Tahun 2026 menandai satu abad kelahiran Asrul Sani. Seorang penyair, budayawan, intelektual, dan salah satu pemikir kebudayaan Indonesia yang sejak awal menyadari bahwa persoalan terbesar manusia modern bukan semata-mata kemiskinan material atau ketertinggalan teknologi, melainkan kehilangan orientasi dalam menghadapi perubahan zaman.
Bagi Asrul Sani, kebudayaan bukan sekadar hasil karya seni atau warisan masa lalu yang disimpan di museum sejarah. Kebudayaan adalah proyek eksistensial manusia. Sebuah ikhtiar yang terus-menerus dikerjakan untuk menjawab tantangan hidup, memahami kenyataan, dan mempertahankan martabat manusia di tengah perubahan dunia yang tak pernah berhenti.
Hari ini, seratus tahun setelah kelahirannya, kegelisahan Asrul justru terasa semakin dekat dengan kehidupan kita. Dunia sedang bergerak dalam percepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Teknologi berkembang melampaui imajinasi manusia. Kecerdasan artifisial mulai mengubah cara berpikir dan bekerja. Krisis ekologis mengancam keberlangsungan hidup. Polarisasi identitas dan ketegangan geopolitik semakin mengeras. Sementara itu, manusia modern hidup di tengah limpahan informasi, tetapi sering kehilangan kemampuan untuk menemukan makna.
Dalam situasi seperti inilah pemikiran Asrul menemukan relevansinya.
Melalui Manifesto Kebudayaan Lesbumi tahun 1966, Asrul mengingatkan bahaya sekularisasi yang ekstrem: kecenderungan manusia modern untuk memberikan kedudukan yang sakral kepada hal-hal yang sesungguhnya bersifat duniawi. Ideologi, nasionalisme, demokrasi, sosialisme, bahkan berbagai "isme" lainnya berpotensi berubah menjadi berhala-berhala baru ketika diperlakukan sebagai sumber kebenaran mutlak dan pengganti agama.
Hari ini, peringatan tersebut terasa semakin aktual. Berhala-berhala itu tidak lagi hadir hanya dalam bentuk ideologi politik. Ia menjelma dalam berbagai wajah baru: pasar yang dipuja seolah mampu menyelesaikan seluruh persoalan manusia, teknologi yang dianggap sebagai penyelamat peradaban, algoritma yang menentukan selera dan kesadaran publik, serta budaya populer yang perlahan membentuk cara manusia memandang dirinya sendiri.
Di hadapan berhala-berhala modern itu, manusia perlahan kehilangan kebebasan batinnya. Ia merasa merdeka, tetapi sesungguhnya digerakkan oleh kekuatan-kekuatan yang tidak lagi disadarinya. Ia memiliki semakin banyak pilihan, tetapi semakin sedikit kesempatan untuk merenungkan makna dari pilihan-pilihannya.
Asrul melihat bahwa ketika ideologi, pasar, atau teknologi mulai diperlakukan layaknya agama, yang pertama kali menjadi korban adalah kebudayaan. Seni kehilangan kebebasannya dan berubah menjadi alat propaganda. Pengetahuan kehilangan kebijaksanaannya dan berubah menjadi instrumen kekuasaan. Agama kehilangan kedalaman spiritualnya dan direduksi menjadi identitas atau simbol-simbol formal.
Karena itu, Asrul menolak dua sikap yang sama-sama keliru. Di satu sisi, ia menolak penyembahan terhadap modernitas. Namun di sisi lain, ia juga menolak romantisme masa lalu yang hanya sibuk mengutuk perubahan.
Baginya, budaya massa, industrialisasi, dan perkembangan teknologi bukanlah musuh yang dapat diusir begitu saja. Semua itu telah menjadi lingkungan hidup manusia modern. Tantangannya bukan bagaimana melarikan diri dari modernitas, melainkan bagaimana tetap menjadi manusia yang utuh di dalamnya.
Di sinilah Asrul mengajukan sesuatu yang sangat penting: keberanian untuk melakukan otokritik kebudayaan.
Ia mengingatkan bahwa sering kali yang membuat kita gagal menghadapi perubahan bukan karena perubahan itu terlalu besar, melainkan karena ukuran-ukuran kebudayaan yang kita gunakan sudah tidak memadai lagi. Kita terlalu sering mempertahankan bentuk, tetapi kehilangan ruh. Kita terlalu sibuk menjaga warisan, tetapi lupa menghidupkan kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya.
Karena itu, kembali ke akar bukanlah upaya memutar jarum sejarah ke belakang. Kembali ke akar adalah keberanian untuk menggali sumber-sumber kebijaksanaan yang hidup dalam tradisi, lalu membawanya ke dalam percakapan dengan realitas zaman yang terus berubah.
Sebagai jalan keluar dari krisis tersebut, Asrul menawarkan sebuah pandangan kebudayaan yang bertumpu pada harmoni antara agama, ilmu pengetahuan, dan seni.
Agama memberi arah dan kedalaman makna. Ilmu pengetahuan membantu manusia memahami serta mengelola kenyataan. Seni menjaga kehalusan rasa dan menghubungkan manusia dengan pengalaman kemanusiaannya yang paling mendalam. Ketiganya bukan wilayah yang saling menegasikan, melainkan tiga unsur yang membentuk keutuhan manusia dan peradaban.
Dalam semangat itulah Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 diselenggarakan.
Tidak semata sebagai forum diskusi, Muktamar yang barangkali pertama di Indonesia setelah Perdebatan Kebudayaan 1950-1965 ini merupakan ajakan untuk kembali membincangkan kebudayaan secara radikal—dalam arti kembali ke akar persoalan. Menghadirkan kembali kebudayaan sebagai fondasi pembangunan bangsa. Sebab bangsa tidak hanya dibentuk oleh politik, ekonomi, dan teknologi. Bangsa dibentuk oleh cara pandangnya tentang manusia, tentang pengetahuan, tentang alam, tentang Tuhan, dan tentang masa depan. Semua itu adalah wilayah kebudayaan.
Peringatan satu abad Asrul Sani menjadi momentum untuk membuka kembali percakapan besar yang selama ini sering terpinggirkan: percakapan tentang arah peradaban Indonesia. Tentang bagaimana kita dapat menjadi bangsa yang modern tanpa kehilangan akar, maju tanpa kehilangan nurani, dan berdaya saing tanpa kehilangan kemanusiaan.
Karena ketika politik kehilangan visi, ekonomi kehilangan etika, dan teknologi kehilangan arah, kebudayaanlah yang harus kembali menjadi kompas.
Maka Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 bukanlah sekadar pertemuan para budayawan. Ia adalah ikhtiar untuk menegaskan kembali bahwa masa depan Indonesia pada akhirnya adalah pertaruhan kebudayaan.