Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Layar ponsel masih menyala di atas meja, memancarkan cahaya biru yang dingin ke wajah seseorang yang sudah lama seharusnya tidur. Notifikasi pekerjaan yang tak kunjung selesai, pesan yang menumpuk tanpa jawaban, tenggat waktu yang berdiri tegak seperti tembok di setiap sisi. Di sudut kamar yang sunyi itu, seseorang berbaring dengan mata terbuka, mencoba memahami mengapa hidup terasa begitu menyesakkan padahal ia tidak pernah berhenti berusaha.
Kecemasan bukan lagi milik orang-orang tertentu. Ia telah menjadi epidemi senyap yang merayapi ruang-ruang pribadi jutaan Muslim urban, tumbuh subur di balik fasad kesibukan dan pencapaian. Takut kehilangan pekerjaan. Takut tidak cukup untuk keluarga. Takut gagal di mata orang-orang yang selama ini menggantungkan harapan pada kita. Kita hidup di era yang paradoks, lebih terhubung dari sebelumnya namun lebih sunyi dari yang pernah terasa.
Kita bersandar pada pasangan, lalu pasangan pun kelelahan menanggung beratnya sendiri. Kita bersandar pada sahabat, lalu sahabat pun ternyata sedang berjuang di balik senyumnya. Dan di titik terdalam itu, ketika semua sandaran terasa goyah, muncullah sebuah pertanyaan yang tidak bisa lagi kita tunda: di mana sesungguhnya kita bisa berpaling, ketika diri sendiri dan orang lain tak lagi bisa diandalkan?
Jawaban itu tersimpan dalam lima puluh kata Arab yang telah dibaca lebih dari satu miliar manusia setiap malam. Nabi Muhammad saw menyebutnya sebagai ayat terbesar dalam Al-Qur'an. Para ulama menamainya Sayyid al-Ayat, Penguasa Segala Ayat. Kita mengenalnya sebagai Ayat al-Kursi, atau dalam ungkapan yang lebih tepat secara filosofis, The Pedestal Verse, Ayat Singgasana.
Al-Hayyu dan Al-Qayyum
Ayat Kursi dibuka dengan dua nama yang bekerja seperti palu yang memecah fondasi ketergantungan kita pada makhluk: Al-Hayyu dan Al-Qayyum. Bukan sekadar atribut yang indah untuk diucapkan dalam dzikir pagi, keduanya adalah pernyataan teologis yang paling fundamental tentang siapa Allah dan apa sesungguhnya posisi kita di hadapan-Nya.
Al-Hayy, Yang Maha Hidup, termasuk dalam kelompok yang disebut para ulama sebagai ummahat al-asma', induk-induk dari seluruh nama Allah. Imam Fakhr al-Din al-Razi dalam Mafatih al-Ghayb menegaskan bahwa makhluk yang benar-benar hidup adalah yang mampu mengaktualisasikan seluruh kesempurnaannya secara penuh. Maka Kekuasaan Allah ditopang oleh Kehendak-Nya, Kehendak-Nya ditentukan oleh Ilmu-Nya, dan Ilmu-Nya bergantung pada Kehidupan-Nya yang mutlak dan tak berkesudahan.
Ini membuka perspektif yang seharusnya membebaskan kita. Selama ini, tanpa kita sadari, kita sering menyandarkan harapan terdalam pada manusia yang tidak pernah mampu mengaktualisasikan seluruh potensi dan kesempurnaannya secara penuh. Seorang atasan yang tampak tak tergoyahkan pun tidur delapan jam dan panik ketika didiagnosis sakit. Seorang tokoh yang kita kagumi pun menyimpan momen-momen di mana ia runtuh dalam kesendiriannya. Mereka hidup, ya, tetapi tidak dengan cara Al-Hayy hidup.
Kemudian hadir Al-Qayyum, dan maknanya bahkan lebih mencengangkan. Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-Azhim dan al-Tabari dalam Jami' al-Bayan sepakat bahwa nama ini adalah bentuk intensif dari akar kata yang berarti berdiri, menopang, dan menegakkan. Maknanya bergerak ke dua arah sekaligus: Allah berdiri sendiri tanpa bergantung pada apa pun di luar diri-Nya, dan pada saat yang sama Dialah satu-satunya yang menopang keberadaan segala sesuatu yang ada.
Renungkan ini dalam kedalaman kecemasan kita sehari-hari. Setiap kali kita bergantung pada seseorang atau sesuatu, kita sesungguhnya sedang meletakkan berat pada yang Al-Qayyum sendiri yang menopangnya. Atasan kita ada karena Al-Qayyum. Kesehatan kita ada karena Al-Qayyum. Persahabatan yang menghangatkan kita ada karena Al-Qayyum. Menyadari ini bukan berarti kita berhenti mencintai dan menghargai manusia. Ia justru mengundang kita untuk berhenti menjadikan mereka sebagai tambatan terakhir dari harapan kita.