Surat kabar ‘Indonesia Raya’ terbit dua hari setelah pengakuan kedaulatan RI oleh Kerajaan Belanda, pada 27 Desember 1949. Harian ini dipimpin oleh Mochtar Lubis yang sebelumnya menjadi jurnalis di kantor berita ANTARA. Ia dikenal dengan sikap yang lebih keras dari batu granit. Menurut Mochtar, pers Indonesia harus independen dari pengaruh kekuasaan manapun dan untuk itu ia berani memikul risikonya, sampai-sampai harian ‘Indonesia Raya’ dua kali dilarang terbit.
Selama Orde Lama, Mochtar ditahan selama 10 tahun (1958-1968). Sementara tulisan seputar peristiwa demonstrasi Malari pada 15 Januari 1974 menjadikan harian ‘Indonesia Raya’ ditutup. Sejak itu, Mochtar dilarang menulis di berbagai surat kabar dan masuk daftar hitam. Pada 1975, ia dipenjara oleh rezim Orde Baru selama 10 bulan.
“Dulu istilah yang digunakan itu ‘dilarang terbit’ (untuk harian Indonesia Raya), belum memakai istilah ‘dibredel’,” ungkap Ignatius Haryanto, penulis, peneliti, sekaligus Kaprodi Ilmu Komunikasi di Universitas Multimedia Nusantara yang pernah meneliti cukup mendalam mengenai Mochtar Lubis.
Dalam diskusi di Kedai Tjikini belum lama ini, Ignatius menuturkan bahwa Mochtar Lubis adalah wartawan seangkatan Rosihan Anwar. Mereka sama-sama kelahiran 1922. Sedangkan rekan senior mereka adalah Burhanuddin Mohammad Diah (pendiri Harian Merdeka) dan Suardi Tasrif. Pendirian “Indonesia Raya” juga didukung Kodam Siliwangi karena kakak Mochtar kebetulan tentara di kesatuan tersebut.
Mochtar Lubis pandai berbahasa Inggris dan Belanda. Sejak muda ia sudah menjadi penerjemah dan wartawan. Kemampuan berbahasa asing ini pula yang menjadikan dia termasuk yang awal mengetahui Jepang menyerah, setelah pengeboman Pearl Harbour pada 1945.
Pada tahun 1950an, Mochtar Lubis menjadi satu-satunya wartawan Indonesia yang meliput Perang Korea. Kelak pengalamannya dibukukan dalam buku berjudul “Catatan Perang Korea”. Sedangkan saat dipenjara rezim Orde Baru, ia menulis “Nirbaya: Catatan Harian Mochtar Lubis Dalam Penjara Orde Baru”.
Tapi meskipun memuat laporan-laporan yang serius, termasuk perusakan sumber daya alam dan korupsi di tubuh Pertamina; dua isu yang masih relevan hingga hari ini, Mochtar sesekali juga menyelipkan lelucon April Mop untuk para pembaca. Tak tanggung-tanggung, lelucon dalam bentuk artikel itu ditulisnya di halaman utama.
“Pada suatu edisi, ia menulis tentang rencana kunjungan Ratna Sari Dewi Soekarno ke Indonesia setelah kejatuhan Soekarno. Bahkan Adam Malik, mantan atasannya di kantor berita Antara, juga tak luput dari sasaran lelucon Mochtar. Adam Malik dikabarkan melakukan pertemuan dengan petinggi RRT (China). Hubungannya dengan Adam Malik sangat dekat,” ujar Ignatius.
Mochtar Lubis juga penyuka bunga anggrek. Suatu hari ia membuat prank mengenai adanya anggrek sebesar Rafflesia Arnoldi di Jalan Bonang, Jakarta Pusat. Jalan Bonang adalah kediamannya sendiri. Para pembaca sontak gempar. Tapi tentu saja ketiga berita ini hoaks. Lantas bagaimana cara Mochtar memberitahukan kepada para pembicara yang sudah terlanjur percaya?
“Biasanya redaksi akan menyematkan pemberitahuan di halaman utama berisi permohonan maaf bahwa berita-berita di atas adalah lelucon ‘April Mop’,” kata Ignatius. Sulit dibayangkan jika kejadian serupa dilakukan oleh media massa Indonesia masa kini, bisa-bisa pelakunya sudah dijerat UU ITE.
Aktivitas Susastra dan Mendirikan Yayasan Obor Indonesia
Dicukil dari buku ‘’Wartawan Jihad” yang diterbitkan oleh Gramedia dalam rangka 70 tahun Mochtar Lubis, dikisahkan bagaimana Mochtar memiliki minat yang sangat luas, di luar jurnalistik dan kesusastraan. Perkembangan ideologi komunis di Asia Tenggara pada era 50an dan 60an, termasuk di Indonesia, menjadi keprihatinan besar bagi Mochtar.
Pada tahun 1978, ia bersama P.K Ojong, mendirikan Yayasan Obor Indonesia, yang banyak menerjemahkan buku-buku berbahasa asing ke dalam bahasa Indonesia, juga buku-buku non-fiksi, serta berbagai novel dan kumpulan cerita pendek yang ditulis Mochtar. Salah satu novel yang ditulis dalam masa setelah proklamasi kemerdekaan adalah ‘Jalan Tak Ada Ujung’. Tokoh utamanya bernama Guru Isa, sosok yang lemah lembut dan hidup dalam ketakutan, namun membantu para gerilyawan.
“Dalam revolusi tidak semua orang itu pahlawan dan ketakutan itu wajar. Pandangan inilah yang digambarkan Mochtar dalam karakter Guru Isa,” ungkap Ignatius.
Sebagai sastrawan sekaligus jurnalis, Mochtar menggunakan sastra sebagai bentuk ekspresi diri dan kesenangan. Sementara kerja jurnalistik adalah keharusan. Ia pernah ingin menjadi tentara, tapi dilarang oleh Adam Malik.
“Berjuang saja lewat pena karena yang menjadi tentara sudah banyak, itu kata Adam Malik kepada Mochtar Lubis,” kata Ignatius.
Harian ‘Indonesia Raya’ Pernah Ingin Dibeli Partai Gerindra
Saat Partai Gerindra didirikan pada 2013, Ignatius mengatakan ‘Indonesia Raya’ sempat akan dibeli oleh Gerindra, namun tidak jadi. Cerita ini ia dapatkan dari Atmakusumah, mantan Ketua Dewan Pers. Calon pemimpin redaksinya adalah Fadli Zon. Ignatius mengenang masa-masa itu dan menyampaikan betapa Atmakusumah gelisah karenanya hingga mengajaknya berbincang di telepon hingga berjam-jam.
Hari ini fungsi media sebagai pilar keempat demokrasi jelas mendapatkan tandingan dari masyarakat ‘dunia maya’ atau netizen. Menurut Ignatius, reaksi pembaca internet memang luar biasa banyak, tapi pada umumnya tidak bersifat jangka panjang.
“Ini yang menjadikannya berbeda dengan reaksi publik di era Mochtar Lubis. Pada waktu itu komunikasi masih berjalan satu arah. Kini semua hal dikomentari. Situasi memang sudah berbeda tapi saya kira esensi kritik masih penting. Dulu Mochtar Lubis sampai harus dipenjara, tapi itu justru membuatnya semakin berani mengkritik,” pungkas Ignatius.