Sedang Membaca
Motivasi (Menjadi) Pemimpin
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Motivasi (Menjadi) Pemimpin

Ali Usman

Apa sebenarnya motivasi seseorang (hendak) menjadi pemimpin, katakanlah presiden dan wakil presiden? Demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari gaji bulanan atau lebihan uang operasional. Sepertinya bukan itu yang utama. Kenapa?

Karena umumnya mereka yang duduk di singgasana kekuasaan adalah orang-orang yang memiliki harta melimpah. Lalu apa?

Abraham Maslow mencetuskan apa yang dalam ilmu psikologi disebut teori hierarki kebutuhan manusia yang terdiri lima kebutuhan dasar.

Pertama, kebutuhan fisiologis, yang merupakan kebutuhan paling dasar pada manusia, seperti pemenuhan kebutuhan oksigen dan pertukaran gas, cairan (minuman), nutrisi (makanan), eliminasi, istirahat dan tidur, aktivitas, keseimbangan suhu tubuh, serta seksual.

Kedua, kebutuhan rasa aman dan perlindungan, yang dibagi menjadi perlindungan fisik dan perlindungan psikologis. Perlindungan fisik, meliputi perlindungan dari ancaman terhadap tubuh dan kehidupan seperti kecelakaan, penyakit, bahaya lingkungan, dan lain-lain, sedangkan perlindungan psikologis, bebas dari ancaman peristiwa atau pengalaman baru atau asing yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan seseorang.

Ketiga, kebutuhan rasa cinta, yaitu kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki, memberi dan menerima kasih sayang, kehangatan, persahabatan, dan kekeluargaan. Pada bagian ini setiap individu membutuhkan orang lain dalam dirinya, mulailah ia mengenal katakanlah lawan jenis, sehingga terjadi pernikahan, punya anak cucu, dan seterusnya.

Keempat, kebutuhan akan harga diri dan perasaan dihargai oleh orang lain serta pengakuan dari orang lain. Martabat seseorang dalam tahap ini penting diketahui dan diakui oleh orang lain. Seorang petinju kelas dunia harus siap bertanding dengan lawannya untuk membuktikan kalau ia memang petinju hebat dan layak sebagai juara.

Baca juga:  Rindu Allah

Kelima, kebutuhan aktualisasi diri, yang merupakan kebutuhan tertinggi dalam hierarki Maslow, berupa kebutuhan untuk berkontribusi pada orang lain atau lingkungan serta mencapai potensi diri sepenuhnya. Perilaku individu dalam tahap ini menjalankan fungsi kemanusiaanya, menolong orang lain tanpa balas jasa.

Dari kerangka teori pemikiran tersebut dapat dijadikan sebagai teleskop untuk meneropong, kira-kira di tahap manakah (calon) peminpin yang saat ini semakin tebar pesona agar tidak ragu memilihnya 17 April 2019. Tiga tahap pertama jelas sudah mereka lewati, dan yang paling memungkinkan dengan kondisi sekarang adalah dua tahap terakhir, antara kebutuhan akan harga diri dan aktualisasi diri.

Self transcendence Tolok ukur yang bisa dijadikan patokan adalah track record pada aktivitas jabatan-jabatan sebelumnya, respons dan penilaian lingkungan, penghargaan oleh lembaga, dan lain sebagainya. Pelacakan terhadap track record dapat memastikan bahwa presiden dan wakil presiden pilihan kita didasari oleh kapabilitas, bukan semata-mata popularitasnya.

Itulah sebabnya, pemimpin yang ideal tidaklah didasari oleh faktor agama dan etnis, tapi sepenuhnya soal kapabilitas. Seorang yang memang dikenal mempunyai track record yang bagus, tidak peduli agama dan etnisnya, bahkan tidak beragama sekalipun, dapat dikatakan lebih baik daripada orang yang taat beragama tapi kapabilitas kepemimpinannya diragukan bahkan sama sekali diketahui nyaris tidak punya pengalaman memimpin sebuah organisasi maupun lembaga pemerintahan, lalu tiba-tiba muncul mencalonkan diri sebagai seorang pemimpin.

Baca juga:  Menghampiri Kematian (4/Habis): Sumbangan Besar NDE Muslim

Seorang pemimpin bukanlah kekuasaan itu sendiri, dalam arti punya kehendak mutlak dan otoriter, tapi seperti sebuah ungkapan Arab yang mengatakan, sayyidul qoumi khodimuhum (pemimpin sebuah masyarakat adalah pelayan bagi rakyatnya).

Bertolak dari hakikat kepemimpinan ini, maka pemimpin yang efektif dan ideal, adalah pemimpin yang inspiring dalam arti mencerahkan dan menggerakkan orang lain mencapai kemajuan dan kemuliaan. Motivasi menjadi seorang pemimpin (eksekutif, legislatif, maupun yudikatif) dalam Islam erat kaitannya dengan aspek spiritual, sebagai khalifah fil ard.

Baca Juga

Itulah sebabnya, Stephen R. Covey dalam bukunya First Think First (1997), menyebutkan bahwa Maslow di tahun-tahun terakhir, merevisi teorinya tersebut. Maslow mengakui bahwa kebutuhan untuk mengaktualisasi diri bukan kebutuhan tertinggi, tapi kebutuhan tertinggi adalah self transcendence.

Singkatnya, jabatan apapun menuntut seseorang agar amanah, sehingga benar-benar pertanggungjawabannya itu tidak hanya kepada rakyat, tetapi juga di hadapan Tuhan. Tentang persoalan ini, menarik apa yang diungkapkan oleh presiden pertama RI Soekarno di depan Kongres Rakyat Jawa Timur pada tanggal 24 September 1955 di Surabaya.

Soekarno dalam pidato itu menyampaikan makna perjuangannya dengan ikut terlibat dalam merebut kemerdekaan dari tangan kaum penjajah, sehingga tegak berdiri negara Indonesia.

“Saudara-saudara, jikalau akau meninggal nanti, ini hanya Tuhan yang mengetahui, dan tidak bisa dielakkan semua orang, jikalau ditanya oleh malaikat, Hai Soekarno, tatkala engkau bidup di dunia, engkau telah mengerjakan beberapa pekerjaan. Pekerjaan yang paling engkau cintai? Pekerjaan apa yang paling engkau kagumi? Pekerjaan apa yang paling engkau ucapkan syukur kepada Allah Swt. moga-moga, saudara-sadara, aku bisa menjawab—ya, bisa menjawab demikian atau tidaknya itu pun tergantung daripada Allah Swt, Tatkala aku hidup di dunia ini, aku telah ikut membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Aku telah ikut membentuk satu wadah bagi masyarakat Indonesia”.

Baca juga:  Di Manakah Nabi Khidr As Berada?

Karena itulah, kepemimpinan yang efektif dan mencerahkan, perlu ditunjukkan paling tidak dalam tiga hal, yaitu pelayanan (khadamat), kedekatan dan komunikasi alias keterhubungan dan ketersambungan dengan kepentingan rakyat (al-tabligh wa al-bayan), dan keteladanan (qudwah hasanah).

Jadi, ibarat rumah tangga, rakyatlah sebagai majikan, sedangkan mereka para wakil rakyat itu (dan termasuk presiden dan wakilnya) adalah pembantu. Tetapi beranikah kita memecat para pembantu itu—layaknya relasi majikan dan pembantu dalam rumah tangga—jika pekerjaannya nanti tidak becus?

Lihat Komentar (0)

Komentari