Hidup tapi mati
Atau layu tapi tumbuh?
Di dunia ini apakah masih ada kasih?
Masih ada yg mendatangkan kebaikan?
Akhir zaman pasti memiliki tantangan yang keras. Namun, tetap percaya bahwa rahmat Gusti Allah lebih luas dan abadi setiap saat. Karena itu, saya percaya kasih masih ada di dunia ini. Hal ini yang menghasilkan "Malam Tirakatan".
Malam Tirakatan adalah tradisi lama bahkan sudah menjadi kewajiban, seperti di Jawa Tengah dan Yogyakarta, dalam menyambut hari kemerdekaan, 17 Agustus. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas kemerdekaan Republik Indonesia dan menjadi wadah berkumpulnya para warga dalam menjalin silaturahim bersama.
Namun, hal ini menjadi tradisi baru di kampung saya, Blok Kaum, yang berada di Desa Gebang Udik, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon. Banyak cerita ketika saya dan tiga teman saya, diantaranya, Bahrul, Abil, dan Nashrul, selaku panitia 17an untuk sowan kepada para sesepuh di kampung kami.
Acara yang terkesan ndadakan ini sempat membuat kami tidak nyaman disaat sowan kepada para sesepuh desa. Tertanggal waktu sowan pada 16/08/25, antara pukul 11.00 WIB sampai 19.00 WIB. Sementara acara dimulai pukul 20.00 WIB. Sangatlah tidak sopan atau dalam bahasa Cirebon ‘langka unggah-ungguhe’. Namun demi mewujudkan Malam Tirakatan, kami mencoba tetap memberanikan diri untuk sowan.
Di luar dugaan, warga di kampung kami begitu antusias, terutama sewaktu sowan Ibu Nyai Hj. Fatimah alias Nyai Imah. Beliau adalah modin perempuan di desa yang berusia sekitar 70an tahun. Beliau mengungkapkan dalam bahasa Cirebon, “merinding kayane kah uwis, durung acan-acan wis merinding. Seneng kayane kah. Semoga aja udan nggih”, dengan terharu lirih. Kami pun seketika diam tertunduk.
Malam Tirakatan ini memang sakral. Nyai Imah pun sampai merinding meski acaranya belum dimulai. Begitu pun dengan Ibu Hj. Toyibah, sebagai salah satu penggerak Ibu-ibu jam'iyyah di masjid kami.
Beliau mengatakan, "Iya bener cung, anggo tolak bala ari acara mengkenen kah. Bareng-bareng ng dalan toli donga nganggo keselamatanne wong kaum ya.”
Kami memberitahukan, bahwa Malam Tirakatan akan diadakan di jalan kampung, bukan di masjid atau mushola, atau di tempat lain. Jadi, Ibu Hj. Toyibah mengungkapkan bahwa acara seperti Malam Tirakatan memiliki ritual agama dan merupakan cara untuk meminta perlindungan kepada Allah Swt.
Malam 17an bertepatan dengan malam Minggu yang merupakan jadwal marhabanan jamiyah ibu-ibu di masjid kami, untuk menghindari libur marhabanan ibu-ibu, kami mengusulkan untuk marhabanan jamiyah ibu-ibu masuk dalam rangkaian Malam Tirakatan.
Acara dimulai dengan menyanyikan Indonesia Raya dan Ya Lal Wathon bersama, dilanjut dengan kirim arwah kepada pahlawan Indonesia dan tokoh lokal Cirebonan, kemudian marhabanan, dan ditutup dengan do’a. Sesi berikutnya adalah nobar (nonton bersama) film perjuangan Indonesia dengan judul film “Sang Kyai”.
Acara berjalan begitu nikmat dan membahagiakan hati. Terlebih antusias warga yang hadir dari beragam usia, mulai dari lansia, dewasa, remaja, hingga anak-anak. Semoga di tahun berikutnya banyak warga dari kampung saya turut bergabung, karena ini memang tanpa undangan, artinya terbuka untuk umum.
Langkah awal yang baik dari tradisi ini sehingga bisa istiqomah membawa kasih, mendatangkan kebaikan di tempat tinggal kami. Semoga tempat tinggal kami terutama Negeri Indonesia terhindar dari suatu kerusakan, kerugian, serta keburukan.
Semoga, Gusti Allah nyembadani.