Hari Raya Idulfitri selalu menjadi momen istimewa yang dinanti setelah sebulan penuh umat Islam menjalani ibadah puasa. Lebih dari sekadar hari kemenangan, Idulfitri pada hakikatnya adalah momen kembali ke fitrah. Saat hati kembali bersih dan jiwa pun menjadi tenang, manusia diajak untuk kembali merenungkan posisi esensialnya di hadapan Tuhan dan alam semesta.
Di momen yang sarat akan pesan kedamaian ini, mari kita sejenak bertafakur melihat dunia, membentangkan pandangan dari lembaran-lembaran kitab kuning ke hamparan luas kepulauan di Laut China Selatan (Jazur fi Bahr As-Siin Al-Janubiy).
Dalam memandang alam semesta, khazanah keilmuan Islam memiliki satu ensiklopedia kosmografi yang sangat melegenda, yakni kitab 'Ajā'ib al-Makhlūqāt wa-Gharā'ib al-Mawjūdāt (Keajaiban Makhluk dan Keunikan yang Ada di Alam) karya ilmuwan Persia abad ke-13, Zakariya al-Qazwini (1203–1283 M). Melalui kitab ini, Al-Qazwini memotret tatanan tata surya, rasi bintang, hingga keajaiban flora, fauna, dan makhluk-makhluk unik yang mendiami bumi.
Al-Qazwini mengingatkan kita bahwa memperhatikan alam semesta bukanlah sekadar mengarahkan pandangan kosong. Beliau mengutip anjuran, "Berpikirlah kalian tentang ciptaan Allah," yang bermakna bahwa kita harus merenungkan alam dengan akal yang mendalam untuk mencari tahu rahasia dan hikmah kebesaran Tuhan di balik segala sesuatu.
Menurut Al-Qazwini, manusia pada dasarnya adalah "sari pati dari alam" yang menghimpun tiga sifat sekaligus: sifat tumbuhan (tumbuh), sifat hewan (bergerak/buas), dan sifat malaikat (mengetahui hakikat kehidupan). Apabila manusia condong pada kehewanannya, ia akan menjadi rakus, buas, dan kehilangan "nur" atau cahaya Allah.
Sifat rakus dan ego kehewanan inilah yang hari ini sayangnya lebih banyak mewarnai wajah perairan Laut China Selatan. Kawasan maritim yang membentang luas ini kini terjebak dalam pusaran konflik dan klaim wilayah yang panas antara Tiongkok dengan negara-negara ASEAN (seperti Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Brunei).
Laut China Selatan diperebutkan habis-habisan karena potensi materinya yang luar biasa; menyimpan cadangan gas sekitar 266 triliun kaki kubik dan 7,7 miliar barel cadangan minyak, serta menjadi jalur perikanan dan pelayaran yang sangat vital.
Tiongkok bahkan menggunakan klaim historis "Nine-Dash Line" (sembilan garis putus-putus) dengan dalih wilayah tangkapan ikan tradisional (traditional fishing ground), sebuah klaim sepihak yang kerap berbenturan dengan kedaulatan negara pesisir lain dan bertentangan dengan hukum laut internasional UNCLOS 1982.
Di sinilah relevansi spiritualitas Idulfitri dan kosmologi Al-Qazwini menemukan titik temunya. Jika negara-negara modern hanya melihat Laut China Selatan sebagai objek eksploitasi geopolitik dan sumber daya alam (memperturutkan sifat buas kehewanan), Al-Qazwini dalam Ajaibul Makhluqat mengajak kita melihat lautan dan kepulauannya (jazirah) sebagai galeri keajaiban Tuhan.
Bagi para mufassir dan ilmuwan klasik, lautan menyimpan keanekaragaman hayati yang menakjubkan. Dalam kitabnya, Al-Qazwini tidak hanya mencatat anatomi alam, tetapi juga menceritakan makhluk-makhluk unik, serta khasiat penyembuhan dari berbagai hewan dan flora yang hidup di pesisir dan lautan. Alam dipandang sebagai ayat-ayat kauniyah yang harus dijaga, bukan sekadar dieksploitasi untuk memperkaya suatu imperium politik.
Di hari yang suci ini, kita patut merenung: tidak adakah ruang bagi kedamaian di Bahr As-Siin Al-Janubiy? Mengembalikan Laut China Selatan kepada fitrahnya berarti mengembalikannya sebagai wilayah ekologi yang membawa berkah (sebagaimana spirit ajaran Islam yang rahmatan lil 'alamin), bukan arena unjuk kekuatan armada militer.
Melalui kacamata Ajaibul Makhluqat, lautan beserta gugusan pulaunya adalah warisan keajaiban Tuhan yang memanggil manusia untuk bersyukur, berbagi, dan menjaga keseimbangan alam, bukan merusaknya atas nama perbatasan buatan manusia.
Semoga spirit Idulfitri 1447 H mampu melembutkan hati para pemimpin dunia, membasuh ego negara-negara yang berkonflik, dan menjadikan dunia dari Timur Tengah hingga ke hamparan Laut China Selatan sebagai tempat di mana keajaiban ciptaan Allah dapat terus dirawat dan dikagumi dalam damai.