Sedang Membaca
Philosemitisme, Cinta yang Melahirkan Kebencian
Munawir Aziz
Penulis Kolom

Kolumnis dan Peneliti, meriset kajian Tionghoa Nusantara dan Antisemitisme di Asia Tenggara. Kini sedang belajar bahasa Ibrani untuk studi lanjutan

Philosemitisme, Cinta yang Melahirkan Kebencian

Dalam diskursus tentang kajian Yahudi (Jewish Studies), muncul pembagian dua kelompok yang berbeda kutub dalam memahami Israel, Zionisme, dan Yahudi. Dua kutub kelompok ini, sama-sama agresif dalam membeli label oposisi sekaligus mengutuk dengan kebencian. Dua kelompok ini: antisemitis dan philosemitis.

Bagaimana memahami kedua kelompok ini? Antisemitisme, secara ringkas, merupakan cara  berpikir yang menjadikan Yahudi sebagai sasaran amarah dan kebencian. Sebagian besar, amarah ini karena ketidaktahuan dalam memahami konteks, atau disebabkan propaganda kebencian dalam waktu yang lama.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kasus di Malaysia dan Indonesia, menjadi contoh nyata, betapa kelompok antisemitis sebagian besar tidak peduli dan tidak bisa membedakan antara Yahudi, Israel, dan Zionis. Kisah-kisah tentang teori konspirasi tersebar dalam sirkulasi internal di antara kelompok-kelompok antisemitis, hingga melahirkan prasangka, prejudice, atau bahkan serangan fisik yang menyebabkan korban nyawa.

Namun, antisemitis dalam spektrum kajian yang lebih luas, menyempit dari definisi asalnya. Dari anti terhadap agama-agama Semit, menjadi anti terhadap Yahudi belaka. Ini ironi dalam definisi dan perkembangan diskursus Jewish. Saya akan membahasnya dalam ulasan di bagian lain, agar lebih mendalam dan terstruktur.

Sementara, philosemitisme merupakan kebalikan dari antisemitisme. Philosemitis bisa dianggap sebagai kecintaan membabibuta, hingga melahirkan prasangka sekaligus kebencian. Kelompok philosemit akan “mengerangkeng” orang-orang yang mengkritik Israel sebagai kelompok ‘antisemit’. Ini bisa kita lihat dalam beberapa dekade terakhir, kontestasi politik di Amerika Serikat dan Inggris.

Di Amerika Serikat, anggota Kongres Ilhan Omar, dikritik sebagai tokoh antisemit, karena pernyataan-pernyataan kerasnya tentang Israel, lobi-lobi Yahudi, dan AIPAC. Ilhan Omar menjadi sasaran kelompok Yahudi sayap kanan, sekaligus melambungkan namanya dalam politik mutakhir di Amerika. Meski, dalam beberapa pernyataan, ia tidak bermaksud membenci Yahudi, serta hanya mempertanyakan kebijakan politik Israel.

Baca juga:  Sejarah Orang Yahudi Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia

Di Inggris, Partai Buruh (Labour Party) sedang menghadapi tsunami kecil di internal dalam isu antisemitisme. Jeremy Corbin, pemimpin Partai Buruh dianggap seorang tokoh politik yang antisemit, yang tidak membela kepentingan Yahudi di Inggris. Bahkan, beberapa elite Yahudi Inggris sudah menarik dukungan terhadap Corbin.

Padahal, Labour Party sedang bersaing keras dengan partai konservatif dalam duel isu Brexit. Jeremy Corbin sedang adu gagasan dengan Borish Johnson dan elite politik Tory, mengenai masa depan Britania Raya dan Uni Eropa.

Tentu saja, isu antisemitisme menjadi bola panas dalam kontestasi politik di Inggris dan negara-negara Eropa. Di Indonesia, antisemitisme juga menjadi bahan bakar kebencian, yang seringkali muncul dalam hajatan politik dari tingkat nasional hingga daerah.

Adam Krisch ketika mengulas buku ‘Philosemitism in History’ (Adam Sutcliffe & Jonathan Karp, eds), mengungkap karakteristik antara philosemitism dan antisemitism. Menurutnya, philosemitis adalah antisemitis yang mencintai Yahudi. “a philosemite is an antisemite who loves Jews” (the New Republic, 3 Juni 2011). Philosemitis itu orang-orang yang cinta Israel, sekaligus melahirkan kebencian terhadap orang-orang yang berbeda dengan gagasan dan sikap mereka.

Kolumnis the Guardian, Keith Kahn Harris mengungkapkan betapa dalam diskursus antisemitisme harus ada perimbangan dalam memahami konteks yang lebih luas.

Dalam esainya, ‘When Antisemitism Goes Hand in Hand with Philosemitism’ (the Guardian, 16 Februari 2011), Harris mengkritik orang-orang yang memahami diskursus antisemitisme dalam ruang yang sempit, serta seringkali muncul kekeliruan logika. Ia mencontohkan sosok Ahmadinejad, mantan presiden Iran.

Menurutnya, orang-orang Yahudi tidak benar dalam mengasumsikan Ahmadinejad sebagai antisemit. Memang, dalam kebijakan-kebijakan politiknya, Ahmadinejad seringkali menihilkan Israel, serta membuat manuver-manuver politik yang membuat panas suhu diplomasi di Timur Tengah. Di sisi lain, Ahmadinejad juga dianggap tidak peduli dengan fakta Holocaust, yang menjadi monumen tragedi bagi orang Yahudi seluruh dunia.

Baca juga:  Ahmadiyah, Kekerasan Teologis, dan Utopia Kebebasan Beragama  

Dalam konteks Ahmadinejad, Keith Kahn Harris menganggap orang-orang yang terlalu cinta dengan Israel, memandang tokoh Iran itu dalam kacamata yang keliru. Ahmadinejad tidak sepenuhnya antisemit, ia tidak membenci Yahudi.

Buktinya? Mantan presiden Iran ini sangat toleran dengan orang-orang Yahudi di Iran. Bahkan, komunitas Yahudi di Iran mendapatkan hak-hak yang layak sebagai warga negara.

“Jika Ahmadinejad seorang antisemit, ia mestinya melakukan kekerasan di wilayah mana ia berkuasa, di ruang belakangnya,” tulis Harris. Orang-orang non-Yahudi yang menolak antisemitisme, dalam pandangan Keith Kahn Harris, haruslah punya pemahaman bahwa Yahudi itu beragam, plural, serta punya bermacam kelompok yang berbeda.

Jews need to refuse to play along with philosemitic antisemitism. Hatred directed at other Jews, even other Jews whose views we despise, hurts us all. Jews should serve as no one’s fig leaf for antisemitism,” tulis Harris, dalam esainya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Mendi Medem dalam artikel risetnya di Jewdas (15 Oktober 2018) mengungkapkan pada substansinya philosemitisme sama halnya dengan antisemitisme. Maksudnya, keduanya punya potensi bahaya eksploitatif yang setara.

Di satu sisi, philosemitisme menunjukkan kecintaan pada Israel–dan pada konteks yang lebih jauh pada Zionisme. Kecintaan yang membabi-buta ini berpengaruh pada cara pandangan dan pola bersuara di ruang publik. Orang-orang dengan cara pandang philosemit, akan menihilkan kritik terhadap Israel, apapun kebijakan politiknya, betapa pun keji agresi barisan militernya.

Kelompok ini juga membombardir ruang publik dengan kebencian atas orang-orang yang berusaha mengkritik kebijakan politik Israel. Hal yang lebih rumit, mendakwa orang-orang yang berusaha secara jernih mengkritik politik Israel, dengan label antisemit.

Baca juga:  Menyoal Blangkon sebagai Pakaian Islami

Dengan demikian, antisemit sebagai ‘prison’, sebagai jebakan untuk mengurung mereka yang dianggap berseberangan secara gagasan dan sikap hidup. Ini jelas berbahaya.

Sementara, mereka yang antisemit juga mengeksploitasi hal-hal di sekitar diskurus Yahudi dalam perspektif yang kurang tepat. Misalnya, menggeneralisasi antara Israel, Zionisme dan Yahudi. Padahal, ketiganya beda sama sekali, dengan spesifikasi definisi yang berbeda, meski saling bertautan dalam isu-isu tertentu. Orang-orang yang berpandangan antisemit cenderung menggeneralisasi dalam spektrum pikiran yang kacau.

Isu-isu terkait dengan Holocaust dan posisi Jerusalem jadi pembahasan hangat di antara pengidap antisemit. Pemahaman antisemitisme secara garis besar menyediakan bahan bakar debat bahwa Holocaust itu rekayasa, hanya sesuatu yang dibesar-besarkan sebagai tragedi. Juga, memunculkan teori-teori konspirasi yang sulit diterima sebagai fakta, meski memikat sebagai propaganda.

Untuk yang terakhir ini, kajian-kajian teori konspirasi sering muncul dalam ceramah-ceramah kelompok muslim pengusung antisemit. Mereka gagal memberi pemahaman kepada publik, terkait perbedaan antara Israel, Zionis, dan komunitas-komunitas Yahudi. Seolah-seolah, Yahudi menjadi common enemy, serta Israel-Zionis sebagai bahan bakar kebencian yang terus disulut dengan api kemarahan.

Pada sirkulasi selanjutnya, muncul pernyataan bahwa umat Islam Indonesia sering kalah, dikalahkan, dan dianiaya oleh kekuatan Yahudi, Israel, dan semacamnya. Ini propaganda yang sering muncul di ruang publik dan media sosial kita. Baik antisemitisme dan philosemitisme keduanya muncul dalam tarikan cinta dan benci.

Keduanya mencipta bias dari pemikiran yang tidak jernih sekaligus memantik api amarah yang tak kunjung padam. Bagaimana dengan kita, apakah sudah hidup dam beragama dengan cinta? (RM)

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top