Muawiyah bin Abi Sufyan memulai karier politiknya sebagai penguasa ketika ia dilantik sebagai Gubernur Syiria oleh Khalifah Umar bin Khattab. Ia membuktikan kecakapan dan kejeniusannya sebagai pemimpin dengan membentuk angkatan laut pertama kali dalam sejarah tentara Islam.
Setelah perang Siffin, tonggak kepemimpinan umat Islam dipasrahkan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan. Di saat menjadi Khalifah, Muawiyah bin Abi Sufyan banyak melakukan perubahan dan kebijakan-kebijakan politik.
Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam karyanya Tarikh Al-Khulafa' Juz, 1, hlm. 331, menjelaskan tentang kebijakan-kebijakan Muawiyah bin Abi Sufyan saat menjadi Khalifah pertama Dinasti Umayyah.
Diantara kebijakannya, ia pernah berkhutbah dalam posisi duduk, hal itu ia lakukan karena bertambah berat badannya. Dan ia pertama kali yang berkhutbah sebelum melaksanakan shalat Ied, dan juga menambah Azan sebelum shalat Ied.
Dan ia membuat kantor-kantor pos untuk mempermudah pengiriman surat. Ia yang pertama kali membuat stempel di surat, dan stempel nama lembaga, dan juga membuat salam penghormatan kepada para Khalifah. Adapun redaksi salam itu, tertera sebagai berikut:
السلام عليك يا أمير المؤمنبن ورحمة الله وبركاتة، الصلاة يرحمك الله
“Keselamatan semoga selalu terlimpahkan kepadamu wahai Amirul Mukminin, begitu juga limpahan rahmat Allah dan barokahnya, marilah kita salat, semoga Allah memberikan rahmat kepadamu.
Untuk menghibur rakyatnya, Muawiyah bin Abi Sufyan membangun tempat rekreasi dan memfasilitasi tempat permainan untuk anak-anak. Kebijakan tersebut mendapat dukungan dan respons yang baik dari rakyatnya.
Akan tetapi ada kebijakan Muawiyah bin Abi Sufyan yang berkaitan dengan roda perpolitikan yang menuai kontroversi. Menurut penuturan Syekh Hasan Al-Bashri bahwa paling jeleknya kebijakan manusia ada dua perkara:
Pertama, kebijakasan Muawiyah bin Abi Sufyan untuk mengangkat mushaf saat pasukannya berperang melawan pasukan Sayyidina Ali dalam perang Shiffin. Kebijakan tersebut isyarat dari Amru bin Ash. Kebijakan itu menimbulkan perpecahan diantara umat Islam sampai hari kiamat.
Kedua, hal yang terjadi kepada Mughirah bin Syu'bah. Pada suatu hari Muawiyah bin Abi Sufyan menulis surat, kemudian ia berkata kepada Mughirah bin Syu'bah, "Ketika kamu membaca suratku kamu akan dilengserkan dari jabatanmu". Mughirah bin Syu'bah menunda untuk membaca surat itu, kemudian Muawiyah bin Abi Sufyan menimpalinya, "Kenapa kamu menunda-nunda untuk membuka suratku".
Mughirah bin Syu'bah berkata, "Apa isi dari suratmu ini". Muawiyah bin Abi Sufyan menjawab, "Isi surat ini adalah untuk membaiat atau melantik anakku, Yazid". Mughirah bin Syu'bah berkata, "Apakah kamu sudah melakukan itu". Muawiyah bin Abi Sufyan menjawab, "Iya, aku telah melakukan itu, kembalilah kamu pada pekerjaanmu".
Isi surat itu, untuk melantik putra mahkota, yaitu, Yazid bin Muawiyah. Hal tersebut dikomentari oleh Hasan bin Ali, "Andaikan Muawiyah bin Abi Sufyan tidak melantik Yazid sebagai Khalifah, niscaya cara memilih pemimpin itu melalui musyawarah sampai hari kiamat". Wallahu a'lam.