Dalam seri renungan Ayat al-Kursi ini, kita telah menelusuri dua nama pembuka: Al-Hayyu dan Al-Qayyum, yang mengajak kita melepaskan sandaran dari makhluk dan kembali kepada sumber kehidupan sejati. Kini kita memasuki jantung dari ayat yang oleh Nabi saw disebut sebagai ayat terbesar dalam al-Qur'an. Di sini, kita berhadapan dengan gambaran kosmologis yang seharusnya membuat kita berhenti bernapas sejenak.
Wasi'a kursiyyuhus-samawati wal-ardh. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Satu kalimat itu menyimpan kedalaman yang telah diperdebatkan para ulama terbesar sepanjang sejarah peradaban Islam, dan setiap penafsiran yang lahir dari perdebatan itu memperbesar kekaguman kita, bukan menguranginya.
Lebih dari Sekadar Singgasana
Sebagian ulama memahami kata kursi sebagai tempat kaki, dan dari situlah lahir terjemahan umum footstool yang sesungguhnya tidak memuaskan. Al-Tabari dan Al-Razi menolak penyempitan makna itu. Keduanya cenderung memahami kursi sebagai nama lain dari ‘arsy, singgasana ilahi itu sendiri, bukan sandaran kakinya. Dan dalam kosmologi Islam yang mapan, kursi justru berada di atas seluruh kosmos yang kita kenal, sementara ‘arsy berada di atas kursi, susunan keagungan yang satu mengatasi yang lain tanpa pernah bisa kita rengkuh sepenuhnya.
Ibnu Kathir dalam tafsirnya meneruskan kepada kita pernyataan Ibnu Abbas, sahabat Nabi yang dijuluki Tarjuman al-Qur'an, juru tafsir al-Qur'an yang paling dipercaya. Ibnu Abbas berkata bahwa langit dan bumi dibandingkan dengan Kursi Allah bagaikan sebuah cincin kecil yang dilemparkan ke tengah padang belantara yang tidak bertepi.
Resapi analogi itu dengan perlahan. Sebuah cincin dilemparkan ke hamparan gurun yang tidak berujung dan tidak bertepi. Itulah perbandingan antara seluruh langit dan bumi, termasuk galaksi Bima Sakti dengan lebih dari 200 miliar bintangnya, termasuk alam semesta yang dapat kita amati sejauh 46 miliar tahun cahaya, dengan Kursi-Nya. Dan ‘Arsy bahkan meliputi Kursi itu. Setelah menyerap ini, masalah apakah yang masih terasa terlalu besar untuk dibawa ke hadapan-Nya?
Ilmu yang Tidak Melewatkan Apapun
Al-Razi menambahkan satu lapisan makna lagi yang tak kalah menggetarkan. Menurutnya, kursi dalam ayat ini dapat dipahami secara metonimikal sebagai ilmu, kedaulatan, dan otoritas, sebagaimana kata mahkota digunakan untuk merujuk kepada seorang raja tanpa harus menyebut raja itu sendiri. Dalam pembacaan ini, ayat itu berkata kepada kita bahwa ilmu Allah-lah yang sesungguhnya meliputi langit dan bumi, bahwa tidak ada satu sudut keberadaan pun yang luput dari pengetahuan-Nya, dan tidak ada satu kisah hidup manusia pun yang terlewat dari perhatian-Nya.
Ini adalah obat yang sangat konkret bagi perasaan yang paling menyiksa dalam kehidupan modern: perasaan tidak terlihat. Perasaan bahwa perjuangan kita tidak ada yang menyaksikan, bahwa air mata yang tumpah di malam-malam sepi tidak ada yang mengetahui, bahwa beban yang kita pikul sendirian tidak ada yang benar-benar peduli. Al-Kursi membantah semua itu. Ilmu-Nya yang meliputi langit dan bumi berarti tidak ada satu pun kisah hidup manusia yang benar-benar tersembunyi dari-Nya.
Dan di sinilah Ayat Kursi bertemu dengan kehidupan sehari-hari kita paling langsung: ketika kita merasa terlalu kecil, terlalu lelah, dan terlalu tidak penting untuk diperhatikan, gambaran kursi yang meliputi langit dan bumi justru mengingatkan bahwa skala keagungan-Nya tidak berbanding lurus dengan jarak perhatian-Nya. Semakin besar Ia, semakin tidak ada yang terlalu kecil untuk luput dari pengawasan-Nya.