Sedang Membaca
Inkuisisi, Ketika Yahudi dan Muslim terusir dari Andalusia
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Inkuisisi, Ketika Yahudi dan Muslim terusir dari Andalusia

Munawir Aziz

Peradaban Islam Andalusia di kawasan pesisir Iberia, merupakan masa puncak peradaban pengetahuan dalam tradisi Islam dan Eropa abad pertengahan. Masa jaya peradaban Andalusia, pada abad VII hingga XIV, terkubur dengan kisah sedih berupa periode reconquista dan inquisition (inkuisisi) yang didorong pengaruh Monarki Katolik untuk menyingkirkan orang-orang Yahudi dan Islam.

Penguasa kerajaan monarki Katolik berusaha untuk menguasa Spanyol, dengan penyatuan kekuasaan antar raja dan penguasa. Gerakan ini disebut sebagai Reconquista, yang ditandai dengan jatuhnya kerajaan Granada pada 1492.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Reconquista mengubur masa jaya peradaban Andalusia, tergantikan oleh kekuasaan Monarki Katolik di pesisir Iberia. Setelah tujuh abad hidup dalam kedamaian peradaban Andalusia, komuintas Yahudi dan muslim tercerai berai, sebagian terpaksa memeluk Katolik, sebagian melarikan diri mencari kehidupan baru yang lebih aman.

Sejarah kelam inkuisisi, mendorong persekusi terhadap komunitas Yahudi dan muslim di Andalusia. Inkuisisi merupakan kebijakan dari penguasa Spanyol atas dukungan dari monarki katolik dan petinggi gereja, untuk membersihkan bid’ah (heresy) yang saat itu menyelimuti kehidupan warga Spanyol. Sebenarnya, penyebutan heresy ini tidak sepenuhnya tepat, karena orang-orang yang dianggap bid’ah dalam agama karena intimidasi kekuasaan. Orang-orang Yahudi dan Muslim, pada akhir peradaban Andalusia, diwajibkan untuk berpindah agama: memeluk Katolik.

Raja Henry III penguasa Castile dan Leon (1390-1406) memaksa orang-orang Yahudi untuk memeluk Katolik. Jika tidak mengikuti perintah, pengikut Yahudi akan dipersekusi, disiksa, dibakar hidup-hidup, atau dibunuh secara keji. Orang-orang Yahudi dan Muslim hanya memiliki dua pilihan: dibaptis atau dibunuh.

Ribuan orang Yahudi dan muslim terbunuh pada masa inkuisisi ini. Sebagian besar melarikan diri ke luar kawasan Iberia, untuk mencari aman. Orang-orang Yahudi Sephardi (penganut Yahudi di pesisir Iberia) ini kemudian berdiam di kawasan Amerika Latin, Afrika dan Asia Tenggara.

Baca juga:  Haji Fachrodin, Tokoh Muhammadiyah di Jalur Kiri

Mereka kemudian membentuk koloni, sebagian memeluk Katolik, dan sebagian besar tetap mempertahankan diri sebagai pemeluk Yahudi. Sementara, orang-orang muslim juga tercerai berai. Mereka mengungsi ke Maroko dan sebagian kawasan Afrika bagian barat, juga berlayar ke kawasan Asia.

Orang-orang Yahudi yang konversi—berpindah agama—menjadi Katolik, disebut sebagai ‘conversos’ (istilah Spanyol dari konversi).

Mereka tetap mendapatkan intimidasi, kekerasal mental, persekusi dan prasangka buruk (prejudice). Orang-orang ‘conversos’ ini sebagian besar masih tetap menjaga ritual Yahudi secara diam-diam. Dalam istilah Spanyol, mereka dikenal sebagai ‘Marranos’.

Pada awalnya, orang-orang orang-orang ‘conversos’ masih dibiarkan hidup, menampakkan indetitas Katolik namun menjaga ritual Yahudi secara rahasia. Namun, penguasa Spanyol kemudian berang dengan kelakukan ‘marranos’ ini, yang dianggap mengganggu. Ketika Raja Ferdinand (Ferdinand II of Aragon) dan Isabella (Isabella I of Castille) menikah pada 1469, penguasa Spanyol ini mengangap marranos sebagai musuh besar. Kekuatan Aragon dan Castille bersatu dalam ikatan perkawinan dan kekuasaan yang menjangkau kawasan yang lebih luas di pesisir Iberia.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pada tahun 1478, Pope Sixtus IV mengumumkan dukungan penguasa Mornarki Katolik untuk memerangi marranos, membungkam ‘conversos’. Gerakan besar inkusisi di kawasan Spanyol dimulai dengan dukungan penguasa dan gereja. Pada 1438, inkuisisi serempak dimulai di Castile, Aragon, Valencia dan Catalonia.

Edward A Ryan dalam esai ‘Spanish Inquisition’ (Britannica), mengisahkan bagaimana periode inkuisisi ini membakar Andalusia. Raja Ferdinand dan Ratu Isabella bergerak cepat menguasai kawasan Andalusia, dengan gabungan kekuatan kerajaan Aragon dan Castille.

Baca juga:  Cerita Masjid Agung Jatisobo di Sukoharjo

Di penghujung abad XV, menjadi tahun-tahun menyedihkan bagi komunitas Yahudi dan muslim di pesisir Iberia. Pada 31 Maret 1492, Ferdinand dan Isabella memberi pilihan bagi orang-orang Yahudi Andalusia: memeluk Katolik atau terusir dari Spanyol. Lebih dari 160.000 orang Yahudi melarikan diri dari Spanyol, era Andalusia yang damai dengan gairah intelektual telah runtuh.

Persekusi juga dialami orang-orang Islam di Spanyol. Kardinal Jimenez de Cisneros mengusulkan hukuman dan pengasingan bagi komunitas muslim di Granada. Ketika Jimenez menjadi pemimpin inkuisisi, persekusi terhadap komunitas muslim semakin mengerikan. Pada 1526, orang-orang Islam di Aragon dan Valencia menjadi korban persekusi, mereka dipaksa untuk memeluk Katolik. Pada era yang sama, Islam dilarang di Spanyol. Peradaban Islam Andalusia terhapus oleh kekejian periode ‘inkuisisi’.

Orang-orang muslim yang sebelumnya ketakukan dan ikut dibaptis menjadi Katolik, juga diburu oleh penguasa Spanyol. Kelompok Moriscos (muslim yang berpindah ke agama Katolik) menjadi musuh penguasa, tradisinya dilarang, komunitasnya diperangi. Akibatnya, antara tahun 1571 hingga 1614, lebih dari 300.000 Moriscos melarikan diri keluar dari wilayah Spanyol.

Kondisi yang berbeda terjadi di Portugal. Ketika Raja Ferdinand dan Isabella mengeksekusi kebijakan inkuisisi pada 1492, orang-orang Yahudi Spanyol menerobos ke Portugal. Orang-orang Yahudi Portugal menerima perpidahan ini, memberi ruang bagi komunitas Yahudi Sephardi yang terusir dari Spanyol. Kontan saja, komunitas Yahudi di Portugal meningkat drastis.

Namun, ketika Raja Manuel menikahi Isabella (putri dari Raja Ferdinand dan Rattu Isabella Spanyol), kebijakan inkuisisi dipersiapkan bagi orang-orang Yahudi dan non-Katolik. Namun, orang-orang Yahudi Portugal sudah lama memegang posisi penting dalam bisnis dan pemerintahan, kebijakan inkuisisi tidak berjalan brutal sebagaimana di Spanyol. Demikian kisah yang disampaikan Dr. Or Hasson dari Hebrew University, Israel (Times of Israel, 31 Juli 2019).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Kisah Tenggelamnya Qarun dan Kekayaannya

Paola Tartakoff, menulis kisah-kisah konversi orang Yahudi pada abad pertengahan. Dalam publikasinya ‘Between Christian and Jew: Conversion and Inquisition in the Crown of Aragon’ menyebut bagaimana konversi terjadi pada situasi yang penuh paradoks. Orang-orang Kristen berusaha memenangi hati dan jiwa orang-orang Yahudi. Sebaliknya, orang Yahudi bersemangat untuk membawa kembali orang-orang yang dianggap murtad ke ajaran-ajaran asli Yahudi.

Meski demikian, prasangka dan kebencian terhadap orang Yahudi dan Muslim di Spanyol membawa pengaruh yang panjang. Bahkan, beberapa istilah dalam bahasa Spanyol juga masih bernada kebencian terhadap orang Yahudi. Orang-orang Spanyol biasa menyebut judio untuk sesuatu yang tidak berguna, judiada (upaya keji, licik, a dirty trick, cruel, dll.), serta perro judio (anjing Yahudi).  Kebencian ini juga menjadi akar begitu kentalnya anti-semitisme di kawasan pesisir Iberia ini.

Kebijakan inkuisisi di Spanyol mengalami perdebatan pada abad 19. Joseph Bonaparte menolak inkuisisi pada 1808, yang kemudian dipulihkan Ferdinand VII pada 1814. Selang enam tahun kemudian, pada 1820 kebijakan inkuisisi ditiadakan, lalu dipulihkan pada 1823, dan kemudian secara permanen ditiadakan pada 1834. Situasi yang sama juga terjadi di Portugis, yang mana inkuisi terkubur pada tahun 1821.

Kini, penguasa Spanyol membentuk Undang-Undang kewargaan yang membolehkan warga Yahudi—yang dahulu terusir dari Iberia—untuk mendaftar warga negara ganda. Pemerintah Spanyol membuka pintu agar orang-orang Yahudi ini kembali ke negara leluhurnya. Upaya legal untuk menghapus luka sejarah dalam periode panjang sejarah Eropa, khususnya di pesisir Iberia.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top