Sedang Membaca
Menelusuri Zionisme, Memahami Yahudi
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Menelusuri Zionisme, Memahami Yahudi

Munawir Aziz

Di Indonesia, sering kali ada kesalahpahaman tentang Zionisme sebagai gerakan dan Yahudi sebagai kepercayaan. Keduanya seringkali disalingtukarkan, tercampur aduk dalam kesalahpahaman. Padahal keduanya berbeda.

Bagaimana membedakan gerakan politik zionis dan Yahudi sebagai agama? Memaknai keduanya secara sahih, menjadi alur penting agar kita tidak terjebak pada kebencian yang berlarut, pemikiran anti-semit dan latah menebar label kafir.

Gerakan Politik Zionisme

Zionisme adalah gerakan politik untuk menyatukan pemeluk Yahudi, yang diinisiasi oleh Theodor Herzl. Gerakan ini mencuat sejak tahun 1897, yang mengkampanyekan konsolidasi umat Yahudi di manapun berada, serta membangun jejaring dengan tokoh politik, militer, pengusaha dan orang-orang yang simpati dengan kelompok Yahudi.

Theodor Herzl berprofesi sebagai wartawan. Dia keturunan Yahudi berkebangsaan Austria-Hungaria. Ia lahir pada 2 Mei 1860, di Past, Hungaria, dengan nama asli: Benjamin Zeev Herzl. Keluarga Herzl berasal dari Zemun, Serbia, serta merupakan perpaduan dari Askhenazi dan Sephardi.

Theodor Herzl, “Nabinya” Zionisme (CBNdotcom)

Dalam gerakan politiknya, Theodor Herzl bercita-cita menyatukan umat Yahudi dalam sebuah wilayah geografis, sebagai sebuah negara-bangsa.

Saat Herzl bekerja keras mengkomunikasikan idenya, umat Yahudi masih tersebar di berbagai negara, terutama yang paling banyak di negara-negara kawasan Eropa.

Manuver-manuver Theodor Herzl tentu saja menimbulkan pro-kontra, bahkan antar warga Yahudi sendiri. Beberapa pemuka agama dan intelektual Yahudi, bahkan tidak setuju dengan geraka zionis. Di antara yang menolak, yakni: Karl Popper, Hermann Cohen, serta Judah L Magnes, yang terang-terangan menolak ide yang diwariskan dari Herzl.

Baca juga:  Perhatian Orientalis terhadap Kajian Tasawuf

Alasan yang mengemuka, gagasan Herzl yang bermaksud menyatukan orang Yahudi, justru dianggap bertentangan dengan ide bahwa keturunan Jehuda harusnya menyebar ke seluruh dunia. Bahkan, gerakan-gerakan Herzl dianggap sia-sia belaka.

Meski begitu, Theodor Herzl tetap bersikeras dengan cita-cita menyatukan orang Yahudi. Ia terus melakukan lawatan ke berbagai negara, menemui tokoh-tokoh kunci pemerintahan-militer, ekonom, hingga jurnalis dan taipan media untuk membantu propaganda.

Gerakan-gerakan politik Herzl akhirnya berdampak siginifikan, ketika ia berhasil meyakinkan tokoh-tokoh kunci di Eropa. Pendiri sekaligus editor Guardian Manchester, CP Scott (1846-1932), mendukung gerakan Herzl.

Di sisi lain, pertemuan Herzl dengan Arthur James Balfour (1848-1930) menjadi titik penting dalam arus politik gerakan Zionisme.

Melalui Balfour, tercetus sebuah deklarasi yang menyatakan dukungan pemerintah Inggris untuk pendirian sebuah ‘home-land’ bagi orang-orang Yahudi. Deklarasi bersejarah ini, kemudian dikenal dengan nama ‘Balfour Declaration’, Deklarasi Balfour, yang ditandatangi pada 2 November 1917.

Sejak itu, dukungan terhadap Zionisme semakin menemukan momentumnya. Gerakan politik Zionis semakin mendapat dukungan, ketika Ottoman runtuh pada wilayah kekuasaanya di kawasan Arab. Kawasan Arab terpecah, yang dikuasai oleh militer Inggris dan Prancis.

Di Hindia Belanda, Zionisme tumbuh menjelang akhir abad 19. Diawali dengan berdirinya sebuah organisasi Zionis di Amsterdam, Nederlandsch Zionistenbond, pada 1898. Kala itu, Mr. Isidore Hen, seorang pengurus Nederlandsch Zionistenbond, hijrah ke Jawa pada tahun 1909. Di bumi Jawa, Isidore Hen mengawali kerja di Raad van Justitie, hingga ia menjadi wakil ketua.

Baca juga:  ‘Two State Solution’, Mimpi Perdamaian Israel-Palestina

Ide-ide zionis di Hindia Belanda, mula-mula tersebar dari propaganda Isidore Hen. Ia dianggap sebagai tokoh zionis yang terampil dan berwawasan luas. Terbukti, ia kemudian memimpin dua organisasi Yahudi di Hindia Belanda: Nederlandsch Zionistenbond dan Vereeniging vor Joodsch belangen in Nederlandsch Indie. Kedua organisasi ini, di bawah koordinasi Dewan Pusat Yahudi, Centralee Jodsch Raad (Zarman, 2018: 75).

Baca Juga
Gus Dur dan Kutang Yahudi

Pada perkembangannya kemudian, gerakan zionis mencapai puncaknya pada pertengahan abad 20. Negara Israel berhasil dibentuk untuk menyatukan orang-orang Yahudi, pada 1948. Pendirian negara Israel, yang menganeksasi kawasan Palestina, menimbulkan gejolak di kalangan orang-orang Arab.

Jazirah Arab memanas, perang menjalar dan pertempuran bertubi-tubi. Kawasan-kawasan yang berbatasan dengan Israel-Palestina, tersentak dengan perdebatan garis wilayah, bahkan hingga kini. Bahkan, tidak sedikit orang Yahudi yang tidak setuju dengan gerakan Zionisme, karena aksi-aksi kekerasan dalam rangka perebutan lahan dengan warga Arab-Palestina, yang telah berlangsung selama beberapa dekade.

Meski demikian, perdebatan tentang ‘pewaris asli’ tanah kawasan Palestina, antara orang Yahudi dan Arab-Palestina memang tidak pernah tuntas. Klaim-klaim teologis hanya mencipa tembok tinggi, untuk saling membuat demarkasi perbedaan.

Di tengah perdebatan tentang wilayah, upaya memberi alternatif two-state solution (solusi dua negara) layak untuk terus didengungkan, sebagai upaya melempangkan diplomasi perdamaian.

Baca juga:  Belajar Teologi Yahudi dari Ibnu Hazm

Salah Paham, Sumber Kebencian

Jika membaca secara komprehensif akar sejarah dari gerakan Zionis, kita mengerti terjadi kesalahpahaman di ruang publik Indonesia. Seringkali, publik di Indonesia susah membedakan antara Zionis dan Yahudi. Bahkan, pada beberapa momentum, keduanya disamaartikan untuk melanggengkan narasi kebencian.

Nyatanya, jelas sekali perbedaan keduanya. Jika Zionisims merupakan gerakan politik, yang diwariskan dari cita-cita besar Theodor Herzl mempersatukan orang-orang Yahudi di seluruh dunia, dengan mendirikan ‘negara-bangsa’. Sedangkan, Yahudi merupakan agama Abrahamik, kepercayaan yang bersumber dari kitab suci Torah, yang diwartakan oleh nabi-nabi utusan Tuhan.

Kesalahpahaman memaknai ‘zionis’ dan ‘Yahudi’ sebagai sesuatu yang asing, disebabkan sedikitnya perjumpaan orang Indonesia modern dengan komunitas ini. Padahal, mereka telah hadir di kawasan Nusantara, jauh sebelum Indonesia merdeka. narasi anti-semit yang muncul pada masa Hindia Belanda, rezim militer Jepang dan kebijakan Orde Baru, turut mencipta memori atas orang-orang Yahudi sebagai ‘komunitas asing’ di negeri ini.

Lihat Komentar (1)
  • Salam.
    Tulisan ini malah gagal memahami zionisme dan yahudi setidaknya karena dua hal.
    Pertama, setelah menjelaskan zionime penulis tiba-tiba meminta agar menerima solusi dua negara. Kedua, tulisan ini ditulis oleh seorang yang dari tulisannya masih melihat pembaca Indonesia dengan kebencian bukan perlawanan. Contoh sederhana, Keika Belanda meminta agar Indonesia menjadi terbagi-bagi tentu saja founding father kita menolaknya, ketika para pejuang berperang melawan Belanda itu bukan karena kebencian tapi karena perlawanan

Komentari

Scroll To Top