Sedang Membaca
Moses bin Maimoen, Rabbi Yahudi di Tengah Peradaban Islam
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Moses bin Maimoen, Rabbi Yahudi di Tengah Peradaban Islam

Munawir Aziz

Moses ben Maimon, dikenal sebagai Rambam atau Maimonides, adalah intelektual besar dalam tradisi pengetahuan Yahudi. Ia dikenal sebagai Rabbi, intelektual, filsuf, dan penulis produktif, yang berpengaruh dalam tradisi intelektual Yahudi dan secara bersamaan berkembang di tengah kekuasan Islam.

Maimonides lahir di Cordova, Spanyol, pada tahun 1138. Dia lahir dari keluarga terkenal, yang sangat otoritatif di lingkungan Yahudi di Andalusia. Maimonides belajar beragam sumber intelektual Yahudi, semisal Mishnah, Talmud, dan Midrash dari ayahandanya, Maimoen, seorang ahli hukum Yahudi.

Sejak kecil, Maimonides juga belajar lintas ilmu: astronomi, pengobatan, matematika, filsafat, dan tentu saja mulai belajar bahasa.

Pada saat itu, kawasan Andalusia di bawah kepemimpinan politik dari pemimpin uslim. Tentu saja, saat itu, terjadi interaksi yang harmonis antara orang muslim, Yahudi dan Nasrani di Andalusia, masa kegemilangan peradaban muslim.

Namun, pada tahun 1148, terjadi kekacauan politik, hingga keluarga Maimonides mengungsi dari Cordova, menetap di Fez, Maroko, sejak 1160.

Penguasa Al-Mohad (Al-Muwahhidun), yang berkuasa di kawasan Afrika Utara, mengekspansi wilayah kekuasaan ke kawasan Maroko dan kemudian Andalusia. Abu Ya’qub Yusuf sebagai penguasa pertama Dinasti Muwahhidun, dari tahun 1153-1184.

Sayangnya, kebijakan politik al-Mohad di Andalusia, tidak terlalu bijak dalam keragaman agama. Abu Ya’qub Yusuf memerintah orang-orang Yahudi untuk memeluk Islam, sebagai kebijakan politik.

Di tengah kekacauan politik itu, keluarga Maimonides memilih pindah untuk mencari ketentraman. Maimonides kemudian berkelana menyebarkan gagasan. Ia bersama keluarganya pindah ke Mesir pada tahun 1166, dan kemudian menetap di Fustat, di kawasan Kairo.

Ia mulai dikenal sebagai pemikir penting yang mayshur di lingkungan Yahudi dan Islam, sejak mempublikasikan Misneh Torah. Kitab ini menjadi karya penting Maimonides, yang membahas tentang hukum dan etika Yahudi, yang bersumber dari kitab suci Taurat.

Pada satu bagian di Kitab pertama, “Kitab Pengetahuan”, yang membahas empat landasan dari filsafat Yahudi, Maimonides mengulas tentang moralitas, pentingnya mengkaji kitab suci, hukum penyembahan, serta pentingnya taubat.

Maimonides juga menyebut tentang peran penting Messiah, pada kitab keempat belas, tentang hukum. Menurutnya, Messiah atau penyelamat akan muncul di dunia, menata kedaulatan bagi Israel sebagai negara orang Yahudi, membangun perdamaian dengan negara-negara lain, serta memimpin kajian dan riset-riset strategis di bidang sains dan ilmu pengetahuan.

Di Mesir, Maimonides mengalami problem ekonomi, setelah ayahandanya meninggal. Ia kemudian menjadi tulang punggung keluarga, dan kemudian memperdalam profesi sebagai ahli pengobatan. Keahliannya sebagai ahli pengobatan, menjadikannya cepat terkenal di kawasan Mesir. Berkat keahlian ini, Maimonides diangkat sebagai penasihat kesehatan Sultan Saladin, pemimpin militer penting dari dunia muslim. Keahliannya di bidang pengobatan, menjadikan Maimonides sebagai rujukan untuk masalah kesehatan bagi warga kawasan Fustat, serta menjadi pengajar dan ahli di sebuah rumah sakit.

Maimonides sudah menulis sejak usia muda, 16 tahun. Pada usia itu, ia mempublikasikan karya dalam bahasa Yahudi, Millot ha-Higgayon (karya tentang Terminologi Logika), yakni sebuah karya yang membahas tentang bermacam terminologi teknis di bidang logika dan metafisika. Karya lain yang ia tulis pada usia remaja, yakni Ma’amar ha’ibur, esai tentang Kalender.

Baca Juga
Empati Insani Madani Paramadina untuk Gereja Lidwina

Pondasi intelektual Maimonides yang kuat, mendorong dia menghasilkan karya penting dalam tradisi pengetahuan Yahudi, Islam dan Nasrani. Pada usia 23 tahun, ia menulis Kitab al-Siraj, sebuah komenter terhadap Mishna. Dalam tradisi Yahudi, Mishna, atau disebut juga Mishnah atau Mishnayot, kompilasi hukum Yahudi.

Dalam studi tentang hukum, Maimonides juga menulis beberapa karya lain yang lebih ringkas dari Mishneh, yakni: Sefer ha-mizwot (Kitab tentang Ajaran) dan Hilkhot ha-Yerushalmi (Hukum-Hukum Jerusalem), keduanya ditulis dalam bahasa Hebrew/Ibrani.

Karya penting Maimonides yang membahas filsafat agama, Dalalat al-haairin (Moreh nevukim), ditulis sejak tahun 1176, yang menghabiskan waktu sekitar 15 tahun. Karya ini mengkaji secara rasional nilai-nilai Yahudi, yang meliputi sains, filsafat dan agama. Kitab ini awalnya ditulis dalam bahasa Arab, dan kemudian dikirim ke muridnya, Yusuf bin Aknin (Joseph ibnu Aknin), yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Ibrani, Latin dan beberapa bahasa Eropa.

Waldemar Schweisheimer, seorang sejarawan medis, menulis tentang pentingnya karya intelektual Maimonides, terutama bidang kesehatan dan pengobatan. “Ajaran-ajaran Maimonides bidang pengobatan tidaklah kuno secara keseluruhan. Karya tulisnya, pada kenyataannya, mendapatkan respek yang mencengangkan dalam keilmuan modern,” ungkap Schweisheimer, sebagaimana dilansir Britannica (26 Maret 2019).

Karya-karya Maimonides, terutama dalam bidang filsafat dan logika, mempengaruhi intelektual besar setelahnya, semisal Benedict de Spinoza (1632-1677) dan GW Leibniz (1646-1716). Karya penting Maimonides serta pengabdian hidupnya, juga mempengaruhi karya-karya intelektual yang membangun peradaban Islam. Di samping, ia juga menggali pemikiran-pemikiran dari Ibnu Sina, Alfarabi, dan Ibn-Rusyd, dalam merekonstruksi gagasan orisinalnya.

Di kalangan intelektual Yahudi, Moses ibnu Maimon juga diyakini pindah agama, menjadi muslim. Hal ini terjadi, ketika Dinasi Al-Muwahhidun menguasai Maroko dan Spanyol.

Akan tetapi, terjadi perdebatan apakah ia meneruskan menjadi muslim atau kembali memeluk Yahudi. Namun, yang jelas, Moses ibn Maimon, memiliki pengaruh penting dalam tradisi intelektual Yahudi dan Islam, dalam disiplin filsafat, logika dan ilmu pengobatan.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top