Membaca Kembali René Guénon
Apa yang dahulu diperingatkan Guénon, kini terwujud secara gamblang. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change Assessment Report 6 (2023) mencatat bahwa suhu global sudah naik +1,07 °C dibanding era pra-industri (1850–1900), dan berpotensi mencapai 3,3–5,7 °C di akhir abad jika emisi gas rumah kaca tidak ditekan (World Resources Institute). Peningkatan suhu ini melahirkan bencana ekologis: gelombang panas, banjir ekstrem, gagal panen, hingga krisis air yang merambah dari Afrika hingga Asia Tenggara.
Lebih jauh, WWF dalam Living Planet Report 2024 menyingkap tragedi ekologis lain: populasi satwa liar global (mamalia, burung, amfibi, reptil, ikan) anjlok rata-rata 73 % sejak 1970. Di Amerika Latin dan Karibia, penurunannya bahkan mencapai 95 %, di Afrika 76 %, dan di Asia-Pasifik 60 % (World Wide Fund for Nature Central and Eastern Europe). Khusus spesies air tawar, penurunan populasi mencapai 85 %—nyaris menuju titik tak kembali (DownToEarth). Inilah wajah Antroposen. Bumi terkoyak bukan oleh kehendak Ilahi, melainkan oleh nafsu serakah manusia yang mengubah tradisi menjadi komoditas, dan kesakralan menjadi statistik keuntungan.
Guénon menyebut modernitas sebagai “kerajaan kuantitas” (Le Règne de la Quantité), di mana segala sesuatu dinilai dengan ukuran, angka, dan keuntungan material. Antroposen adalah bukti mutakhir dari visi itu. Hutan dihitung dalam hektaran kubik kayu tebangan, sungai dinilai dari potensi bendungan listriknya, laut diperlakukan sebagai tambang ikan sekaligus tong sampah raksasa untuk plastik yang merajalela.
Tetapi angka-angka itu kini berbalik menghantui manusia. IPCC mengingatkan bahwa dalam dekade mendatang, perubahan iklim berpotensi mendorong 32–132 juta orang jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem akibat bencana, gagal panen, dan kenaikan harga pangan (United Nations Convention to Combat Desertification Library). Dengan kata lain, kuantitas yang sekarang diagulkan dan melahirkan kekosongan spiritual, akan berujung pada penderitaan sosial.
Namun, kritik tanpa jalan pulang akan menjadi sia-sia. Tradisionalisme bisa berfungsi sebagai kompas. Ia menunjuk kepada pusat yang terlupakan, yaitu transendensi. Semua yang ada di alam ini hanyalah pantulan, sementara sumbernya adalah Hyang Tak Terbatas. Dengan kesadaran ini, relasi manusia dengan alam dapat kembali sakral. Menebang pohon menjadi ritual penuh doa, bukan sekadar operasi dagang. Mengolah tanah menjadi ibadah, bukan sekadar transaksi pasar.
Di sinilah Tradisi yang dimaksud Guénon menemukan kembali nilai pentingnya. Tradisi bukan sekadar adat-istiadat, melainkan kesadaran kosmologis bahwa manusia adalah bagian dari tatanan suci Kerajaan Tuhan—bukan penguasa tunggal di Bumi. Dalam sufisme, konsep tauhid menegaskan kesatuan segala yang ada; dalam falsafah Jawa, ada harmoni antara jagad alit (mikrokosmos) dan jagad ageng (makrokosmos)—sangkan paraning dumadi. Semua itu menolak logika Antroposen yang menempatkan manusia sebagai pusat dan pengendali tunggal.
Kembali pada Tradisi bukan berarti menolak sains, melainkan menempatkan sains dalam koridor etika kosmik. Sains yang tercerabut dari akar tradisi hanya melahirkan teknologi tanpa hikmah, industrialisasi tanpa welas asih, dan ekonomi tanpa ruhani. Jika modernisme memisahkan kita dengan langit, maka tradisi menyambungnya kembali. Jika Antroposen menciptakan jurang dengan kesadaran paripurna, maka tradisi adalah jembatannya.
Kita hidup di masa ketika laporan ilmiah dan nubuat filsafat bertemu dalam satu titik: manusia telah menyalahi kodratnya sebagai khalifah. Data saintifik IPCC dan WWF adalah angka-angka yang dingin, sementara kritik Guénon adalah suara yang mengingatkan kita semua. Dari keduanya, kita bisa belajar bahwa Antroposen bukan sekadar fenomena geologis-ekologis, melainkan krisis ruhani terdalam manusia modern, abad ini. Hanya dengan kembali pada tradisi—dengan rendah hati mengakui batas diri dan menyambungkan diri ke Hyang Maha Mutlak—kita dapat keluar dari zaman kegelapan ini menuju fajar baru peradaban. []