Dalam budaya kita, di banyak tempat di Nusantara, orang kadang percaya bahwa benda-benda tertentu menyimpan “nuansa” tertentu. Rumah bisa terasa “angker”. Pohon dianggap membawa tuah. Laut punya waktu-waktu yang tidak boleh diganggu. Bahkan nama kadang dipercaya memengaruhi jalan hidup seseorang.
Karena itu, ketika PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyederhanakan nama Argo Bromo Anggrek menjadi KA Anggrek setelah kecelakaan kereta di Bekasi Timur (Harian Kompas, edisi 10/5/2026 halaman 5), publik segera menangkapnya bukan sekadar sebagai perubahan administratif. Tapi ada kesan bahwa sesuatu sedang “dibersihkan”.
Reaksi semacam ini menarik dibaca dari sudut antropologi dan religiositas Nusantara. Sebab di Indonesia, musibah hampir tidak pernah dipahami hanya sebagai peristiwa teknis. Kecelakaan memang bisa dijelaskan lewat data, gangguan sistem, atau kesalahan manusia. Namun di lapisan yang lain, masyarakat juga merasa bahwa sebuah tragedi meninggalkan jejak batin yang perlu dipulihkan. Di sinilah simbol bekerja.
Cara Budaya Merawat
Kita sering terlalu cepat menyebutnya takhayul. Padahal dalam banyak tradisi lokal, tindakan simbolik justru merupakan cara masyarakat menjaga ketenangan bersama. Ketika ada kematian, orang menggelar tahlilan. Ketika desa terkena pagebluk, masyarakat mengadakan selamatan. Ketika laut dianggap “marah”, nelayan membuat sedekah laut. Semua itu bukan sekadar urusan mistik, tetapi cara budaya merawat rasa aman sosial.
Antropolog Clifford Geertz pernah menulis bahwa manusia hidup dalam jaringan makna yang ia tenun sendiri. Melalui simbol, ritual, dan tradisi, manusia berusaha membuat dunia terasa dapat dipahami.
Maka, perubahan nama kereta dapat dilihat sebagai bagian dari upaya memberi makna baru pada peristiwa yang menyedihkan. Nama lama sudah telanjur melekat dengan kecelakaan. Nama baru diharapkan membawa suasana baru.
Dalam logika masyarakat modern yang sangat rasional, hal seperti ini mungkin dianggap tidak penting. Tetapi Indonesia tidak pernah sepenuhnya hidup dalam satu cara pandang. Modernitas di negeri ini selalu berjalan berdampingan dengan warisan budaya lama.
Orang menggunakan teknologi digital, tetapi tetap mencari hari baik untuk menikah. Orang bekerja di gedung bertingkat, tetapi masih mengadakan doa bersama ketika membuka kantor baru. Kemajuan teknologi ternyata tidak otomatis menghapus kebutuhan manusia akan simbol.
Karena itu, perubahan nama kereta sebenarnya menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih melihat keselamatan sebagai sesuatu yang lebih luas daripada sekadar urusan teknis. Keselamatan juga berkaitan dengan suasana batin, hubungan sosial, dan rasa tenteram bersama. Dalam tradisi Nusantara, hidup yang aman bukan hanya hidup yang bebas dari bahaya, tetapi hidup yang terasa selaras.
Pandangan seperti ini terlihat dalam banyak ritual lokal. Dalam tradisi Jawa ada ruwatan, yakni upacara untuk membebaskan seseorang dari nasib buruk atau keadaan yang dianggap membawa beban hidup. Namun ruwatan bukan hanya soal doa. Di dalamnya ada pesan moral bahwa hidup harus dijalani dengan lebih hati-hati, lebih tertib, dan lebih sadar terhadap hubungan dengan orang lain.
Persoalan yang Terlupakan
Di sinilah letak persoalan yang sering terlupakan hari ini. Kita menyukai simbol, tetapi kerap memisahkannya dari tanggung jawab etis. Ritual dipelihara, tetapi makna sosialnya mengecil. Selamatan berlangsung, tetapi kebiasaan yang menimbulkan masalah tetap dibiarkan. Akibatnya, simbol hanya menjadi penenang sesaat.
Padahal dalam tradisi Nusantara, simbol seharusnya tidak berdiri sendiri. Ia selalu terkait dengan laku hidup. Orang tidak cukup hanya berdoa meminta keselamatan, tetapi juga harus menjaga sikap, menghormati aturan, dan memperbaiki hubungan sosial. Keselamatan dipahami sebagai hasil dari cara hidup bersama yang dijaga terus-menerus.
Karena itu, perubahan nama kereta menjadi menarik bukan karena unsur “buang sial”-nya, tapi karena ia memperlihatkan cara masyarakat Indonesia memahami musibah. Kita tidak hanya ingin tahu penyebab kecelakaan. Kita juga ingin memulihkan rasa aman yang hilang. Nama baru menjadi semacam penanda bahwa perjalanan harus dimulai lagi dengan suasana berbeda.
Namun, di sinilah tantangan besarnya. Jangan sampai perubahan simbol membuat perhatian terhadap persoalan yang lebih mendasar justru melemah. Sebab kecelakaan transportasi tidak lahir dari ruang kosong. Ia biasanya muncul dari kebiasaan yang dianggap biasa seperti pengawasan yang longgar, disiplin yang menurun, kelelahan kerja, atau budaya yang terlalu sering menoleransi risiko.
Dalam banyak kasus di Indonesia, kita memang sering lebih cepat memperbaiki suasana daripada memperbaiki sistem. Setelah tragedi terjadi, yang segera bergerak biasanya citra dan bahasa. Nama diganti, slogan diperbarui, narasi diperhalus. Semua itu mungkin membantu meredakan kegelisahan publik. Akan tetapi, keselamatan tidak bisa dibangun hanya lewat suasana.
Di titik ini, religiositas Nusantara sebenarnya memberi pelajaran penting. Dalam tradisi lokal, bala tidak selalu dipahami sebagai gangguan gaib. Ia juga bisa muncul dari perilaku manusia sendiri. Laut dianggap membawa bencana ketika manusia rakus. Tanah dipercaya menjadi “panas” ketika hubungan sosial rusak. Artinya, musibah sering dilihat sebagai pengingat bahwa ada tata hidup yang perlu dibenahi.
Cara pandang seperti ini sesungguhnya relevan untuk Indonesia hari ini. Kita membutuhkan teknologi, sistem keselamatan, dan pengawasan modern. Tetapi kita juga membutuhkan kesadaran moral bahwa keselamatan publik adalah tanggung jawab bersama. Rel kereta tidak cukup dijaga dengan mesin dan jadwal. Ia juga membutuhkan disiplin, etika kerja, dan penghormatan terhadap nyawa manusia.
Karena itu, perubahan nama kereta seharusnya tidak berhenti sebagai cerita ringan tentang citra atau “buang sial”. Ia dapat menjadi cermin bahwa masyarakat Indonesia masih hidup dengan keyakinan lama: bahwa hidup perlu dirawat, bukan sekadar dijalankan. Dan dalam tradisi Nusantara, merawat hidup tidak cukup dilakukan lewat simbol, tetapi juga lewat kesediaan memperbaiki cara hidup bersama.
Mungkin di situlah arti paling penting dari “ruwatan” hari ini. Bukan sekadar mengganti nama, melainkan keberanian untuk membersihkan kebiasaan buruk yang selama ini dianggap biasa.