Sedang Membaca
Mengenal Sufisme Yahudi dan Persentuhannya dengan Para Sufi Islam
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Mengenal Sufisme Yahudi dan Persentuhannya dengan Para Sufi Islam

Munawir Aziz

Di antara penjelajahan intelektual dan peradaban kemanusiaan pada abad pertengahan Islam, yang menarik untuk disimak adalah interaksi sufi dan rabbi Yahudi. Interaksi antara Rabbi-rabbi Yahudi dengan filsuf muslim serta sufi, telah berlangsung lama, khususnya pada abad pertengahan.

Interaksi yang dinamis antara kelompok rabbi Yahudi dan komunitas sufi, khususnya di semenanjung Iberia yang menggeliat, menjadi detak jantung zamannya, hingga membangun peradaban intelektual yang terwariskan hingga kini.

Sufi agung Muhyiddin ibnu Arabi (w. 1240) dikenal sebagai sufi besar yang mengembangkan pemikiran gigantiknya di bidang filsafat, memiliki partner seorang rabbi (istilah untuk menyebut pendeta/ulama Yahudi), dalam membangun gagasan serta dialog dalam mencari titik terang gagasan filsafat antara Islam dan Yahudi. Korespondensi dan diskusi antara Ibnu Arabi dengan rabbi-rabbi Yahudi, tercermin dari bagaimana Ibnu Arabi memberi gambaran tentang mistisme Yahudi. 

Peradaban intelektual Andalusia mengenal Ibnu Masarrah (886-931), yang banyak memberikan pencerahan dan warisan pengetahuan. Abu Abdullah Muhammad ibnu Abd Allah ibnu Masarrah ibnu Najih al-Jabali, merupakan teolog, sufi, dan filsuf Andalusia yang mendalami teori-teori emanasi hingga kejiwaan manusia. Gagasan-gagasan Ibnu Massarah berdampak pada pengembangan tradisi filsafat Islam dan neo-platonisme Yahudi di Andalusia. 

Demikian juga, Sahal at-Tustari, seorang sufi dan teolog dari kawasan Persia, memberi dampak besar bagi geliat sufisme dan filsafat dalam komunitas pemikir Islam dan rabbi Yahudi pada masa abad pertengahan. Sahal at-Tustari (818-896), pada kemudian waktu, dikenal sebagai pendiri mazhab teologi Salimiyah.  

Interaksi antara sufi dan rabbi Yahudi, yang sangat intens menandakan betapa sehatnya kultur dialog pada masa abad pertengahan. Di antara diskusi-diskusi penting antara intelektual muslim dan rabbi-Yahudi, yakni pada pembahasan tentang teks-teks Talmud, kabbalah, hingga gematria (bagian penting dari tradisi tafsir Yahudi dan esoterisme). 

Tradisi sufi yang menggeliat bersama mekarnya filsafat Yahudi, kemudian mengembangkan konstruksi pemikiran baru, dengan lahirnya generasi rabbi sekaligus sufi, yang dikenal sebagai ‘jewish sufism’ atau sufi Yahudi. Di antaranya, Solomon ibnu Gabirol (w. 1054) dan Judah Halevi (1075)-1141). 

Paul B Fenton, dalam artikel risetnya ‘Judaism and Sufism’ (2003), mengungkap betapa tradisi sufisme berdampak besar bagi pengembangan gagasan rabbi-rabbi Yahudi di kawasan Andalusia. Diskusi yang intens, pengaruh teks, sebaran gagasan hingga situasi politik yang memungkinkan geliat intelektual berkembang bersama tanpa sekat agama, hingga terjadi saling serap dalam tradisi intelektual Islam dan Yahudi. 

Bahya ibnu Paquda (1050-1120), dikenal sebagai sufi Yahudi yang terpengaruh oleh gagasan-gagasan sufisme dalam mengembangkan dimensi intelektualnya. Ia menulis Faraid al-Qulub, sebuah maha karya tentang teologi asketik yang ditulis dalam bahasa Arab. Bahya ibn Paquda menggunakan sumber-sumber pengetahuan sufistik khususnya hal ihwal penyatuan hamba dengan Tuhan. Namun, ia menolak model gagasan tentang asketisme ekstrim. 

Di antara rabbi yang punya peran penting dalam geliat sufisme dalam tradisi intelektual Yahudi, yakni Rabbi Abraham (1186-1237), putra dari Moses ibnu Maimoen (Maimonides). Moses ibnu Maimoen, atau dikenal sebagai Rambam (Rabbi Moses ibnu Maimoen), merupakan pemikir besar dalam tradisi intelektual Yahudi pada abad pertengahan, yang berinteraksi dengan pemikir-pemikir muslim, khususnya Ibnu Rusyd. Maimonides juga menjadi penasihat kesehatan Shalahuddin al-Ayyubi.  

Selepas wafatnya Maimonides pada 1204, Abraham mendapat kepercayaan sebagai pemimpin spiritual di antara komunitas Yahudi di Mesir. Ia diangkat sebagai pemimpin besar komunitas Yahudi: Nagid. Pada perkembangannya, Rabbi Abraham ibn Moses ibn Maimoen, tidak hanya dikenal sebagai pemimpin formal dan imam besar dari komunitas Yahudi Mesir, ia juga menjadi tokoh utama yang bersemangat mengamalkan nilai-nilai sufisme/spiritual dalam tradisi kesalehan Yahudi, yang dikenal sebagai ‘hasidut’

Rabbi Abraham menulis kitab penting, yakni Kifayat al-‘Abidin, karya monumental tentang hukum dan etika. Karya Abraham, dalam beberapa aspek, segaris gagasan dengan karya ayahandanya yang membahas tentang hukum-hukum Yahudi: Mishneh Torah

“Kita melihat juga bahwa sufi-sufi Islam mempraktikkan riyadhah, menahan diri dengan melawan tidur dan mungkin saja praktik-praktik itu berasal dari petuah-petuah (Raja) Daud [David]… pelajarilah kemudian tradisi-tradisi mengagumkan itu dan kenanglah dengan penyesalan betapa mereka telah mengambil dari kita, kemudian menampakkan di antara seluruh kawasan daripada kita, sedangkan hal-hal itu telah lenyap di antara kita. Hatiku menangis di antara kesenyapan… karena kebanggaan Israel sudah terambil, dan dianugrahkan secara melimpah ke seluruh kawasan dunia,” demikian ungkap Rabbi Abraham (Fenton, 2003: 208-10). 

Pada sisi lain, Rabbi Abraham juga menganggap betapa tradisi khalwat, bersemedi dalam kesenyapan di tempat gelap, yang dipraktikkan orang-orang sufi, mirip dengan tradisi lama orang-orang Yahudi. Namun, sendirian dalam kesenyapan, telah diambil menjadi tradisi orang-orang sufi untuk mengheningkan diri, menjernihkan batin. Menurutnya, tradisi ini sudah ada pada masa awal Yahudi. 

Baca Juga

Kedekatan Abraham ibnu Moses ibnu Maimoen dalam tradisi tasawuf, juga mengilhami putranya untuk mencintai tasawuf. Obadyah ibnu Abraham Maimonides (1228-1265), juga dikenal sebagai pecinta tasawuf, yang menulis al-Maqala al-Hawdiyyah. Kitab ini berisi untaian hikmah dan tuntunan bagi musafir spiritual untuk menemukan jalan menuju Tuhannya. Obadyah menggambarkan betapa pentingnya mensucikan kolam spiritual bagi seorang hamba, sebelum diisi dengan air-air penciptaan yang menghidupkan.

Penerus Maimonides, David ben Josua (1335-1415), memiliki ketertarikan yang besar terhadap sufisme. Ia dikenal sebagai Maimonideans (pengikut Maimonides), generasi akhir yang tercatat sejarah. David menulis al-Murshid ila tafarrud (the Guide of Detachment), yakni satu karya penting dalam tradisi Yahudi-Arab yang membahas tentang sintesa antara tradisi etik rabbi dengan formasi spiritual sufisme. 

Dari narasi intelektual abad pertengahan, khususnya di kawasan Andalusia dan Persia, kita mengenal intensitas dialog antara sufi dan rabbi Yahudi. Bahkan, dalam beberapa kisah, rabbi-rabbi Yahudi juga mendalami praktik tasawuf hingga meresap dalam tradisi intelektual dan laku spiritualnya. Orang-orang yang disebut sebagai sufi Yahudi, masyhur pada zaman itu, ketika dialog antara muslim dan Yahudi sangat terbuka, saling mempengaruhi dalam aspek intelektual dan spiritual. 

Bagaimana kini? Di tengah relasi yang tumpang tindih antara sains dan agama, hingga konflik kemanusiaan yang berlarut, mengais jejak keemasan pada abad pertengahan Islam, menjadi refleksi penting untuk masa kini.  

Stepen Schwartz, mengungkapkan betapa ada relasi yang demikian dekat antara kelompok sufi Islam dan Kabbalist Yahudi. Dalam esaianya, ‘Islamic Sufism and Jewish Kabbalah: Shining a Light on Their Hidden History’ (Hufftington Post, 5 Desember 2011), Schwartz menulis bahwa kesadaran religious dalam relasi yang menyejarah antara sufi muslim dan Kabbalist Yahudi menghadirkan bukti yang baik, bagi masing-masing pengikut dua agama: Islam dan Yahudi. 

“Kita tidak ingin mengidealkan hubungan ini, mungkin (dialog antara sufi dan kabbalist) bukan menjadi solusi atas problem Israel dan Arab Palestina. Akan tetapi, relasi antara sufi Islam dan kabbalist Yahudi, layak untuk diteliti lebih lanjut dan dirayakan. Dan juga, usaha-usaha ke arah itu harus menjadi solusi atas enigma sejarah yang telah menjadi kecenderungan umum..” 

Sudah saatnya dialog antaragama, khususnya Islam dan Yahudi, kita hadirkan di ruang publik kita, dengan tanpa prasangka dan kebencian. Kisah-kisah interaktif antara sufi dan rabbi Yahudi, menunjukkan kepada kita betapa tradisi intelektual dan spiritualisme dapat saling mempengaruhi, menggaransi ko-eksistensi dan perdamaian di antara pemeluknya. Agama-agama yang menarasikan perdamaian, welas asih dan cinta. (aa)

Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top