Sedang Membaca
Kenapa Kuda Berkelamin Besar?
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Kenapa Kuda Berkelamin Besar?

Achmad Munjid

Sebelum banjir bandang terjadi pada jaman dulu kala, demi menyelamatkan spesies bermacam-macam binatang, Nabi Nuh mendapat perintah untuk memuat setiap jenis binatang ke kapalnya. Tapi masing-masing dibatasi hanya boleh sepasang saja. Tak bisa lebih.

Supaya mereka tidak berkembang biak dan memperberat beban kapal, yang tentu akan membahayakan keselamatan seluruh penumpang lainnya, setiap pejantan dari masing-masing binatang itu diminta untuk meletakkan alat kelaminnya di salah satu sudut geladak yang dijaga ketat. Mereka hanya boleh mengambil dan memakai kembali alat kelamin itu ketika kelak banjir sudah surut dan semua bisa kembali ke daratan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dengan berat hati, demi kemaslahatan bersama, akhirnya semua setuju. Daripada hanyut terbawa banjir dan tenggelam, tak mengapa mereka menunda kebutuhan biologis untuk sementara waktu. Semua alat kelamin itu pun disimpan serapi-rapinya.

Lama para binatang itu menunggu banjir reda. Kadang timbul ketegangan, tapi semua akhirnya dipaksa berpikir rasional.

Ketika banjir bandang berangsur surut, bukan kepalang suka ria mereka. Sebelum berpikir yang lain-lain, yang mereka tuntut pertama kali adalah pengembalian alat-alat kelamin itu. Apa lagi?

Petugas gudang penyimpanan kelamin akhirnya tidak kuasa menghentikan tuntutan para binatang yang makin lama makin tak terkontrol ketika air makin terlihat turun dan daratan sudah dekat. Penjaga itu tidak punya waktu lagi untuk mendistribusikan alat kelamin itu sebagaimana mestinya. Ia hanya membuka pintu dan langsung lari menghindar dari terjangan para binatang yang seperti kesurupan.

Jelas, kuda lari paling cepat. Maka ia mendapat yang paling besar. Setelah memasang kembali alat kelamin yang diambilnya, ia pun berlari sekencang-kencangnya untuk menemui kuda betina yang sudah sekian lama merindukannya. Ia sangat beruntung!

Binatang lain, tergantung kecepatan larinya, segera datang menyusul dan mengambil alat kelamin yang ada. Setelah terpasang, masing-masing pun langsung lari menemui betinanya. Suasana tunggang-langgang tak menentu.

Akhirnya, karena jalannya pelan, menthok hanya mendapatkan alat kelamin yang terakhir. Yang tersisa itu pun sudah terinjak-injak binatang lain dan bentuknya sudah gak karuan. Nggak apa-apa, tokh masih mendapatkannya dan masih berfungsi.

Yang paling kasihan adalah semut. Karena badannya paling kecil dan jalannya juga lambat, ia datang terakhir dan sudah tak ada apa-apa yang tersisa.

Itulah sebabnya, sampai hari ini, setiap dua semut saling berpapasan mereka saling beradu kepala sambil bertanya

“Gimana, sudah ketemu belum?”
“Belum”
“Sudah menghadap Nabi Nuh belum?”
“Belum”
“Kita segera menemui beliau ya?”
“Siap, Presiden!”

Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top