Pada dekade ketiga abad ke-21 ini, sebuah pertanyaan provokatif bermetamorfosis menjadi gugatan moral yang serius: Apakah bumi akan lebih baik tanpa manusia? Pertanyaan ini bukan lagi sekadar eksperimen pemikiran di ruang seminar filsafat atau fiksi ilmiah. Ia didorong oleh data empiris yang tak terbantahkan mengenai degradasi planet.
Gerakan radikal seperti Voluntary Human Extinction Movement (VHEMT) bahkan mengajukan argumen tajam bahwa tindakan paling etis yang dapat dilakukan homo sapiens adalah berhenti bereproduksi dan membiarkan spesies ini punah demi mengembalikan keseimbangan biosfer. Bagi penganut deep ecology garis keras (baca: wahabi lingkungan dengan pengertian yang hakikat), manusia tak ubahnya patogen atau sel kanker yang memetastasis ekosistem yang sebelumnya harmonis.
Sebagai seorang Muslim yang mengimani Al-Qur’an, narasi kepunahan ini menghadirkan benturan ontologis yang mendalam. Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa malaikat pun pernah mengajukan "nota keberatan" serupa. Dalam QS Al-Baqarah [2]: 30, ketika Allah hendak menciptakan manusia, para malaikat bertanya dengan nada skeptis: "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana?"
Malaikat seolah memberikan clue—sebuah prediksi berbasis karakter—bahwa manusia adalah entitas perusak. Dan hari ini, prediksi itu terbukti valid secara saintifik. Jika air kencing manusia saja secara harfiah bisa merusak akar pohon karena kadar zatnya, apalagi limbah industri peradabannya. Lantas, jika kita memang perusak, mengapa Allah yang Maha Bijaksana justru bersikeras memberikan mandat khalifah kepada kita, sang makhluk "bungsu" atau pendatang baru dalam sejarah geologis bumi, dan bukan kepada makhluk lain yang lebih dulu ada—seperti halnya malaikat yang pasti bertasbih kepada-Nya?
Jejak Kehancuran: Studi Kasus Sungai Brantas
Skeptisisme malaikat menemukan pembenarannya di aliran Sungai Brantas, urat nadi Jawa Timur yang kini sekarat. Data lapangan yang dihimpun oleh Amirudin dari Ecoton dan Ekspedisi Sungai Nusantara menjadi saksi bisu betapa destruktifnya jejak manusia.
Di hulu Brantas, tepatnya di Arboretum, Batu, Amirudin menemukan sekitar 14 jenis serangga air (makhluk invertebrata) yang sensitif terhadap pencemaran. Keberadaan mereka menandakan kualitas air yang masih sangat bagus. Namun, ironi terjadi hanya dalam jarak 2 km dari titik nol tersebut. Di sana, hanya ditemukan dua jenis serangga—larva cacing dan larva mrutu—yang notabenenya adalah makhluk yang sangat toleran terhadap polusi. Ini menunjukkan bahwa kita gagal menjaga sungai bahkan di halaman depan rumah kita sendiri.
Lebih mengerikan lagi, dari 68 Wilayah Sungai Strategis Nasional yang ia teliti, semuanya positif terkandung mikroplastik. Sungai Brantas mencatat kandungan tertinggi. Mengapa? Karena di sepanjang aliran ini bercokol sebelas industri kertas yang ironisnya menggunakan bahan baku waste paper—kertas bekas yang diimpor dari sekitar 60 negara. Kita mengimpor sampah dunia untuk menopang ekonomi, lalu membayarnya dengan kerusakan ekologis permanen.
Ini adalah bukti empiris dari apa yang disebut oleh seorang Profesor Emeritus of Ethics di Universitas Edinburgh, Michael S. Northcott, dalam God and Gaia sebagai kosmologi mesin (Northcott, 2023, hal 2). Manusia modern memandang alam bukan sebagai entitas hidup yang sakral, melainkan sekadar gudang sumber daya mati yang bisa dieksploitasi tanpa batas demi akumulasi kapital. Dalam paradigma ini, sungai bukan lagi "darah" bagi bumi, melainkan sekadar saluran pembuangan limbah industri. Heidegger dalam Northcott menganalogikannya dengan standing reserve—seperti bendungan yang dapat dihidupkan atau dimatikan sesuka hati (Northcott, 2023, 25).
Mitos Pertumbuhan dan Ekonomi
Kenyataan pahit ini membawa kita pada pertanyaan kedua: Apakah kita bisa menumbuhkan ekonomi atau pembangunan tanpa merusak alam?
Farid Gaban, seorang jurnalis senior dan pemikir lingkungan, dengan tajam menyatakan bahwa pemahaman dominan kita hari ini terjebak dalam dikotomi palsu: kita percaya bahwa satu-satunya cara menumbuhkan ekonomi adalah dengan merusak alam. Pembangunan diartikan sebagai konversi hutan menjadi beton, sungai menjadi kanal limbah, dan gunung menjadi lubang tambang.
Paradigma ini cacat secara fundamental. Kita memperlakukan "emas kuning" (logam mulia) dengan sangat hati-hati, menyimpannya dalam lemari besi terkunci. Namun, terhadap "emas hijau"—hutan, biodiversitas, dan ekosistem yang menjamin keberlangsungan hidup manusia—kita membiarkannya bebas dijarah siapa saja.
Seorang warga Papua—dalam cerita yang dipaparkan Farid Gaban—memberikan perspektif yang menampar logika ekonomi modern kita. Baginya, hutan adalah bank tabungan masa depan. Lebih dalam lagi, ia mengatakan: "Hutan adalah mama. Orang yang merusak hutan seperti memperkosa mama kita." Metafora ini sejalan dengan konsep bumi (gaia) Lovelock and Lynn Margulis’ dalam Northcott, di mana bumi dipandang sebagai organisme hidup, sebuah sistem yang memiliki agensi dan kesakralan (Northcott, 2023, hal 2 dan 6). Di Eropa, orang harus membayar mahal untuk sekadar melihat burung atau menikmati udara bersih dalam skema ekowisata. Di Papua, dan di banyak wilayah Nusantara, kemewahan itu diberikan Tuhan secara gratis, namun kita justru berlomba menghancurkannya atas nama pembangunan.
Jalan Keluar: Menjadi Khalifah, Bukan Wabah
Jadi, apakah bumi lebih baik tanpa manusia? Secara biofisik, mungkin jawabannya "ya" jika manusia yang dimaksud adalah manusia dengan mentalitas eksploitatif. Namun, secara teologis, jawabannya adalah "tidak". Allah menciptakan manusia bukan untuk menjadi wabah, melainkan menjadi khalifah—pemimpin yang memegang amanah perbaikan (islah).
Allah menjawab keraguan malaikat—dalam QS Al-Baqarah [2]: 30—dengan kalimat "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". Ini menyiratkan bahwa di balik potensi kerusakannya, manusia memiliki potensi akal dan spiritualitas untuk mengelola bumi jauh lebih baik daripada makhluk lainnya, jika ia sadar akan posisinya. Manusia dipilih bukan karena ia yang paling tua (sebagai makhluk bungsu, kita hanyalah pendatang), tetapi karena ia memiliki kapasitas untuk memegang mandat moral.
Untuk menjawab tantangan ekonomi tanpa perusakan, kita perlu merombak definisi "maju" itu sendiri. Pembangunan tidak boleh lagi diukur dari seberapa banyak kita mengekstraksi, tetapi seberapa baik kita merawat.
Kuncinya ada pada pendidikan dan kesadaran spiritual. Farid Gaban menyarankan pendidikan dasar yang betul-betul dekat dengan alam. Anak-anak harus diajarkan bahwa tanah bukan sekadar alas kaki, dan air bukan sekadar komoditas kemasan. Pendidikan karakter yang sehat tumbuh dari interaksi yang hormat dengan alam, bukan dari ruang kelas yang teralienasi dari realitas ekologis.
Kita perlu mengadopsi apa yang disebut Whitney A. Bauman sebagai etika planetarian (Bauman, 2014, hal 127) atau dalam bahasa agama (fikih lingkungan). Kita harus bergerak dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi restoratif. Hutan Papua yang dijaga sebagai "Mama" sebenarnya bernilai ekonomi jauh lebih tinggi sebagai penyerap karbon dan pusat biodiversitas dunia daripada jika ditebang menjadi kayu gelondongan. Jangan sampai kita menampakkan kejahiliahan kita dengan menukar sesuatu yang “rendah karbon” menjadi “tinggi korban”. Ekonomi masa depan adalah ekonomi yang merawat kehidupan, bukan yang memanen kematian.
Sebagai penutup, bumi sesungguhnya tidak menginginkan kepunahan manusia, melainkan merindukan kehadiran manusia yang sadar. Kita perlu berhenti memandang diri sebagai penakluk (conqueror) dan mulai bertindak sebagai bagian integral dari komunitas bumi dengan tanggung jawab khusus. Kesadaran semacam ini telah dicontohkan secara nyata oleh Suku Kajang, yang berkat keteguhan hukum adatnya, diakui sebagai penjaga hutan hujan terbaik dunia oleh Washington Post (Rainforest Journalism Fund). Jika kita gagal melakukan transformasi kesadaran seperti mereka, maka prediksi malaikat akan menjadi vonis akhir: kita hanyalah perusak yang pada akhirnya akan dimusnahkan oleh alam. Namun jika berhasil, kita membenarkan pengetahuan Allah bahwa manusia memang layak memegang mandat sebagai wakil Tuhan dalam merawat taman kehidupan.