Hujan tidak pernah sepenuhnya netral dalam kebudayaan manusia. Ia hampir selalu diberi makna, dijadikan bahasa perasaan, atau dipakai sebagai simbol untuk membaca hubungan manusia dengan dunia di sekitarnya.
Dalam berbagai tradisi, hujan bisa hadir sebagai berkah, tanda, peringatan, bahkan ruang kontemplasi. Cara sebuah masyarakat memaknai hujan sering kali mencerminkan bagaimana ia memahami dirinya sendiri dan relasinya dengan alam.
Dalam tulisan saya di Alif.id edisi 28 November 2025 berjudul “November Rain: Melankoli Hujan, Kosmologi Batin dan Spiritualitas Nusantara”, hujan dibaca sebagai ruang duka. Dalam lagu November Rain, hujan tidak hadir untuk menghibur atau merapikan kesedihan. Ia jatuh perlahan, berat, dan memberi waktu bagi kehilangan untuk dialami sepenuhnya. Hujan tidak dituntut untuk membahagiakan. Ia dibiarkan muram, sepi, dan reflektif.
Dalam konteks itu, hujan bukan gangguan, tapi jeda. Ia memberi kesempatan untuk berhenti, menunduk ke dalam, dan menerima bahwa kehilangan adalah bagian dari hidup.
Kesedihan tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus segera disingkirkan, tetapi sebagai pengalaman batin yang sah dan perlu dijalani. Hujan menjadi medium untuk berdamai dengan rapuhnya manusia.
Persoalan Kultural
Pengalaman kultural semacam ini terasa kontras ketika kita berhadapan dengan hujan yang turun berkepanjangan di wilayah Jakarta, Bekasi, dan Tangerang dalam beberapa waktu terakhir. Hujan datang bersama banjir, genangan, dan kemacetan, tetapi hampir tanpa ruang untuk direnungi.
Ia segera diposisikan sebagai masalah teknis yang harus dilewati secepat mungkin. Tidak ada waktu untuk jeda. Yang ada adalah tuntutan agar hidup tetap bergerak, meskipun tubuh dan kota sama-sama kelelahan.
Di sinilah persoalan kultural mulai tampak. Di media sosial, masyarakat merespon kondisi ini dengan ungkapan “happy rain”. Ini mengacu pada “hasil survei" yang menyebut bahwa Indonesia adalah negara paling bahagia di dunia. Maka logikanya hujan yang turun beberapa hari belakangan di negeri ini adalah hujan yang membahagiakan.
Kalimat ini terdengar ramah, santai, bahkan optimistis. Tapi justru di situlah persoalannya. “Happy rain” bekerja sebagai satire halus atas cara manusia modern berelasi dengan gangguan, ketidaknyamanan, dan ketidakteraturan yang berulang.
Ungkapan ini bukan sekadar humor spontan. Ia adalah cara tertentu untuk mengelola perasaan dalam kehidupan urban yang serba cepat dan penuh tekanan.
Dalam ritme kota, kesedihan tidak diberi banyak ruang. Gangguan harus segera dinormalkan, ketidaknyamanan harus dibiasakan, dan emosi negatif perlu diringankan agar tidak menghambat produktivitas. Hujan yang membawa banjir dan kekacauan tidak diberi kesempatan untuk menjadi muram. Ia harus segera “dibuat ceria”.
Di sinilah “happy rain” berfungsi sebagai satire kultural. Ia bukan menertawakan hujan, tapi menertawakan diri kita sendiri yang tidak punya cukup ruang untuk berduka, marah, atau gelisah secara utuh. Bahasa ceria itu menjadi cermin atas kondisi manusia modern yang dipaksa terus berjalan, bahkan ketika relasinya dengan alam sedang bermasalah dan tidak sehat.
Tapi satire ini tidak hadir di ruang kosong. Ia lahir dari pengalaman keseharian yang konkret. Dari banjir yang datang hampir setiap tahun, dari kemacetan yang tak kunjung selesai, dari kelelahan kolektif yang terus menumpuk. Dalam kondisi seperti ini, bahasa ringan menjadi alat bertahan. Ia meredakan tekanan, meski hanya sementara.
Penanda Spiritualitas
Dalam spiritualitas Nusantara, hujan tidak hanya dipahami sebagai berkah, tetapi juga sebagai penanda. Dalam banyak kosmologi lokal, hujan yang berlebihan dibaca sebagai tanda ketidakseimbangan. Ia tidak serta-merta dirayakan, tetapi ditafsirkan. Ada laku batin, prihatin, atau refleksi yang menyertainya. Hujan mengajak manusia menengok kembali hubungannya dengan tanah, hutan, air, dan ruang hidup.
Dalam kerangka ini, banjir bukan sekadar limpahan air, tapi pesan yang gagal dibaca. Ketika hujan turun terus-menerus dan kota tidak siap menampungnya, spiritualitas Nusantara akan melihatnya sebagai isyarat bahwa ada yang timpang dalam cara hidup manusia. Alam bukan latar bagi aktivitas manusia, melainkan mitra relasional yang menuntut kepekaan dan tanggung jawab.
Di titik ini, negara dan masyarakat bisa dibaca ulang secara kultural. Bukan hanya gagal mengelola banjir secara teknis, tetapi juga hidup dalam kebudayaan yang makin kehilangan kepekaan terhadap tanda-tanda alam. Ketika hujan berlebih tidak lagi menimbulkan kegelisahan eksistensial, ada sesuatu yang memudar dalam kesadaran kolektif yaitu rasa hormat terhadap alam sebagai subjek yang memiliki suara.
Dalam konteks ini, “happy rain” bisa dibaca sebagai bentuk spiritualitas kontemporer yang lahir bukan dari ketenangan, melainkan dari keterdesakan hidup sehari-hari. Jika spiritualitas Nusantara klasik memberi ruang pada jeda, keheningan, dan laku prihatin, spiritualitas kota hari ini bekerja dengan cara yang lebih singkat dan praktis. Makna dipadatkan, emosi diringankan, dan refleksi disampaikan lewat humor agar hidup tetap bisa dijalani.
Di tengah keseharian yang kacau, berulang, dan melelahkan, manusia modern merumuskan caranya sendiri untuk tetap utuh. Tidak selalu dengan doa panjang atau perenungan mendalam, tapi lewat bahasa ringan yang bisa segera dipahami dan dibagikan. Humor dan satire menjadi sarana batin agar ketimpangan dan gangguan yang terus datang tidak sepenuhnya merusak daya hidup. Dalam konteks itu, “happy rain” bekerja seperti doa singkat di tengah macet: sederhana, cepat, dan cukup untuk mengatakan bahwa seseorang masih sanggup bertahan, meski keadaan tak banyak berubah.
Namun justru sebagai satire, “happy rain” menyimpan kritik yang penting. Ia memperlihatkan paradoks manusia modern yang dituntut terus menyesuaikan diri, sementara ruang untuk refleksi ekologis dan spiritual semakin menyempit. Ritme hidup yang serba cepat membuat hujan, banjir, dan kerusakan relasi dengan alam lebih sering diolah sebagai gangguan praktis ketimbang tanda yang perlu dibaca.
Di situlah tantangan kebudayaan kita hari ini berada. Bagaimana merawat spiritualitas menjadi titik awal untuk membaca ulang hubungan manusia modern dengan alam, kota, dan cara kita memaknai hidup bersama di masa modern ini.