Sedang Membaca
Warisan Mbah Lim: Mendoakan NKRI Pancasila Setiap Selesai Iqamah

Pengajar di Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti, Klaten, Jawa Tengah

Warisan Mbah Lim: Mendoakan NKRI Pancasila Setiap Selesai Iqamah

Untuk Anda yang mengaku cinta NKRI, yang mendaku siap membela NKRI, atau yang sering teriak-teriak NKRI, pertanyaan saya, sudah berapa kalikah Anda pernah mendoakan NKRI?

Kita sering berdoa untuk kebaikan diri kita, anak-anak dan keluarga kita. Kadang-kadang, kalau ingat, juga berdoa untuk jamaah dan anak didik kita. Tapi berdoa untuk kebaikan NKRI? Sepertinya jarang, kalau tidak mau dikatakan belum pernah. Paling-paling mengaminkan doanya khatib Jumat baik hati, yang masih mau berdoa untuk negara ini di sela-sela doa khutbahnya.

Padahal negara ini adalah keluarga kita juga, tepatnya keluarga besar, yang berisi jutaan keluarga kecil berupa rumah tangga kita. Karena itu, jika kita kerap berdoa untuk kebaikan keluarga kecil kita, mestinya kita juga sering berdoa untuk keluarga besar kita, NKRI.

Mbah Lim, panggilan akrab KH. Muslim Rifa’i Imampura Klaten, pencetus slogan NKRI Harga Mati, mengajarkan kepada kita untuk terus mencintai NKRI, dan di antraa caranya adalah dengan mendoakannya. Dalam amalan Mbah Lim, doa untuk NKRI ini terletak di antara iqamah dan shalat fardhu.

Maka jika Anda datang ke Masjid Jami’ Al-Muttaqien, Sumberejo Wangi, Troso, Karanganom, Klaten, dan bertepatan dengan pelaksanaan jamaah shalat fardhu, maka Anda akan mendapati seseorang yang mendaras doa NKRI ini persis sebelum sang imam bertakbiratul ihram.

Doa itu berbunyi: 

سبحانك اللهم وبحمدك تبارك اسمك وتعالى جدك لا اله غيرك

Duh Gusti Allah Pengeran kula, kula sedaya mbenjing akhir dewasa, dadosno lare ingkang shaleh/shalehah, maslahat, manfaat dunya akhirat, bekti wong tua, negara, agama, bangsa, maedahi tangga, bisa nggawa beciking desa. Saha Negara Kesatuan Republik Indonesia Pancasila aman, makmur, damai. Sedaya pengacau agama lan para koruptor kaparingan sadar, sadar, sadar! Sumberejo Wangi berkah, makmuman Mekah, Allahumma amin.”

Artinya: Ya Allah, Tuhan kami, kami semua nanti di akhir dewasa jadikanlah anak yang shaleh/shalehah, maslahat, manfaat dunia akhirat, berbakti kepada orang tua, negara, agama, bangsa, berfaedah ke tetangga, bisa membawa kebaikan desa. Serta Negara Kesatuan Republik Indonesia Pancasila semoga selalu aman makmur damai. Semua pengacau agama dan koruptor diberikan sadar, sadar, sadar! Semoga Sumberejo Wangi berkah, makmum ke Mekah, Allahumma amin.

Doa ini, setidaknya, mengandung dua harapan, yaitu harapan untuk kebaikan pribadi dan kebaikan bersama. Kebaikan pribadi, baik di dunia maupun akhirat, terangkum dalam kalimat shaleh, maslahat dunya akhirat, bekti wong tuwo, negara, agama, bangsa, maedahi tangga, bisa nggawa beciking desa. Sedangkan kebaikan bersama, baik lokal maupun nasional, terangkum dalam kalimat Sumberejo Wangi berkah makmuman Mekah, Negara Kesatuan Republik Indonesia Pancasila aman makmur damai, sedaya pengacau agama lan para koruptor sadar, sadar, sadar.

Kalau kita renungkan, betapa indahnya doa ini. Mbah Lim, berserta para jamaahnya, yang meskipun berada di pelosok Klaten, namun memiliki kesadaran dan rasa nasionalisme yang begitu tinggi. Mereka tidak hanya mendoakan kebaikan diri dan keluarga mereka sendiri, tetapi juga mendoakan desa, negara, bangsa, dan agamanya. Dan secara khusus NKRI Pancasila agar selalu aman, makmur, dan damai. Bahkan para koruptor pun ikut didoakan agar segera sadar. 

Doa seperti ini tidak akan muncul kecuali dari orang yang rasa cinta terhadap agama dan bangsanya benar-benar telah mendarah daging. Doa ini tidak akan muncul kecuali dari orang yang menganggap tanah air sebagai rumah besarnya, yang apabila rumah ini roboh, maka bencana akan menimpa semua anggota keluarga dan dirinya juga.

Di Al-Muttaqien Pancasila Sakti, doa ini terus dilangitkan, minimal lima kali dalam sehari. Sungguh luar biasa. Lantas bagaimana hukum berdoa seperti ini? Kalau Anda termasuk orang yang sedikit-sedikit bid’ah, maka doa ini bisa jadi bid’ah murakkab. Untuk dalil, sebenarnya ada beberapa haditsnya Kanjeng Nabi yang menganjurkan untuk berdoa antara iqamah dan shalat. Namun kalau malas mencari, gunakan saja dalil cangkem elek-nya Gus Baha’.

Baca juga:  Kiai Amanullah Tambakberas dan Suara "Tuhan"
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top