Sedang Membaca
Pemetik Puisi (9): Belenggu dan Maju
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Pemetik Puisi (9): Belenggu dan Maju

1773196 6b205b8c Da66 4893 8121 58264a1a0d57 760 760

Pada suatu masa, orang-orang membaca puisi-puisi gubahan Toeti Herati dan Isma Sawitri. Pada masa berbeda, terbacalah puisi-puisi persembahan Dorothea Rosa Herliany, Oka Rusmini, Hanna Fransisca, dan lain-lain. Pesona mereka berbeda. Di arus perpusian, mereka terhormat. Sekian ulasan menempatkan mereka sebagai tokoh-tokoh penting dan berpengaruh dalam perkembangan puisi. Kita ingin mengingat masa muda Toeti Heraty, penggubah puisi tapi sregep dalam mengurusi filsafat dan kerja-kerja kesenian. Ia berpuisi, digenapi penulisan esai dan buku mumpuni. Buku paling teringat tentu Aku dalam Budaya, berasal dari disertasi filsafat.  

Sosok bertanggung jawab atas pembentukan biografi akademi dan sastra. Keberanian tanpa tanding saat membuat keputusan-keputusan besar berkaitan keluarga, pekerjaan, dan kesenian. Di Indonesia, ia tampil mula-mula dengan puisi. HB Jassin dan A Teeuw lekas terpesona, disusul para pengamat tak henti-henti memberi perhatian. Pembaca penasaran dengan sikap dan perwujudan kesusastraan bisa menilik buku berjudul Pencarian Belum Selesai, fragmen autobiografi. Toeti Heraty menjelaskan: “Bila harus bicara sejujur-jujurnya, dorongan menulis sajak itu muncul terutama karena rasa spontan. Penyebabnya tidak jelas, tetapi terasa sebagau keharusan. Sesudahnya baru aku memahami bahwa memang situasi telah berubah total.” Sejak penerbitan Sajak-Sajak 33 pada 1971, orang menikmati puisi-puisi gubahan Toeti Heraty keras dan menantang. Ia bersuara isu-isu perempuan dalam pelbagai perkara.

Baca juga:  Dari Muslim tanpa Masjid Menuju Masjid tanpa Imam

Pada 1980, ia menggubah puisi berjudul “Manifesto”. Kita menemukan getaran dan gelegar. Simak: sejak saat itu – sejak Hawa jadi Bunda/ ah, sudah lama sebelumnya/ kecut hatimu menyaksikan kebesarannya/ Induk Agung, yang melejitkan turunan/ makhluk-makhluk kecil, buta, telanjang – / putus digigitnya tali pusar, dijilati, bersih/ disusukan saksama, kemudian/ dijajarkan di seantero jagad raya/ begitulah mamalia dipersiapkan/ bagi Darwin pertarungan hidupnya. Ia memasuki sejarah debat terbesar mengenai “awal” dengan kisruh acuan agama dan sains. Di kitab suci dan pengalaman beragama, ingatan atas Adam dan Hawa menguak kejadian manusia hidup di bumi, berkembang biak dan “menguasai”. Agama menjelaskan dengan ketakjuban. Semua telah tertentukan Tuhan.

Toeti Heraty mengerti perdebatan selama sekian abad itu tak rampung-rampung. Ia memberi singgungan tapi lekas melompat ke abad XX, mengisahkan nasib perempuan dalam capaian dan kerusakan dunia. Puisi memang bersifat manifesto, menantang ketetapan-ketetapan mau diubah dengan pertengkaran-argumentatif. Toeti Heraty menulis: perkara kecil membelenggu wanita dengan/ tetek bengek yang malah disyukuri olehnya/ secara serius, dungu dan syahdu – / sementara itu – karena memang kerdil, takabur/ dalam kelicikan – kau menggigil kekhawatiran/ lalu/ tanda jasa – status ayah – kau sematkan di dada/ tanpa ditunjang fakta biologis barangkali/ tidak apa, demi warisan, ego dan/ kelangsungan evolusi. Lakon perempuan abad XX terpengaruhi warisan definisi selama ribuan tahun, condong dibentuk agama dan adat untuk dihadapkan dengan sains. Perempuan dalam belenggu tapi ada jalan membuktikan maju. Deretan argumentasi disusun dalam mengubah nasib, kembali lagi menemu dalam agama mendapat tafsir-tafsir berbeda dari warisan terdahulu.

Baca juga:  Menguatnya Islam Politik atau Merosotnya Politik Sekuler?

Dilema-dilema tertanggungkan kaum perempuan saat bergerak maju mewujudkan emansipasi. Tuhan dan agama tetap berpengaruh meski gagasan-gagasan baru ingin menjauh dari dalil-dalil lama. Lantang dan menantang dalam bait-bait buatan Toeti Heraty berakhir dengan kesadaran: kalian telah kehilangan gengsi/ seperti badut yang tunggang langgang lari/ dalam bencana akhirnya panggil ibu juga/ tapi – / demi anakku laki-laki/ tuntutan aku tarik kembali/ dan jadi pengkhianat – atau – / memang karena sudah terlambat. Puisi setelah puluhan tahun Kartini membuat biografi dengan surat-surat dan mewariskan debat-debat dalam pembentukan Indonesia. Debat-debat itu tetap saja menghasilkan “kemenangan” kaum lelaki memiliki tumpukan pendasaran berakibat dilema-dilema menimpa perempuan. Begitu.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top