Sedang Membaca
Ngaji Islam Nusantara (1): Literasi dan Kajian Manuskrip di Dunia Islam
Mustain Romli
Penulis Kolom

Warga NU yang sedang menuntaskan studi (S1) di perguruan tinggi Universitas Nurul Jadid Probolinggo, sekarang sebagai mahasantri aktif di Ma'had Aly Nurul Jadid, paiton, probolinggo dengan konsentrasi fiqh-ushul fiqh.

Ngaji Islam Nusantara (1): Literasi dan Kajian Manuskrip di Dunia Islam

Images (20)

Kajian Islam nusantara masih masif didiskusikan hingga hari ini, dari perkumpulan kelompok kecil hingga konferensi-konferensi global, salah satunya, seperti acara yang dimentori oleh Asosiasi Penulis-Peneliti Islam Nusantara Seluruh Indonesia (ASPIRASI) – PWLTNU Jawa Timur dengan kegiatan “The 4th Internasional Workshop and Call Paper on Islam Nusantara Research  Methodology”.

Acara seperti ini harus terus digelar dengan tujuan agar masyarakat kita dewasa ini tidak kepaten obor (Baca: Jawa), yaitu terputusnya pemahaman-pemahaman generasi masa kini tentang arti penting sebuah keberislaman yang khas ala nusantara di masa lalu. Karena mendamaikan Islam dengan tradisi inilah, Islam yang dibawa dari gurun pasir ini mampu menjadi sebuah agama agraris nan menyejukkan, sehingga cocok dengan karakter ke-Indoneisa-an.

Membaca Islam Nusantara adalah melihat Indonesia, menulis Islam Nusantara adalah menarasikan ibu pertiwi. Khazanah keagamaan yang saat ini menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat, tak bisa dipisahkan dari tradisi yang dilahirkan dari persenyawaan antara nilai-nilai ajaran Islam dengan Local Wisdom yang ada.

Dalam kegiatan ini ASPIRASI mengusung tema utama “Menggali Kearifan Masa Lalu, Mengukir Jalan Kebangkitan Kedua: Sejarah sebagai Peta Jalan Peradaban Nusantara” dengan menghadirkan para Tokoh berpengaruh kaliber Internasional, dari Syaikh Dr. Muhammad Syadi Musthofa Arbasyi ad-Dimasyqi (Muhaqqiq Turats & Majma’ al-Fath al-Islamy, Suriah), Prof. Ayang Utriza Yakin, DEA., Ph.D (Universite Catholique de Louvain, Belgium), Prof. Masdar Hilmy, S.Ag., M.A., Ph.D (Guru Besar UIN Sunan Ampel, Surabaya), Dr. Akhol Firdaus, M.Pd., M.Ag (Direktur Institute for Javanese Islam Research UIN Satu Tulungagung) hingga Mas Irfan Afifi, S.Fil (Peneliti Islam-Jawa dan Pengasuh Langgar.co).

Baca juga:  Presidensi G-20, Indonesia Perlu Orkestrasi Seluruh Potensi Bangsa

Ma’had Aly Nurul Jadid menjadi salah satu peserta dalam kegiatan ini, dan yang ditugaskan untuk menghadiri acara tersebut adalah al-haqir ditemani oleh sahabat karib di pesantren, beliau ust. Ubaidillah. Pendelegasian ini tak lain agar orang pesantren juga belajar memahami kearifan lokal yang berada di bumi pertiwi ini. Tidak hanya Ma’had Aly Nurul Jadid, Ma’had Aly Situbondo dan beberapa Universitas ternama juga ikut serta dalam acara lokakarya yang bertempat di UNIRA, Kepanjen, Malang seperti: UII, UIN Sunan Ampel dsb.

Dalam kegiatan ini ada beberapa catatan penting yang al-haqir tulis dengan keterbatasan ilmu yang dimiliki, penulis mencoba untuk menungkannya ke dalam beberapa narasi, sebagai berikut:

Syaikh Syadi Al-Arbasyi: Literasi dan Kajian Manuskrip di Dunia Islam

            Dosen STAI Imam Syafi’i Cianjur itu bertindak sebagai pemateri pertama dengan tema literasi dan kajian manuskrip di dunia islam. Seorang filolog muslim berasal dari Syuriah itu, tentu tak asing dengan manuskrip-manuskrip kitab turast yang berada di dunia Islam, sekalipun menjadi seorang filolog merupakan tugas yang sangat berat, sebagaimana yang beliau sampaikan, namun ini menjadi tugas bersama untuk menjaga manuskrip-manuskrip peninggalan-peninggalan ulama terdahulu.

Urgensi dalam menjaga manuskrip-manuskrip terdahulu tak lain adalah untuk menghindari dari pendistorsian yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab dan tentunya memusuhi Islam, sebut saja seperti: bangsa Eropa bahkan di dalam tubuh Islam sendiri namun yang tak berhaluan Ahlussunnah Wa al-Jamaah, seperti: Orang-orang Wahabi, Syiah dan selainnya.

Baca juga:  Melihat Dinamika Kehidupan Agama di Klenteng Poncowinatan dari Sudut Pandang Orang Islam

Memori kita masih mengingat betul historis melankolis yang dialami oleh Islam pada masa kejayaannya, tepatnya pada masa Dinasti Abbasiyah, Baghdad. Bangsa Mongol tidak hanya membunuh para orang Islam, termasuk kebengisan mereka ialah membumi-branguskan tanah Baghdad; membakar kitab, memusnahkan perpustakaan hingga membuangnya ke sebuah sungai yang bernama Dajlah. Ribuan buku dari perpustakaan Baitul Hikmah tersebut dijadikan sebuah jembatan agar kuda-kuda pasukan tar-tar bisa menyebrangi sungai Tigris.

Dalam menjajah sebuah negara, yang menjadi sebuah keniscayaan ialah merampas manuskrip-manuskrip yang berada di dalamnya, ada beberapa negara Islam yang menjadi korban kebengisan negara-negara Eropa. Contohnya Andalusia, ada sekurangnya 80 ribu buku dan kitab dibumi-branguskan oleh negara penjajah. Tidak hanya Andalusia –lanjut Syaikh Syadi- ketika Irak pun diperangi perpustakaannya juga dibakar oleh para penjajah hingga tak tersisa secuil pun.

Negara barat memiliki strategi-strategi jitu untuk menghentikan perkembangan peradaban Islam, sekurangnya ada dua hal yang menjadi kunci utama sekaligus menjadi “jimat” untuk menjajah Negara Islam, yaitu: 1. Membakar manuskrip-manuskrip yang dimiliki negara jajahan dan, 2. Mengubah serta menterjemahkan ke dalam bahasa mereka.

Ada satu hal yang menjadi penyebab ketidak-berkembangan Islam pula, ini terjadi karena kelalaian di dalam tubuh Islam sendiri, ialah sikap acuh tak acuh tanpa adanya perhatian khusus terhadap manuskrip-manuskrip peninggalan ulama terdahulu. Dari sinilah akan terang-benderang betapa pentingnya mengetahui ilmu al-makhtutot (Ilmu Filologi). Tanpa adanya ilmu yang dipelajari orang-orang Filolog tersebut, bukan sebuah kemustahilan, akan ada beberapa manuskrip-manuskrip ulama terdahulu yang lenyap ditelan masa.

Baca juga:  Di Sinci Gus Dur Terukir Tulisan 'Yin Hua Zhi Fu, Fu Ruo Guo Zhi'

Syaikh asal Suriah itu menyebutkan beberapa manuskrip yang hilang dari permukaan –kalo tidak salah dengar, karena beliau menggunakan bahasa Arab ditemani dengan penerjemah handal-, seperti al-ilmam (aw al-ghilmam) bi ahaditsi al-ahkam anggitan Imam Taqiyuddin. Entah Imam Taqiyyudin siapa yang beliau maksud. Ada pula masterpiecenya Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, pun hilang dari permukaan, tidak lain karena ketidak pedulian dari kalangan orang Islam, anggitan itu bernama byusrol karim, namun bukan busyrol karim yang kita kenal hari ini.

Adalah termasuk dari menyia-nyiakan peninggalan ulama terdahulu, tidak mempelajari serta enggan untuk membacanya, tentunya hal ini diperuntukkan bagi kalangan Umat Islam secara umum. Berapa banyak kalangan Muslim yang peduli akan pentingnya manuskrip-manuskrip ulama terdahulu itu? Masih banyak dari kalangan kita tidak tahu-menahu betapa pentingnya peninggalan-peninggalan emas dari pendahulu kita. Cara ampuh untuk menjaga peninggalan-peninnggalan berharga itu tentunya dengan mentahqiqnya, pungkas beliau. Mempelajari Ilmu Filologi secara intensif juga menjadi sebuah keharusan. []

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
1
Scroll To Top