Sedang Membaca
Ngaji Sains dan Konsolidasi Kader NU di Inggris
Munawir Aziz
Penulis Kolom

Kolumnis dan Peneliti, meriset kajian Tionghoa Nusantara dan Antisemitisme di Asia Tenggara. Kini sedang belajar bahasa Ibrani untuk studi lanjutan. Sekretaris PCI Nahdlatul Ulama United Kingdom.

Ngaji Sains dan Konsolidasi Kader NU di Inggris

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama United Kingdom (PCINU UK) menyelenggarakan kegiatan mengaji sains dan teknologi pada Ahad (22/09/2019) di Medina Central Mosque, Southampton, Inggris. Agenda ngaji sains teknologi sekaligus konsolidasi organisasi dihadiri kader-kader Nahdlatul Ulama UK yang datang dari beberapa kota: London, Bornemouth, Southampton, Oxford, Essex, dan Edinburg.

Pertemuan kader dan penyegaran Pengurus Nahdlatul Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama United Kingdom ini, juga dihadiri oleh Prof. Hadi Susanto dari University of Essex, Didiek S Wiyono (pakar artificial intelligent), Ahmad Ataka, PhD (pakar robotika dari London), serta Bapak Jamalullail dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) United Kingdom di London. Selain itu, hadir pula Imam Shaleem, Imam Besar Medina Central Mosque Southampton.

Prof. Hadi Susanto, dalam tausyiah ilmiahnya menegaskan bagaimana model dakwah Nahdlatul Ulama di United Kingdom yang menggunakan strategi berbeda. “NU di United Kingdom ini memang harus ada strategi khusus dan inovasi dalam berdakwah. Kita harus menggunakan teknologi, memanfaatkan media sosial sebagai sarana silaturahmi dan dakwah,” ungkap Prof. Hadi Susanto, professor Applied Mathematic dari University of Essex, sekaligus sebagai Rais Syuriah PCI NU United Kingdom.

Hadi Susanto menjelaskan bahwa PCI NU UK ini punya kader-kader dengan potensi sumber daya terbaik di bidangnya. “Nahdliyyin United Kingdom ini unggul dalam sumber daya dan potensi keilmuan. Karena kita rata-rata yang datang ke Inggris untuk tugas belajar baik master maupun PhD, dosen, periset dan pekerja professional. NU UK punya identitas ini,” terang Hadi Susanto, yang juga tercatat sebagai Guru Besar Luar Biasa Bidang Matematika di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Baca juga:  Populisme Politik, Pelajaran dari Inggris

Di sisi lain, Nahdlatul Ulama United Kingdom juga punya warisan sejarah untuk berdakwah menyebarkan Islam Indonesia. Didiek S Wiyono, yang sedang riset Community Energy Market and Renewable Energy, menegaskan bagaimana identitas PCI NU United Kingdom yang khas.

“NU United Kingdom ini punya sejarah unik, di antaranya termasuk PCINU masa awal, sebelum beberapa PCI Nahdlatul Ulama yang lain dibentuk. Sejak 2001 hingga sekarang. Alhamdulillah tetap konsisten untuk berdakwah Islam yang membawa perdamaian dan toleransi. NU UK turut mengenalkan Islam Nusantara ke United Kingdom, dan ke penjuru dunia bersama PCI-PCI NU yang lainnya,” jelas Didiek, sesepuh NU United Kingdom.

Sementara, Imam Shaleem, Grand Imam Medina Central Mosque Southmpton, mengungkapkan dukungan terhadap komunitas NU dan muslim Indonesia yang bermukim UK. “I’m really appreciate to Indonesian community in the UK, particularly from Nahdlatul Ulama. Indonesian moslem as peaceful community in here, in the United Kingdom. So, their values, with akhlaq, compassion and peaceful will support the positive image of Moslem identity in the United Kingdom,” ungkap Imam Shaleem.

PCI Nahdlatul Ulama United Kingdom akan bekerjasama dengan komunitas-komunitas muslim dan lintas agama di UK untuk mengkampanyekan beragama yang moderat dan penuh toleransi. Juga, menyelenggarakan program-program kajian serta riset sains bekerjasama dengan beberapa profesor dan pakar dari universitas-universitas yang tersebar di UK. (SI)

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top