Sedang Membaca
Taiwan pun Hormati Muslim dengan Kuliner Halal
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Taiwan pun Hormati Muslim dengan Kuliner Halal

Susi Ivvaty

Ketika Taiwan berusaha memenuhi hak muslimin dan muslimat akan makanan halal, Indonesia mengabaikan hak umat agama lain. Ketika Taiwan sedang berupaya mendapatkan sertifikasi halal, Indonesia meributkan olahan daging babi. Sekadar mengingatkan, penyebutan Taiwan dan Indonesia ini sesuai majas totem pro parte. 

Halal tourism atau wisata halal yang digagas jagat pariwisata internasional  di bawah badan PBB yang mengurusi pariwisata, United Nation World Tourism Organisation (UN-WTO), bisa dipahami sebagai pariwisata yang memenuhi hak wisatawan muslim untuk mendapatkan akses kehalalan baik dalam makanan maupun lingkungan. Lingkungan ini di antaranya menyangkut kebersihan (bebas najis) dan akses mudah ke tempat ibadah.

Maka itu, wisata halal sejatinya lebih bergaung sewaktu diterapkan di negara-negara dengan kaum muslim minoritas, yang kemudian memberikan fasilitas halal kepada wisatawan muslim yang berkunjung. Manfaatnya pun dirasakan oleh mukimin muslim (muslim yang menetap). Jika Indonesia –sebagai negara dengan mayoritas muslim– memenangi banyak penghargaan wisata halal, itu lumrah. Sejak empat tahun lalu Indonesia sudah mendapatkannya.

Dalam hajatan Halal Tourism Award di Abu Dhabi tahun 2015, misalnya, Lombok mendapatkan debut penghargaan World Best Halal Destination Award 2015 dan World Best Halal Honeymoon Award 2015. Wajar jika pulau seribu masjid itu menang. Lombok, gitu. Dalam ajang yang sama, Hotel Sofyan Betawi memperoleh World Best Halal Hotel Award. Wajar lagi.

Namun, Indonesia selalu kalah peringkat dari Malaysia sebagai destinasi wisata halal berdasarkan hasil riset oleh Mastercards-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI). Malaysia meraih peringkat pertama selama delapan tahun berturut-turut hingga tahun 2018. Meski demikian, Indonesia lumayan bisa memepet di peringkat kedua bersama Uni Emirat Arab pada riset tahun 2018.

Wisata Halal Taiwan

Saya akan menggambarkan betapa negeri di Pulau Formosa sedang bergiat memasarkan wisata halal.  Selama sepekan pada 22-28 Juli 2019 saya bersama beberapa wartawan merasakan pengalaman menikmati kuliner halal di sejumlah restoran dan hotel di empat distrik di Taiwan: Taipei, Taitung, Hualien, dan Yilan. Jika ada kecurigaan makanan halal itu dipersiapkan untuk keperluan peliputan, sebaiknya segera ditepis. Sebab, restoran-restoran itu sudah berdiri sejak bertahun lalu dan sekurangnya dalam setahun terakhir telah mendapatkan sertifikasi halal.

Baca juga:  Cerita dari Hualien (1): Ketika Hati Tertambat di Taroko
1. Logo untuk produk makanan. 2. Logo untuk hotel atau makanan kemasan “moslem friendly” . 3. Logo untuk restoran. (Sumber: Taiwan Tourism Bureau).
Mesra muslim dalam dalam bahasa Melayu (Malaysia) adalah ramah muslim atau moslem friendly. Kantor Asosiasi Wisatawan Taiwan di Kuala Lumpur memang menaungi wisatawan dari Malaysia, Filipina, Indonesia, dan Brunei. Keterengan logo: MR: Muslim Restaurant (restoran yang pemiliknya muslim)
MFR: Muslim Friendly Restaurant (restoran dengan koki pekerja muslim meski bukan milik muslim)
MFT: Muslim Friendly Tourism 
MCH : Muslim Convenient Hotel
HK= Halal Kitchen
KMR=Kaohsiung Muslim Restaurant
AH= All Halal
MFHRS= Muslim Friendly Hotel Rating System

Beberapa hotel dan resto lebih nyaman mengganti halal dengan moslem friendly, kecuali resto yang pemiliknya memang muslim. Alasannya, mereka kurang bisa meresapi kata berbahasa Arab itu. Alasan lain, mereka tidak berani menjamin makanan yang disajikan 100 persen halal. Meski demikian, seperti dikatakan GM Hotel The Sherwood Taipei Achim v. Hake, Hotel The Sherwood sudah berusaha memisahkan makanan sejak dari dapur, termasuk peralatan memasak, sampai tertata di meja makan.

Daftar menu di kamar di Hotel The Sherwood

Hotel Sherwood akan mengidentifikasi tamu yang bermalam, dan menanyakan jika ada permintaan makanan halal secara khusus, seperti ketika melayani kami. Alhasil, kami mendapatkan kamar dengan toilet yang dilengkapi dengan keran air untuk cebok. Di kamar juga tersedia Alquran serta sajadah. Untuk sarapan pagi, kami mendapatkan menu non-pork di meja terpisah, dan untuk pesanan dari kamar tersedia misalnya seared hokkaido scallop and porcini with cuttlefish ink crispy dan home-made tagliatelle with boston lobster.

The Sherwood mendapatkan sertifikat halal sejak tiga tahun lalu dan selama itu jumlah tamu meningkat 10 persen hingga sekitar 9.000 tamu per bulan. Para tamu muslim dari Asia Tenggara mayoritas berasal dari Malaysia, disusul Singapura, lalu Indonesia, dan 60 persen di antaranya datang untuk urusan bisnis. “Kami lebih nyaman menyebut moslem friendly karena kami tidak bisa menjamin makanan 100 persen halal, meskipun kami sudah berusaha memisah peralatan memasak di dapur,” kata Hake.

Eric Kuo, Asisten Direktur Departemen Marketing dan Sales Hotel Farglory. Hotel ini telah mengantongi sertifikat halal.

Upaya yang sama dilakukan Hotel Farglory di Hualien, yang sudah mendapatkan sertifikasi halal sejak 2014 yang diperbarui saban tahun. Hotel yang berada di jantung pegunungan (ditandai dengan patung bunga teratai di lobi hotel) ini juga memfasilitasi tamu muslim dengan toilet berkeran air, sajadah, serta penanda kiblat.  Hotel ini memasang lukisan wajah di setiap kamar, dan bisa diturunkan jika ada tamu muslim menginap di kamar itu.

Baca juga:  Nowruz, Tahun Baru ala Irania
Menu ikan di Hotel Farglory untuk makan malam

“Kalau mengunjungi website kami, di sana ada petunjuk untuk tamu muslim.  Servis untuk muslim ada sendiri.  Baju karyawan juga diberi logo muslim untuk membantu tamu muslim.  Kami mencoba menghargai tamu yang datang, tidak hanya muslim tapi juga vegetarian yang kami siapkan meja sendiri juga.  Saat ini tamu muslim baru tiga persen dari Malaysia, Timur Tengah, dan Indonesia, makanya kami berusaha meningkatkan fasilitas,” kata Kuo.

Penanda arah kiblat, tabel waktu salat, dan teko air untuk isi ulang di Taocheng Leisure Farm and Hotel. Dengan label green hotel, Taocheng Leisure Farm tidak menyediakan air dalam kemasan plastik, tapi sebaliknya menyediakan teko air yang bisa diisi ulang.

Jika saya terharu dengan perlakuan Taucheng Leisure Farm di Toucheng, Yilan, untuk melayani para tamu muslim, rasanya tidak berlebihan. Mereka mencap semua peralatan memasak dengan tulisan halal yang desainnya keren, agar tidak tertukar. Piring dan gelas pun terbuat dari porselen mahal, sehingga entah mengapa saya merasa sambal rawit teri jadi berkurang pedasnya.

Peralatan makan di Taocheng Leisure Park
Memasak martabak di Taocheng Leisure Farm

Pemilik agro wisata dan hotel Taocheng ini, Mama Zuo (80), menceritakan sejarah singkat dibangunnya agro wisata ini ketika ia berusia 40 tahun dan memutuskan untuk pulang dari Taipei ke Yilan. Mama Zuo ingin menjalani hidup di tempat yang tenang dan sepi, di tanah milik keluarga besarnya yang sangat luas, mencapai 120 hektar. Ia kemudian membangun “perkampungan” untuk buah-buahan dan sayur-mayur, juga hewan ternak. Singkat cerita, ia kini memiliki 100 lebih karyawan yang menangani hotel, resto, agro wisata, serta program kegiatan.

Mama Zuo, pemilik Taocheng Leisure Park dan Avida, pemandu wisata dari Taiwan Tourism Bureau
Menu udang di Taocheng Leisure Park

“Sertifikat halal dari Chinese Muslim Association dan Muslim Friendly Restaurant kami dapatkan lima tahun lalu sejak muncul imbauan dari pemerintah,” kata Manajer Program Edukasi Lingkungan Taocheng Leisure Farm, Lin Hong-ta.

Baca Juga

Kerjasama halal Indonesia dan Taiwan, di Taocheng Leisure Farm

Upaya yang sungguh-sungguh ditunjukkan oleh Riverside Inn, hotel dan resto di Hualien yang baru setahun lalu mendapatkan sertifikat halal. Pemiliknya membuat dapur terbuka bagi tamu muslim. Tamu-tamu bisa melihat proses memasak, alat-alat masak, bahan masakan yang ada di kulkas, dan kalau mau boleh lho memasak sendiri.

Dapur terbuka di Riverside Inn. Hotel-resto ini mendapatkan sertifikasi halal tahun lalu

Yang mengasyikkan, hotel yang dikelola oleh anak-anak muda sejak 14 tahun lalu ini meminta masukan kepada kami mengenai tempat salat yang memadai. Mereka lantas meminta kami salat, untuk lebih mengetahui kebutuhannya. Ya, mudah saja. Cukup ada ruangan kecil, mukena, dan sajadah. “Kami sangat senang karena mendapatkan tamu muslim, ini yang pertama,” kata Danny, kepala juru masak Riverside Inn.

Masih banyak cerita hotel dan warung makan di Taiwan yang tiga tahun terakhir giat mengejar kehalalan. Jika enam tahun lalu hanya 20-an restoran dan hotel halal di Taiwan, kini hampir semuanya peduli halal. Hingga Juli 2019, tercatat 217 tempat di Taiwan telah mendapatkan sertifikasi halal dan ramah muslim; meliputi 85 restoran, 89 hotel, 10 agro wisata, 29 penginapan, dan empat dapur halal.

Menu kerang di Riverside Inn

Upaya yang dilakukan Biro Wisata Taiwan bersama dunia usaha patut dihargai. Wisata halal, dengan demikian,  pantas diletakkan dalam konteks pemenuhan hak setiap warga negara penganut agama apa pun, di mana pun berada, untuk dapat beribadah (termasuk di dalamnya mendapatkan akses makanan halal) dengan tenang dan nyaman.

Negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim pun seharusnya memenuhi hak “minoritas”. Warung dengan menu olahan babi tidak perlu diancam, cukup tidak didatangi. Haram bagi Anda bisa halal bagi mereka, begitu pula sebaliknya. Penerjemahan dan pelaksanaan wisata halal yang salah kaprah itu mengakibatkan penolakan “wisata halal” oleh sebagian kalangan. Padahal, maksudnya bukan begitu, tapi begini.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top