Sedang Membaca
Perjodohan Misterius: Dua Santri dan Sebuah Perjanjian (Atau Doa)
Penulis Kolom

Bekerja di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pendidikan S3 diselesaikan di Tilburg University, S2 di Leiden University, dan S1 di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pernah belajar juga di Pondok Pesantren Darul Hikam Joresan, Ponorogo, Jawa Timur.

Perjodohan Misterius: Dua Santri dan Sebuah Perjanjian (Atau Doa)

1 A Zainuddin

Bermula dari dua santri bersahabat asal Ponorogo, Ahmad Zainuri dan Zainuddin. Zainuri lebih senior dua tahun, ia lahir pada 1933, sedangkan Zainuddin pada 1935. Tapi karena tidak terpaut jauh, Zainuddin memanggil sahabatnya “njangkar” (egaliter), “Zen” (tidak mas atau kang), sedangkan Zainuri memanggil Zainuddin “Din”.

Zainuri sudah terlebih dulu mondok di pesantren Seblak, dan kalau pagi sekolah di madrasah Tebuireng, keduanya di Jombang. Zainuddin saat itu baru saja lulus SMP dan mendaftar masuk SMA, tapi tidak lulus. Jangan dibayangkan usia lulusan SMP sekarang. Dari segi usia seharusnya sudah SMA, karena dia terlambat bersekolah karena sejak kecil lebih banyak bekerja membantu orang tua di sawah. Saat Zainuri datang ke rumahnya di Tepeng, desa sebelah barat kota Ponorogo, dan mengajaknya mondok atau nyantri, dia serta merta menyetujui, tentu setelah mohon izin orang tuanya, bapak Soleh dan ibu Maemonah.

Mereka berdua berangkat ke pesantren Seblak, tempat Zainuri mondok itu. Jarak antara Ponorogo ke Jombang 129 km, ditempuh dengan naik kereta api. Di sana, Zainuddin didaftarkan oleh Zainuri di Madrasah Ibtidaiyyah Tebuireng kelas 6 pada tahun ajaran 1957/1958. Madrasah Tebuireng terdiri dari tiga jenjang, yakni Ibtidaiyah (SD), Tsanawiyah (SLTP), dan Mu’allimin (SLTA). Artinya mereka sekaligus santri Seblak dan Tebuireng.

Saat itu sebagian besar santri Seblak bersekolah di madrasah Tebuireng. Seblak berada di sebelah barat Tebuireng. Jalan kaki sekitar 10-an menit. Tidak jauh, tapi zaman dulu antara Tebuireng dan Seblak cukup “menantang”, apalagi kalau malam hari, karena harus melewati kuburan, jalan kecil, parit, kebon tebutebu, masuk ke selatan, baru sampai pondok Seblak. Sekarang tentu saja sudah diterangi lampu dan ramai.

Saat itu usia Zainuddin 22 tahun, dan Zainuri 24 tahun. Kalau sekarang itu usia kuliah. Namun di pesantren, yang dilihat bukan usia, tapi penguasaan pengetahuan ilmu-ilmu keislaman, dan ilmu alat, seperti nahwu, sharaf, balaghah. Zainuri sendiri, walau pernah sekolah di PGA NU (tapi tidak selesai karena PGA NU bubar), dia harus mengulang juga dari Tsanawiyah. Beberapa saudara dari Zainuri juga nyantri di Seblak, seperti Mahfudz Idris, Imam Khurmein, dan Wahib Syafa’at.

Di pesantren, Zainuddin dan Zainuri tinggal satu kamar, makan satu leser (tempat makan), dan merokok pun sering satu batang untuk berdua.

Saat itu pengasuh pesantren Seblak adalah KH Mahfudz Anwar (1912-1999), seorang alim falak. Beliau adalah menantu KH Maksum Ali, penulis kitab sharaf yang terkenal itu, al-Amtsilah al-Tashrifiyyah. Kiai Maksum sendiri adalah menantu dari Hadratusy-syeikh karena mempersunting putri beliau, Nyai Khairiyah. Kalau pagi Kiai Mahfudz juga mengajar di madrasah Tebuireng. Adapun Tebuireng saat itu dipimpin KH Abdul Choliq Hasyim (1916-1965), putra Hadhratusy-syaikh Hasyim Asy’ari (1871-1947) yang keenam, dibantu adiknya, KH Abdulkarim Hasyim (1919-1972), dan iparnya, KH. Idris Kamali. Gus Choliq (begitu beliau dipanggil saat itu) mendirikan Partai Aksi Kemenangan Umat Islam (AKUI) dan dalam pemilu 1955 berhasil mendapatkan kursi di Perlemen.

Untuk mencukupi kebutuhannya, Zainuri antara lain, berdagang handuk. Dia kulakan handuk dari tetangganya di Gandu, desa dekat Gontor. Saat itu pabrik handuk di Gandu sangat terkenal. Tapi karena harus sekolah dan ngaji, Zainuri berdagang ketika hari Jumat, dibantu Zainuddin. Handuknya dititipkan di toko Tionghoa di dekat stasiun Cukir. Untuk itu mereka harus naik kereta api dari Jombang ke Cukir yang berjarak sekitar 7 km. Stasiun Cukir dibangun pada tahun 1897 oleh Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM). Zainuri pintar bergaul dan akrab dengan saudagar Tionghoa itu, dan anak perempuannya yang cantik, Mei. Handuk itu dia jual ke Pare, Kediri. Untuk itu dia naik kereta api lagi. Handuk itu dia tawarkan dari toko ke toko.

***

Pada suatu malam pada 1958, Zainuri menantang Zainuddin debat sampai pagi. “Din, yuk malam ini kita bantah-bantahan sampai pagi.” Ditantang begitu, Zainuddin melayani, “Ayuk, siapa takut?”

Tapi merasa ada yang aneh, Zainuddin bertanya, “Kok tumben ngajak bantah-bantahan?” “Wis to, nanti selesai bantahan aku kasih tahu.” Begitu Zainuri menimpali.

Rokok dan kopi pun mereka siapkan. Mulailah kedua santri lajang itu membicarakan banyak hal, dari persoalan agama, pergerakan, sampai hal-hal yang njeplek-njeplek (ringan-ringan). Perdebatan Konstituante yang sejak 1956 terjadi di Jakarta juga tak luput luput mereka bicarakan. Maklum Gus Choliq juga anggota Konstituante perwakilan AKUI, demikian juga istri Kiyi Mahfudz Anwar, Nyai Abidah, perwakilan partai NU. Nyai Abidah ini dijuluki “Kartini dari Jombang”. Selain mengelola pesantren putri Seblak, beliau juga aktif di Muslimat NU, mengajar di PGA putri Jombang, menjadi anggota DPRD Jombang, dan anggota Konstituante itu. Dari Nyai Abidah ini nanti lahir Lily Zakiyah Munir. Jadi, santri Seblak saat itu cukup mengikuti juga isu-isu politik. Perbantahan Zainuri dan Zainuddin mengalir saja. Gayeng, sambil klepas-klepus menghisap rokok. Zainuddin habis dua bungkus rokok, Zainuri juga.

Baca juga:  Sang Penyempurna Akhlak Mulia

Tiba-tiba terdengar tarhim menjelang Subuh. “Wah, sudah tarhim ini. Kalau ngomong gak ada habisnya. Harus ada yang konkret,” kata Zainuddin. “Apa maksudmu?” kata Zainuri. “Kita harus buat perjanjian. Pertama, betah-betahan membujang.” Tawa mereka pun meledak. “Kedua,” Zainuddin melanjutkan sambil senyum-senyum, “Kita nanti besanan…”

Belum sempat Zainuri menyahut, Zainuddin melanjutkan, “Anakku, anak laki-laki pertama, dan anakmu, anak perempuan yang paling akhir.”

Mereka tertawa bersama lagi. Maklumlah mereka masih jomblo, tapi membicarakan anak dan besanan. “Oke, siap, insyaallah nanti kita besanan,” kata Zainuri. “Sebentar,” kata Zainuddin, “Aku pesan nama anakmu nanti diberi nama Zahroh.” Tidak tahu mengapa Zainuddin sampai mengusulkan nama segala. Tetapi Zainuri pun mengiyakan.

Tidak hanya sampai di situ. Entah apa yang ada di kepala mereka, mereka menulis surat perjanjian yang berisi keinginan besanan itu. Satu ditandatangani Zainuri, dibawa Zainuddin. Dan satunya lagi ditandatangani Zainuddin, dibawa Zainuri. “Tapi,” kata Zainuddin, “Kita tidak boleh memberitahu ke anak dan istri kita nanti tentang hal ini, dan tidak boleh pula mengarahkan. Biar Allah yang mengaturnya. Jika memang ditakdirkan Allah, insyaallah, pasti ini akan terjadi.” “Oke, aku setuju,” Zainuri menimpali lagi.

Mereka lalu shalat jamaah Subuh, dan tertidur karena sangat mengantuk. Zainuri lupa memberitahu apa maksud dia mengajak ngobrol berbantah-bantahanan semalaman. Zainuddin pun lupa menanyakan.

Setelah matahari sudah tergelincir, setelah shalat Zuhur tampak Zainuri mengemasi barang-barangnya. Hal ini membuat Zainuddin terheran-heran. “Kenapa barang-barangmu kemasi, Zen? Kamu mau ke mana?” “O, ya. Tadi Subuh aku lupa kasih tahu mengapa aku ngajak bantahan semalam suntuk.”

Sejenak melihat sahabatnya yang masih keheranan, Zainuri melanjutkan, “Din, sepurane (maaf), aku pamit pulang. Awakmu tetap di sini saja melanjutkan belajarmu.” Bagai disambar petir di siang bolong, Zainuddin mlongo, masih belum percaya sahabatnya pulang tanpa bilang-bilang sebelumnya. Dia merahasiakan rencana perpulangannya sedemikian rupa. Tapi bagaimana lagi, tampaknya Zainuri sudah bulat untuk pulang. “Begitu, ya, Zen? Ya, sudah kalau begitu, dongo-dinongo (saling mendoakan).”

Segera Zainuri bergegas menuju becak yang sudah menunggu di luar pondok. Zainuddin menatapnya dari kejauhan dengan perasaan penuh kehilangan.

***

Sekitar setahun kemudian, Zainuddin terpaksa menyusul pulang pada 1959, karena bapaknya sakit-sakitan. Semua sawah dan kebun digarap orang lain. Sepulang dari Jombang, Zainuddin mendirikan madrasah di rumahnya, sembari bekerja di sawah di pagi hari. Madrasahnya masuk siang hari. Meskipun capek, antusiasme para siswa membuatnya bersemangat. Cukup banyak siswanya, bukan hanya dari desanya, tetapi juga dari desa-desa tetangga.

Setelah kepulangan mereka dari Jombang, kedua sahabat ini sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tidak banyak yang Zainuddin tahu tentang Zainuri setelah perpisahan itu, demikian juga sebaliknya. Keduanya tidak bertemu satu sama lain.

Tidak ingin lama-lama menjomblo, dua tahun setelahnya, Zainuri mempersunting Siti Aminah, gadis Gandu yang sebenarnya masih bersaudara, pada 1960. Namun setelah itu Zainuri pergi ke Lampung untuk bekerja di perkebunan kopi. Tentang rencana ini Zainuri pernah cerita kepada Zainuddin dalam obrolan mereka.

Sekitar akhir 1962 atau 1963 awal, Zainuddin melihat seseorang yang dia duga Zainuri, tapi dia tidak yakin. Saat itu dia sedang di warung dawet di pojok barat daya alon-alon Ponorogo. Malam hari, warung itu hanya diterangi lampu “semprong” kecil. Itu pun semprongnya dilapisi kertas koran. Jadi remang-remang. Orang itu bersama seorang perempuan, yang mungkin istrinya. Mereka berseberangan, dia menghadap ke selatan, sedangkan orang itu menghadap ke utara. Di tengah-tengah mereka obrok dawet dan meja, dan penjualnya, tentu. Pandangannya juga agak terhalang obrok itu. Di antara mereka juga ada pembeli-pembeli lain. Selain ragu-ragu, tidak enak dengan pembeli-pembeli lain, untuk bertegur sapa memastikan siapa orang di depannya itu. Akhirnya Zainuddin beranjak tanpa menyapa dan memastikan orang itu. Bisa saja itu benar karena Zainuri pulang dari Lampung sekitar pertengahan 1962.

Baca juga:  Osman Raliby, Jurnalis dan Politisi Masyumi dari Pidie

Merasa perlu menimba pengalaman, Zainuddin merantau ke Sumatra, tepatnya ke Indragiri Hilir, pada 1963. Di sana dia mengembangkan madrasah yang sudah dibuka sebelumnya oleh seorang tokoh yang berasal dari Ponorogo, Haji Abu Amar, yang juga pamannya dari Bani KH. Arifin. Banyak suka duka di sana. Selain mengajar, Zainuddin juga bekerja di ladang.

Pada 1965, dia pulang. Saat itu terjadi Gestapu di Jakarta. Karena kondisi Jakarta gawat, sampai Jambi dia balik lagi pakai kapal tongkang (memuat 100-an orang) ke Indragiri Hilir, dan berangkat lagi sebelas hari setelah itu. Dia masuk Jakarta melalui Tanjungpriok menaiki kapal besar. Di Tanjungpriok aman. Konon biasanya banyak preman, calo nakal atau copet bersliweran. Setelah Gestapu, Jakarta saat itu sepi. Jalan-jalan lengang. Dari stasiun Gambir dia bersama sebelas orang yang bertemu di kapal berangkat ke Semarang, dan menginap semalam di sana. Mereka mempunyai tujuan yang sama, yaitu stasiun Madiun.

Esok harinya mereka melanjutkan perjalanan dengan kereta api ke Madiun, dan dari situ mereka berpecah, ada yang ke Ngawi dan ada yang ke Ponorogo. Jalur kereta api saat itu sampai Ponorogo. Sesampai di rumah, dia kecewa karena madrasah yang dia rintis dulu ternyata bubar. Untuk memulai kembali sudah sangat berat.

Setelah pulang dari Sumatra, Zainuddin tidak segera menikah. Rupanya dia ingat tantangannya dulu pada Zainuri, betah-betahan menjomblo. Dia bekerja di pabrik Tembakau milik Na’im, pamannya jadi jalur ibu, di Balong, Ponorogo selatan. Na’im adalah saudagar tembakau di Balong. Zainuddin baru menikah pada 1969 dalam usia yang sudah sangat matang, 35 tahun. Zainuddin mempersunting gadis Gayuhan, Pacitan, santri pesantren Tremas, bernama Siti Musri’ah. Pesantren Termas saat itu dipimpin oleh KH. Habib Dimyati (1923-1998). Dia di-makcomblagi adiknya yang nyantri di Tremas, Muharror. Bapaknya, H. Sholeh, dan tiga adiknya (Masrur, Muharror, dan Fikri) adalah santri Tremas. Setahun kemudian, pada 24 Oktober 1970, Zainuddin-Siti Musri’ah dianugerahi anak pertama mereka, laki-laki. Anak itu mereka beri nama “Moch. Nur Ichwan”.

Pada saat Zainuddin menikah itu, Zainuri sudah dikaruniai tiga anak, yaitu Ely, Weni, dan Anis. Tidak tahu apakah berita menikahnya Zainuddin dan kelahiran anak laki-lakinya terdengar oleh Zainuri. Zainuddin memang tidak mengundang sahabatnya itu ke pesta pernikahannya, sebagaimana Zainuri juga tidak mengundang Zainuddin pada pernikahannya. Saat anak lelakinya lahir, Zainuddin tidak juga woro-woro ke sahabatnya itu.

Dua tahun kemudian, Zainuri dianugerahi anak keempat, seorang putri, yang kemudian diberi nama, A’immatuz Zamroh. Namun, takdir menentukan lain, A’im meninggal dalam usia beberapa bulan.

Dua tahun kemudian Aminah mengandung lagi dan melahirkan seorang putri pada 16 Maret 1974, yang kemudian diberi nama “Afifatuz Zahroh”, dipanggil Happy. Aminah ingin sekali punya anak yang dipanggil “happy”, yang berarti bahagia. Tidak ada keluarga yang tahu mengapa Zainuri memberikan nama “Zahroh” kepada putrinya ini, selain bahwa itu nama indah yang berarti bunga dalam bahasa Arab.

***

Zainuddin sebenarnya tahu rumah Zainuri. Tidak cuma itu, dia juga beberapa kali lewat depan rumah Zainuri yang berada di utara pasar Gandu itu. Adik Zainuddin, Siti Futiati Romlah, pun tinggal di Gandu. Nur, anak pertamanya pun pernah setahun tinggal di rumah Romlah. Juga anak ketiga, Farida dan keempat, Dony, saat mereka sekolah di madrasah Al-Islam Joresan, walau kemudian mereka pindah ke pesantren. Nur ke Darul Hikam Joresan, Farida dan Dony ke pesantren Jalen, timur Joresan. Hanya Syamsul Hadi, anaknya yang kedua, yang tidak pernah tinggal di rumah adiknya itu, tapi langsung ke Darul Hikam dan madrasah Al-Islam (sekarang Pesantren Al-Islam). Darul Hikam adalah pesantren di mana KH. Ahmad Sahal dan KH. Imam Zarkasyi (dua dari “Trimurti” Pondok Modern Gontor) pernah menyantri pada masa remajanya. Entah kenapa, Zainuddin tidak pernah menyempatkan dirinya mampir.

Baca juga:  Saya Muhammadiyah yang Tercemar NU

Ada dua pertemuan di antara keduanya, setelah perpisahannya pada 1958. Pertama sekitar 1985, saat Zainuddin dan keluarga sudah tinggal di Balong. Memang Zainuddin dan keluarga pindah dari kota Ponorogo ke Balong pada 1979. Rumah mereka, yang sekaligus toko, berada depan pasar Balong sebelah utara. Saat itu Zainuddin sedang santai di depan tokonya, toko palen, menjual baju, sepatu, dan kebutuhan sehari-hari, selain kebutuhan pokok makanan. Zainuddin sekonyong-konyong melihat Zainuri menyeberang jalan dari arah pasar. Saat itu Pahing (hari dalam penanggalan Jawa), hari pasaran. Oleh karena itu pasar Balong disebut Pasar Pahing. Melihat itu, Zainuddin bergegas menyambutnya di pinggir jalan. “Zen, mampir!” Zainuri terkejut melihat sahabatnya itu. Dia tidak tahu kalau Zainuddin pindah ke situ.

“Kamu tinggal di sini?” tanyanya. “Iya. Sudah sejak 1979. Mengapa ke pasar sini?” Zainuri menunjukkan bungkusan yang baru saja dibelinya. Sepertinya barang logam. Setelah sedikit bertanya kabar, Zainuri harus segera cabut.

“Sepurane, Din. Aku agak tergesa-gesa, belum bisa mampir. Insyaallah lain waktu kita ngobrol.” Setelah mengatakan itu, dia menjabat tangan Zainuddin. Tapi sambil beranjak menuju motor Vespa yang diparkir di depan pak Soetoyo, timur toko Zainuddin terpaut satu toko, Zainuri berseloroh, “Pintar juga kamu cari istri cantik.” Mendengar candaan itu, Zainuddin tertawa. Rupanya Zainuri tahu istri Zainuddin, Musriah, sedang duduk di dalam toko, dan tampak dari tempat mereka berdiri. Itu pertemuan singkat, sekitar lima menit.

Pertemuan kedua terjadi pada awal 1995, saat Zainuddin pulang silaturrahim ke rumah adiknya Futiati Romlah. Itu pertemuan yang tidak disengaja juga. Saat itu Zainuri sedang ada di depan rumah. Tiba-tiba dilihatnya seseorang yang amat dia kenal lewat depan rumahnya. Dia mencegat dan membersilakan mampir. Zainuddin pun berhenti dan mengikuti keinginan sahabatnya itu. Sudah lama sebenarnya dia ingin mampir, tapi tidak pernah sempat. Saat mau masuk rumah, Zainuri menunjukkan sebuah triplek yang menempel di depan rumah di tembok bagian kanan. Rumah itu menghadap ke selatan.

“Itu nama anak-anakku,” kata Zainuri sambil tersenyum dan langsung masuk rumah.

Zainuddin membacanya selintas. Dia tercenung membaca nama anak perempuan, Afifatuz Zahroh. Ya, ada kata Zahrohnya. Afifatuz Zahroh ini anak perempuan terakhir, kakak ragil. Ragilnya seorang laki-laki, Ahmad Zamroni. Zainuddin tersenyum. Ingatannya kembali ke perjanjian masa lalu itu. Tapi dia juga ingat, jangan sampai mereka mengatur perjodohan, biar Allah saja yang mengaturnya. Dan anehnya, Zainuri juga tak sedikit pun menyinggung masalah itu. Mereka lebih berbicara masalah lain. Pertemuan itu tidak lama, sekitar 30-an menit. Zainuddin akhirnya pulang tanpa mengobrolkan apa pun tentang perjanjian itu.

Baik Zainuddin maupun Zainuri tidak pernah membicarakan perjanjian itu, baik kepada istrinya maupun anak-anaknya. Atau mereka memang sudah melupakannya? Satu-satunya yang pernah dikatakan Zainuddin kepada anak-anaknya adalah bahwa Zainuri itu “konco kenthel” (sahabat dekat) saat nyantri di Jombang. Itu saja, tidak lebih. Surat perjanjian yang ada pada Zainuddin itu pun sudah hilang entah ke mana. Mungkin ikut terbakar saat rumah Zainuddin terbakar pada 1998, atau hilang saat pindahan ke Balong pada 1979. Barangkali begitu juga dengan surat yang dibawa oleh Zainuri. Sampai saat ini keluarga tidak pernah menjumpainya.

1 Ahmad Zainuri
Ahmad Zainuri wafat pada tahun 1995 saat berusia 64 tahun

Beberapa bulan setelah pertemuan mereka berdua itu, Zainuri berpulang ke Rahmatullah, pada 8 Dzul Hijjah 1415, bertepatan dengan 9 Mei 1995. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Beliau berpulang tanpa tahu apakah perjanjian dengan sahabatnya Zainuddin, atau tepatnya doa mereka, ya, kekuatan doa mereka, itu akan dikabulkan oleh Allah SWT. Lima tahun setelah berpulangnya Zainuri, rupanya Allah mendengarkan janji atau doa mereka berdua.

Kedua anak mereka, Moch Nur Ichwan dan Afifatuz Zahroh, itu kemudian, tanpa intervensi mereka, menikah, bi-idzni-Llāh, pada 22 Juli 2000. Allāhumma bārik lahumā wa bārik ‘alay-himā wa-jma’ bayna-humā fī khayr. Āmīn.

Yogya, 22-26 Juli 2021

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top