Sedang Membaca
Visi Pendidikan Islam
Hafis Azhari
Penulis Kolom

Pengarang novel "Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten"

Visi Pendidikan Islam

Pendidikan Islam

Islam berasal dari bahasa Arab yang paralel dengan kata “istislam”, yang artinya berserah-diri atau berpasrah sepenuhnya. Dalam kitab Tabaqat (hlm. 355) Ibnu Sa’d pernah menguraikan peristiwa kembalinya Rasulullah bersama para sahabatnya ke Kota Mekah (Fathu Makkah), yang kemudian disambut oleh sebagian besar penduduk Mekah yang berbondong-bondong memeluk Islam. Pada saat itu, memang masih ada sebagian kecil yang belum menerima kehadiran Islam, dan ada lagi sebagian lain yang menerima secara terpaksa (belum sepenuh hati). 

Ketika hegemoni politik sudah dipegang oleh kekuatan Rasulullah dan para sahabatnya, maka tak perlu lagi mendakwahkan Islam secara sembunyi-sembunyi. Dengan jaminan keamanan dan stabilitas sosial, Rasulullah memperingatkan bahwa bagi siapapun yang menyakiti orang-orang dzimmi (belum memeluk Islam tapi taat pada sistem pemerintahan Madinah), maka ia telah menyakiti Rasul dan membuat citra Islam akan tercemar. Karena itu, para pemeluk agama dan kepercayaan lainnya merasa aman dan terlindungi oleh kekuasaan Islam di bawah panji-panji kepemimpinan Muhammad, yang kemudian dilanjutkan oleh Khalifah sesudahnya (khulafa al-rasyidin).

Misi percepatan pendidikan Islam, kemudian didakwahkan dan diteladani oleh jejak-langkah para sahabat, tabi’in hingga tabi’it tabi’in. Selanjutnya, diteruskan oleh para waliullah, alim-ulama, orang-orang saleh, cendikiawan atau intelektual muslim. Begitu pun dalam misi perjuangan Islam yang diemban para Walisongo, yang pada mulanya tampil sebagai alternatif ideologi untuk membangun peradaban orang Nusantara yang masih beragama pagan dan berpijak pada kekuasaan dewa-dewi (politeisme), bahkan kepercayaan pada benda-benda pusaka (animism dan dinamisme).

Sumber rujukan utama untuk membangun peradaban Islam, sejak zaman klasik, modern dan post-modern, tetap mengacu pada Alquran dan Alhadist. Tentu saja yang paling dominan adalah hadits-hadits shahih, yang dapat diandalkan rekam-jejak kebenaran maupun validitasnya hingga saat ini. Selain itu, ada karya-karya sastra klasik yang agung dari tangan-tangan terampil para sahabat Nabi, seperti Nahjul Balaghah (karya Ali bin Abi Thalib), yang diakui para ulama dan cendikiawan sedunia sebagai buku ketiga yang paling banyak dibaca kaum muslimin dari zaman ke zaman (setelah Alquran dan Alhadits).

Baca juga:  Mempertanyakan Relasi Agama dan Negara: Pandangan KH Afifuddin Muhajir

Dalam misi perjuangan pendidikan yang diajarkan Walisongo, tampak jelas bahwa Islam bukanlah sebatas addin yang bergerak di wilayah ritual dengan mengandalkan kesalehan individual semata. Tetapi, sekaligus meliputi wilayah pendidikan keluarga, berorganisasi, bermasyarakat bahkan bernegara.

Sebab, bagaimanapun manusia adalah makhlusk sosial yang hidup di tengah-tengah manusia lain. Bagaimanapun, manusia bukanlah individu atomik yang teralienasi dari dunia benda-benda material lainnya. Setelah menjadi makhluk individual selama sembilan bulan (alam rahim), ia harus tampil ke permukaan bumi, kemudian bertindak dan berinteraksi bersama-sama manusia lainnya yang amat kompleks dan majemuk. Di dalam pendidikan Islam (dakwah), dibutuhkan perangkat komunikasi dalam ruang kehidupan yang kompleks juga. Sehingga, tak lepas dari pola dan strategi yang cerdas dan brillian dalam menyampaikan pesan-pesan kebenaran dan kebaikan.

Di sisi lain, Tuhan menghendaki agar kita menjadi sebaik-baiknya umat, yang sanggup mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran (kuntum khaira ummah). Setiap agama bertradisi Hibrani, punya misi untuk mengajak kebaikan yang bersifat revolutif, bukan sekadar evolutif. Tidak cukup manusia berbuat baik saja, tetapi juga harus mengajak orang lain di jalan kebaikan. Bahkan, tidak cukup manusia mengajak kebaikan saja, tetapi juga harus mampu mencegah keburukan (kemungkaran).

Jadi, misi pendidikan Islam tak lepas dari misi penyebaran ajaran Islam itu sendiri. Sedangkan, esensi dari penyebaran Islam adalah mengajak ke jalan kebaikan, agar manusia tidak menjadi jahat dan kriminal, egois, serakah, bahkan misoginis (pembenci manusia lain). Apalagi jika kejahatan itu dilakukan penguasa, birokrat atau aparat negara yang membenci dan memusuhi rakyatnya, jelas dia seorang misoginis juga. Bukan sekadar penderita delusi skizofrenia atau paranoid, tetapi dengan sadar ia memasuki identitas kolektif yang dilandasi ideologi rasialisme dan primordialisme.

Kemudian, dia menanamkan musuh bersama dalam narasi apokaliptik, lalu mendorong tindakan kejahatan yang dilakukan secara masif dan kolektif, seakan-akan sah dan konstitusional. Jadi, pada prinsipnya “mereka” adalah orang-orang waras, tetapi pikirannya terkungkung dalam ruang egoisme dan keakuan kolektif yang membuat mereka seakan berhak untuk menegasikan orang atau kelompok lainnya (liyan).

Itulah yang dimaksud Alquran atau Al-Kitab, mengenai orang-orang yang merasa dirinya mengadakan pembangunan, padahal sebenarnya ia tengah melakukan perusakan dan penghancuran nilai-nilai peradaban manusia.

Baca juga:  Ateis, Pagan, dan Saleh

Misi Penyebaran Islam

Misi ajaran Islam yang dikembangkan di Nusantara, sejak zaman kerajaan Mataram, telah sanggup memadukan tradisi agama dan kebudayaan lokal. Kemudian, ajaran itu didakwahkan oleh para Wlisongo dengan memanfaatkan kesenian daerah (wayang) sebagai media dakwah Islam. Di belahan dunia lain, Islam telah berkembang dengan membawa banyak perubahan, meskipun ajarannya tidak menghendaki perombakan status quo (sistem kerajaan) secara frontal, tetapi justru merehabilitasi sistem peradaban yang sedang berlaku di dalamnya.

Dalam surat Ar-Ra’d ayat 11 jelas-jelas disampaikan: “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka sendiri punya kemauan untuk mengubah dirinya sendiri.” Untuk itu, dibutuhkan sikap progresif dan revolusioner dalam mengemban misi pendidikan Islam. Di sisi lain, perlu adanya keluwesan dan kearifan dalam memperjuangkannya. Sifat dan sikap inilah yang diteladani oleh para Walisongo (terlebih di era Sunan Kalijaga) yang bertindak tegas tetapi luwes, santun, dan sama sekali tidak apriori mengharamkan kemajuan zaman (modernitas). Ia justru memadukannya dengan arah pembangunan sebagai konsekuensi khalifah yang mengeksplorasi alam secara manusiawi dan beradab.

“Bertindaklah untuk kemaslahatan dunia seakan-akan Anda bisa hidup selamanya, tetapi beramallah untuk tujuan akhirat seakan-akan Anda mati esok hari.” Inilah sabda Nabi yang mengajarkan keselarasan dan keseimbangan dalam tugas mengeksplorasi alam. Dengan itu, kita senantiasa diingatkan bahwa apa-apa yang bisa kita kerjakan oleh kekuatan otak dan kecerdasan, tentulah ada batasnya. Jika kita melakukan sesuatu yang berlebihan dan di luar batas kewajaran, maka sudah pasti (demi Allah), cepat atau lama, kita akan menanggung akibatnya. Bukankah hidup manusia, seambisius apapun, dibatasi oleh lupa, lengah, ngantuk, sakit, bahkan tanpa disadari, tahu-tahu umur sudah menua dan tak berdaya.

Kokohnya Pendidikan Islam

Dalam buku “Filsafat Hidup K.H. Rifai Arief”, saya pernah menguraikan, bahwa ajaran Islam meskipun sudah melampaui masa belasan abad, dengan beragam peristiwa dilintasi, situasi dan kondisi datang silih berganti, bahkan sains dan teknologi berkembang sedemikian pesat, namun prinsip-prinsip ajarannya tetap kokoh dan valid dalam menghadapi problematika kehidupan manusia. Tingginya kualitas peradaban Islam semakin diakui dan dikenal luas di era milenial ini. Ia seakan menjelma sebagai ideologi mutakhir yang sanggup menciptakan benteng pengamannya sendiri. Sehingga, paham dan kepercayaan apapun yang mencoba mencari-cari sistem baru yang bertentangan dengan nash-nash Islam, justru akan terlindas dan terhempas oleh ulah dirinya sendiri.

Baca juga:  Mendaras Kitab Tuhfah, Mengulik Wahdatul Wujud

Di era transformasi sosial ini, setiap ideologi ditantang untuk menghadapi kenyataan riil dan pokok, yakni bagaimana harus mengubah masyarakat dari kondisi yang ada sekarang, menuju keadaan yang lebih dekat dengan tatanan ideal yang didambakan umat manusia. Ternyata Islam, yang didakwakan Walisongo, tetap mampu menderivasikan pemikiran-pemikiran sosialnya dari dalil-dalil syar’i menuju transformasi sosial kepada tatanan yang islami. Di sini menjadi jelas, bahwa misi utama dari pergerakan Walisongo, ketika seorang muslim menyaksikan realitas sosial yang ada, maka realitas itu bukan hanya untuk dipantau dan diteliti, melainkan juga diubah dan diperjuangkan secara optimal, sebagai tugas yang ditekankan Alquran dalam amr ma’ruf dan nahi munkar tadi.

Jika kita menganalisis misi perjuangan Walisongo secara lebih mendalam, senantiasa kita mengingat pidato Bung Karno yang pernah mengutip pernyataan pemimpin besar India, Jawaharlal Nehru berikut ini: “Ketika kita hendak berjuang menegakkan keadilan dan kesejahteraan rakyat, maka yang selamanya harus diingat bahwa setiap risiko perjuangan pasti akan berhadap-hadapan dengan kekuatan musuh yang tak sudi menuruti kehendak kita sepenting apapun. Karena itu, seseorang boleh-boleh saja mengurung diri dalam kamar bersama dengan teori dan prinsip hidupnya. Tetapi, ketika menghadapi musuh yang kuat dan membangun kekuatannya sendiri, maka harus diatasi dengan menyusun kekuasaan revolusioner, yang sudah dibekali oleh prinsip yang sudah matang tadi!” (*)

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top