Apa sih yang terlintas di pikiran kita ketika mendengar kata pembangunan ekonomi? Kebanyakan orang langsung membayangkan tentang pendapatan yang naik, gedung-gedung yang tinggi, atau semakin majunya suatu negara. Singkatnya kalau ekonominya tumbuh dan uangnya banyak maka pembangunan dianggap berhasil. Tapi, apakah pembangunan benar-benar hanya soal uang? Nah, melalui buku Ekonomi Pembangunan Islam ini, pembaca diajak memahami bahwa pembangunan memiliki makna yang jauh lebih dalam dan berkaitan langsung dengan kehidupan manusia secara keseluruhan.
Di bab pertama, buku ini menjelaskan bahwa pembangunan ekonomi sudah mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu. Dulu, keberhasilan ekonomi dilihat dari angka PDB atau pendapatan per kapita. Tapi seiring berjalannya waktu, pandangan ini dianggap tidak sesuai dengan kenyataan. Banyak negara yang pendapatannya naik tapi rakyatnya masih ada yang hidup dalam kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakadilan. Makanya, sekarang pembangunan dipahami sebagai perubahan menuju hidup yang lebih baik, mencakup kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial. Intinya pembangunan harus mempunyai paradigma yang jelas, dan dalam buku ini, paradigmanya adalah agama Islam.
Masuk ke bab dua, penulis menjelaskan beberapa masalah yang terjadi di negara berkembang termasuk negara muslim. Seperti kemiskinan, pengangguran, inflasi, kesenjangan pendapatan, serta perbedaan pembangunan yang jelas antara wilayah kota dan desa. Buku ini menegaskan bahwa masalah tersebut terjadi bukan karena faktor agama, melainkan sistem ekonomi yang belum berpihak pada rakyat kecil. Kekayaan sering kali hanya berputar di lingkaran segelintir orang, sehingga pembangunan tidak dirasakan secara adil oleh semua lapisan masyarakat.
Selanjutnya pada bab tiga dijelaskan beberapa teori ekonomi konvensional, mulai dari teori pertumbuhan linear, perubahan struktural, sampai teori ketergantungan yang menjelaskan bahwa negara berkembang susah maju karena ketergantungan pada negara maju. Sementara itu, teori neoklasik berpendapat bahwa peran pemerintah yang terlalu besar malah akan menghambat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Selain teori lama, buku ini juga mengulas teori pertumbuhan baru yang mulai sadar pentingnya investasi pada manusia, seperti pendidikan dan keterampilan.
Bagian yang paling menarik menurut saya ada di bab keempat. Di bab ini dijelaskan bahwa dalam ekonomi pembangunan Islam, pembangunan tidak hanya soal materi, tapi juga pada nilai moral dan spiritual. Penulis mengambil pemikiran Ibnu Khaldun dan konsep Maqashid Syariah dari As Syatibi untuk menunjukkan bahwa tujuan ekonomi adalah menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Pembangunan Islam harus menciptakan kesejahteraan yang seimbang antara dunia dan akhirat.
Tentu saja buku ini punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya, buku ini mampu menyederhanakan teori yang berat menjadi penjelasan yang mudah dipahami pembaca. Penjelasannya sangat lengkap dan objektif. Namun, kekurangannya buku ini sangat tebal sehingga harus benar-benar mengumpulkan niat yang banyak untuk membacanya.
Kesimpulannya, buku ini menyadarkan kita bahwa pembangunan itu subjek utamanya adalah manusia, bukan sekadar angka statistik. Penulis berhasil menjelaskan bahwa inti pembangunan adalah bagaimana manusia bisa hidup layak, adil, dan sejahtera secara lahir batin. Buat mahasiswa yang ingin memperluas cara pandang tentang ekonomi yang lebih “memanusiakan manusia”, buku ini sangat layak untuk dijadikan referensi utama.
Judul Buku : Ekonomi Pembangunan Islam
Penulis : A. Jajang W. Wahri, Cupian, M. Nur Rianto Al Arif, Tika Arundina, dkk.
Penerbit : Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah – Bank Indonesia
Tahun Terbit : 2021
ISBN : 978-602-60042-7-7
Tebal Buku : 543 Halaman